sakit hati sekali.
Gadis itu menyeret langkahnya pelan mencoba mendekatiku aku yang meliriknya dengan ekor mata acuh tak acuh saja dengan kedatangannya, lebih memilih untuk mengurus bunga dan tanaman ibu mertua

"Mbak boleh aku bicara denganmu," ucapnya memulai percakapan.

"Kenapa?!"

"Mbak boleh aku bicara , tapi ... kali ini lebih pribadi," ucapnya memulai percakapan.


"Apa yang kau inginkan berbicara denganku?" tanyaku sambil mendelik ke arahnya.

"Aku hanya ingin kita berdamai dan bersikap seperti saudara." Ia menggenggam tangannya satu sama lain.

"Bersikap seperti saudara?" tanyaku sambil
tertawa getir.

"Aku hanya ingin hubungan kita baik dan tidak saling memusuhi Mbak,"  ujarnya sambil menelan ludah.

"Bagaimana, kau ingin aku bersikap baik sementara aku tidak pernah menginginkan kedatanganmu di dalam rumah tanggaku," jawabku sambil membuang daun daun kuning yang merusak pemandangan.

Binar mata wanita itu. menunjukkan sebuah kesedihan dan dia tahu bahwa dia akan gagal membujukku untuk berdamai dengannya.

"Apakah kita akan terus-menerus seperti ini ?" tanyanya pelan.

"Lantas apa yang kau harapkan?" ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.

"Seperti tadi, yang aku katakan bahwa aku ingin kita kompak mengurus Mas Haris dan ibu mertua," jawabnya dengan mudahnya.

"Uruslah suami dan mertuamu, aku akan mengatur hidupku sendiri, kau tidak perlu mengkhawatirkanku," ucapku sambil meraih selang dan menyalakan keran.

"Apa Mbak Laila tidak menerima gagasan itu?"

"Menjauh dariku, sebelum aku benar-benar marah!" 

"Mengapa Mbak begitu bengis terhadapku!"

"Karena kau merebut suamiku!" teriakku.

"Tapi aku dijodohkan orang tua dengan Mas Haris Mbak, bukan aku yang mau," jawanya mencicit.

"Hah, kau dijodohkan dan kau mau? Hahaha, pergi sana, karena aku tidak pernah menyukaimu, jangan pernah mencoba untuk mendekati atau mengajakku bicara lagi karena aku tak menyukainya!"

Wanita  itu menjauh sambil menyeka sudut matanya pergi ke arah depan rumah dan
kabetulan Mas Haris sedang memakirkan mobilnya.

Ia terlihat berbicara kepada suaminya tapi aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan.tak lama kemudian Mas Haris datang dan menghampiriku sambil menyentuh bahuku.

"Laila Aku ingin bicara padamu," ungkapnya pelan.

"Silakan saja mas," ujarku cuek.

"Aku harap kamu jangan terlalu keras kepada Adelia." Nada bicaranya ia rendahkan.

"Kenapa? Kau takut istrimu akan sedih?"

"Kamu juga istriku, Laila ...."

"Maka kau harus bersikap adil, dan jangan berat sebelah Mas."

"Aku tidak ingin kalian saling membenci," jawabnya.

"Kondisikan keadaannya kalo begitu, atau ... Andai kamu yang dipoligami, apa yang akan kamu lakukan, bertahan atau lari?"

"A-aku ...."

Sepertinya dia kehilangan kata-kata, meski tatapan matanya masih lekat di mataku.

"Masuklah ke dalam karena aku masih sibuk, " suruhku, dan tanpa menjawab lagi, ia segera masuk ke dalam rumah.

*
Seusai menyiram tanaman, aku beringsut ke dalam dan mengajak kedua anakku untuk mandi, setelahnya aku kembali ke dapur jntuk menyiapkan makan malam.

"Ibu dengar, kamu bertengkar dengan Adelia," ujar ibu saat mendatangiku.

Wow, cepat sekali akses informasi rumah ini.

"Ibu tahu dari mana?"

"Aku ... Anu...."

"Apakah Adelia memberitahu kalo aku bertengkar dengannya, ya ampun ...." Aku membalikkan badan lalu melanjutkan
mencuci piring.

"Jangan seperti itu, Nak," bujuknya. Dan baru kali ini dia mengatakan 'Nak' padaku.

"Ibu ... Ibu pernah dipoligami?"

"Tidak."

"Kalo pernah aku ingin minta wejangan dan kiata agar bertahan dipoligami, tips agar kuat menghadapi orang orang yang pilih kasih," jawabku.

"Eh, kamu, kok kamu jadi kurang ajar sih, Laila?" Nada bicaranya sedikit ketus dan sinis.

"Ibu ingin aku akur, sementara ibu tahu sendiri jika suami beristri lagi sakitnya luar biasa."

"Jangan terlalu didramatisir," sambungnya.

"Ibupun jangan main drama, aku kan tidak bertengkar dengannya, wanita itu saja yang cengeng dan suka cari muka," jawabku.

"Tapi ... Ibu melihat dia menangis," jawab ibu.

"Apa ibu hanya menimbang air mata dia saja? Bagaimana dengan air mataku ketika hari pernikahan Mad Haris."


Kini ia hanya mendelik sedikit lalu menjauhiku dan pergi entah kemana. Seusai masak aku segera mengatur piring di meja dan menghidangkannya.

Tak lupa kutulis sebuah pesan di kertas karton besar bahwa itu adalah 'Masakan Laila' dan kuletakkan di tengah meja, aku muak ada orang yang mengakui hasil masakanku sebagai masakannya.

"Kenapa harus ditulis begitu?" tanya Bapak mertua ketika ia melewati ruang makan.

"Hanya ingin tulis saja, jadi orang tahu kalo ini masakanku, Ayah," jawabku.

"Memangnya selama ini ada yang lain masak di sini?"

"Ada ibu, aku, dan Adelia, kami semua bertugas di dapur," jawabku sambil menjauhi meja, terlihat dari pantulan kaca lemari ayah mertua menggaruk kepalanya tanda tak habis pikir.

**

Ketika jam makan malam, aku masih sakit hati pada mereka semua sehingga ketika ibu mertua menyuruhku untuk memanggil semua oabg aku cemberut saja dan memanggil mereka.

Ketika mulai makan dan un akuntisak bergabung, aku memilih duduk di dapur bersama kedua anakku.

"Kamu gak makan sama kami?"

"Ga usah, nanti ada yang alergi," jawabku ketus.

"Tapi gak biasanya begini," jawabnya agak ragu


"Kalo begitu biasakan begini! Biar terbiasa, di meja makan sana ada pemandangan indah istri Sholehah, ngapain di dapur sini dengan gembel busuk sepertiku," ujarku sarkas.

"Tapi aku tak menganggapmu begitu,"  jawabnya  pelan.

"Masa bodoh! Menjauhlah, aku sedang makan dan tidak mau diganggu siapapun!"

Dengan meneguk saliva dan menggeleng pelan, Mas Haris menjauhiku. Ia kembali ke kursinya dan melanjutkan makan.
Mereka yang makan  di meja makan terdengar hening dan itu aneh karena biasanya meja makan selalu ramai, penuh dengan canda dan cerita.

"Seusai makan aku langsung ke kamar belakang, kamar yang telah disulap yang sebelumnya adalah gudang. Biasanya aku akan menunggu mereka selesai makan, baru akan membereskan meja lalu mencuci piring kemudian beristirahat. Namun, kali ini, aku hanya meninggalnya begitu saja.

Aku ingin tahu apa istri Mas Haris peka dengan tugas rumah atau tidak. Aku tahu ketika aku melenggang ke kamar mereka semua melihat dan membicarakanku, hatiku memang terluka tapi aku menelan saja pahit getir semua takdir ini.

Tok ... Tok ...


Pintu diketuk ketika aku hampir saja memejamkan mata. Mas Haris muncul dari balik pintu dan duduk di sisi pembaringanku.

"Laila ... Maafkan aku ya," ujarnya pelan sambil menyentuh punggung tanganku.

"Untuk apa kamu minta maaf, apa kamu merasa setelah minta maaf semua akan baik-baik saja?"

"Tidak." Ia menunduk pelan.

"Pergilah aku mau istirahat, kebetulan juga anak anak sudah tidur," jawabku.

"Laila ... Aku ingin kau kembali seperti semula, menjadi istri yang baik dan perhatian" ujarnya pelan.

"Kalo begitu, kembalikan keadaan kondusif seperti dulu, jangan bawa istri baru!"

"Maafkan aku ...."

Aku hanya menghela napas sambik membalikan badan.

"Aku tahu kau terluka ...."

"Lantas ... Apa yang bisa kamu lakukan untuk menyembuhkan luka? Kalo kamu sekeluarga terus merasik dan membuatku tidak nyaman, maaf aku minta cerai saja!"

"Memangnya setelah cerai semuanya akan baik baik saja?"

"Kau pikir bumi Allah itu sempit, kamu pikir aku tidak bisa hidup tanpa kamu?!" 
Ingin rasanya aku berkata kasar dan mengumpatnya.


Ia tak menjawab, seperti ibunya ia hanya pergi dan kembali menutup pintu kamar lagi.

Next.