Masakanku ...
Khusus hari ini aku membuat masakan spesial kesukaan Mas Haris dan  ayah mertua yang baik. Rendang dan sup kikil terhidang lezat di meja, menguarkan aroma yang menggugah selera sekaligus membuat lapar.

Tak lupa apa kau hidangkan capcay dan salad buah sebagai pelengkap makan malam keluarga kami, berharap bahwa Mas Haris akan menikmati makanannya dan terkenang pada semua masakan-masakanku,  sehingga dia tidak pernah lupa bahwa aku masih di rumah ini untuk melayaninya.

Semua makanan sudah siap, namun aku tak melihat seorang pun berada di ruang keluarga, padahal biasanya di jam-jam seperti ini mereka berkumpul menonton TV dan menikmati teh, sambil berdiskusi tentang banyak hal.

"Kemana mereka?" tanyaku dalam hati.

"Bu ... Makanannya sudah siap," panggilku.


"Bentar lagi, Ibu lagi ngerokin Ayahmu," jawab Ibu dari kamarnya.

"Baiklah."

Sambil menunggu semua anggota keluarga aku kemudian menuju ke kamar dan melihat apa yang sedang dilakukan anakku ternyata mereka asyik bermain boneka dan rumah-rumahan.

"Kalian mau makan tidak?" Tawarku kepada Nayla dan Naina.

"Iya, Bu." Mereka menjawab serempak.

"Baik, ibu akan ambilkan nasi gan suapi kalian ya," ucapku sambil tersenyum dan menuju ke dapur lalu mengambilkan makanan untuk kedua anakku.

sekembali dari dapur aku mulai menyuapi anak dan menemani mereka bermain sambil berbincang-bincang ringan, mendengar celoteh dan gaya bermain anakku ada hiburan tersendiri yang membuatku kuat menjalani semua ini.

"Mereka sangat lucu dan pintar, semoga Tuhan menjaga kedua anakku," bisikku berdoa dalam hati sambil menyuapi mereka.

Kulirik jam dinding yang menggantung dimana waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam, Mas Haris belum juga kembali dari luar setelah tadi sempat meminta izin pergi ke toko untuk membeli raket tenis yang baru untuk ayah mertua.

"Ah, nanti juga kedengaran suaranya, kalau Mas Haris pulang maka aku akan langsung memyuruhnya makan" batinku sambil melepas lelah di dekat mereka.

Beberapa saat mungkin aku tertidur karena sangat lelah dari pagi bekerja mengurus seluruh isi rumah.  Tanpa sadar aku terlelap, dan terbangun  kembali karena mendengar suara mertua dan istri baru Mas Haris sedang berbicara di dekat meja makan yang tidak jauh dari kamarku dan kedua anakku, sehingga lamat-lamat  aku bisa mendengar percakapan rahasia mereka.

"Kamu udah ketemu Harris?"

"Belum Ma, Mas Haris lama banget padahal dia belum makan malam," jawab gadis itu.

"Semua adalah makanan kesukaan haris, kalau dia pulang kamu bilang aja kalau kamu yang masaknya jadi kamu bisa mengambil hati Harris," ujar Ibu.

"Oh, memangnya boleh bu gimana kalau ketahuan sama Mbak Laila?"

"Dia nggak bakal tahu kalau nggak dikasih tahu, jadi kamu harus pintar mengambil kesempatan untuk memenangkan hati Haris," ujar Ibu.

Aku  sejak tadi semakin penasaran sehingga bangkit dan menempelkan telinga di balik pintu kamarku. 

"Dasar licik!" 

"Terus aku ngasih taunya gimana nanti Bu?"

"Ketika Haris pulang dan  berdua saja dengan kamu bisiki aja, kalo kamu menyiapkan semua makanan itu dan belajar dari ibu?"

"Memangnya Mbak Laila belajarnya dari ibu?"

"Ya iya dong dari mana saya lagi kalau bukan dari Ibu."

Ya ampun percaya diri sekali Ibu mengatakan semua itu, padahal aku belajar semua masakan itu dari internet dan mempraktekkannya di rumah, dan bagusnya seluruh keluarga menyukai sehingga masakanku menjadi makanan favorit seluruh penghuni rumah.

"Baiklah, kalau itu rencanamu," gumamku.

*

Maka setelah mereka berdua menjauh ke arah teras depan sambil berbincang-bincang santai aku segera ke dapur dan beraksi melakukan sesuatu.

"Karena semua makanan yang telah kubuat susah payah ini, akan diakui Adelia sebagai masakannya, maka aku akan memberikan sentuhan  dan ciri khas pada hidangan lezat di meja."

Aku membuka semua pintu kabinet mencari sesuatu lalu membuka kulkas dan menemukan sebuah bungkusan yang akan menjadi kejutan yang sangat bagus untuk adik Maluku yang cari muka dan licik itu.

*

Suara mobil Mas Haris terdengar dari depan, ketika aku hendak menyambutnya, wanita nekat itu segera berlari mendahuluiku dan menyambut Mas Haris dengan bergelayut manja di lengannya.

Dasar tidak tahu malu!

 Dari balik kaca jendela aku bisa melihat dia membisikkan sesuatu yang langsung menerbitkan senyum suamiku. Yang pasti dia sedang mengatakan bahwa sudah menyiapkan makanan spesial untuk suaminya.

Menjengkelkan!

"Mas, buku dan krayon baru untuk Nayla dan Naina sudah Mas beli?"
mereka yang berjalan santai melewati ku langsung terhenti dan matahari terlihat gugup dengan gerak cepat ia melepaskan cekalan tangan Adelia yang mencekal kuat lengannya.

"Oh, a-aku lupa, Maaf," ujarnya semakin salah tingkah. Aku tahu dibalik sikapnya itu, dia merasa malu karena bermesra-mesraan  di depanku  ditambah lagi dia lupa memenuhi pesanan kami.

"Kamu sudah merupakan perhatian dan tanggung jawab terhadap kami, mentang-mentang kau menikmati bulan madu, Mas."

"Bu-bukan begitu," jawabnya sambil menghampiriku dan menarik tangan ini masuk ke dalam kamar.

iya berusaha menjelaskan dengan berbagai dalih dan alasan sementara aku yang mendengarnya hanya melipat tangan di dada sambil memutar bola mata.

"Sudahlah, percuma Mas jelaskan, sebaiknya pergilah ke meja makan dan menikmati makanan spesial yang telah disiapkan susah payah oleh istri barumu," ujarku ketus sambil membalikkan badan.

"Kok jadi merajuk sih?" 

"Hei, Mas, aku telah merestui pernikahanmu aku masih bertahan di rumah ini meski di hari pertama aku telah dilempar ke dalam gudang, aku juga masih setia melayanimu dan penghuni rumah ini, kurang apa lagi?"

Mas Haris tidak mampu menjawab ucapanku, tatapan matanya lekat dan ia terlihat berkali-kali menelan ludah mencoba untuk ... entahlah mungkin minta maaf, namun terlampau malu terhadapku sehingga dia hanya keluar dari dalam kamar sambil menunduk lesu.

"Dasar ...." Jika tidak demi kedua anakku aku akan berlari mencari kebebasan dan kebahagiaan di sudut bumi mana saja sayangnya Nayla dan Nayla selalu bermimpi bahwa kami adalah keluarga yang bahagia selamanya.

*

"Lailaaaaa ... Ayo makan," panggil Ibu mertua.

"Iya Bu,Ibu makanlah dulu karena aku sedang membantu Nayla mengerjakan pr-nya," jawabku.

"Kan bisa nanti," sanggah Ayah Mertua.

"Nanggung ayah, karena 10 menit lagi, tugas ini akan diserahkan secara online."

"Baiklah kalo begitu," jawab Ibu.

*

mereka terdengar bercengkrama sambil memuji tampilan makanan yang terlihat menggugah selera.

"Wah, sepertinya lezat," ujar Mas Haris.

"Enggak nyangka menantu baru juga sangat pandai memasak meski usianya masih muda dan sibuk mengurus bisnis keluarga," tambah ayah.

Jiah, aku mau muntah.
Ingin rasanya aku labrak mereka tapi biarkan saja mereka menikmati kejutannya.

Tak lama kemudian kudengar suara batuk-batuk dari meja makan, sebagian yang lain mual-mual terdengar ingin muntah lalu suara langkah kaki berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.

"Kamu naruh apa sih dalam makanan?" Tanya Mas Haris dengan nada tidak suka kepada wanita sok centil  yang duduk di sebelahnya.

"Ak-aku hanya masak seperti biasa?"

"Kamu bisa masak nggak sih, coba cicipi ini?". ujar Mas Haris pelan sambil menyodorkan piringnya.

"Cobain deh, biar kamu tahu kenapa semua orang bisa muntah."

Dan benar saja ketika dia mencicipinya wanita itu tak kuasa menahan rasa mual dan langsung berlari ke kamar mandi.

Ia kembali 5 menit kemudian dengan kondisi wajah yang pucat dan sudah dicuci, aku menghampiri dengan langkah santai ke meja makan, sambil berdiri santai bersedekap dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Adelia Aku ingin bertanya, apakah ini sungguh masakan yang kau buat?"

Wanita itu terlihat gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa, sedang Mas Haris seolah menangkap apa yang aku maksudkan, ia meminta maaf dengan isyarat kedua tangan yang ia tangkupkan di dada.


Hmm, bubuk merica putih, jahe  dan pupuk cabe merah  yang  kutambahkan dalam jumlah banyak, dan  saat ini kusimpan di kantong, sangat membantu niatku memberi pelajaran mempermalukan madu baruku itu.

Rasakan!