pakaian suamiku
"Laila kamu lihat pakaianku, nggak?" tanya Mas Haris.

"Coba lihat di ruang setrika, mungkin kelupaan ditambah aku belum sempat kemarin karena sibuk ngurusin anak-anak jawabku dari dapu

"Tidak ada, Bund,"  teriak Mas Haris dari tempat menyetrika.

"Loh, bukannya aku sudah mencucinya kemarin, Mas? apakah tidak ada yang mengangkatnya aku menjemput anak-anak ke tempat mengaji?" tanyaku heran sekaligus cemas kalau-kalau masih basah di jemuran.

"Aku melihat  Mbak Adelia mengangkat jemuran kemarin sore ketika hari hujan," ungkap Rini menimpali percakapan kami.

"Oh,  kalau gitu coba tanya Adelia Mas," saranku.

Mas Haris langsung menuju ke lantai atas untuk mencari istri mudanya dan bertanya di mana kemeja yang biasa dikenakan di hari Jumat.

"Katanya nggak tahu." Ia turun dari lantai dua dan menemuiku dengan wajah kebingungan.

"Nggak mungkin Mas, orang jelas-jelas aku yang nyucinya kemarin."

Mas Haris mulai gusar karena matahari sudah tinggi,  sementara dia belum menemukan pakaian kerjanya.

"Kemana sih pakaian kerjaku?" sungutnya sambil mondar-mandir mencari dan menuju halaman belakang.

Aku kemudian mengecilkan api kompor lalu menyusul Mas Haris ke sana.
Alangkah terkejutnya diri ini  ketika melihat tumpukan pakaian yang ditinggal begitu saja  di atas kursi bekas dekat kandang burung milik mertuaku.

Tentu saja pakaian-pakaian itu kotor kembali karena dihinggapi oleh kaki ayam yang kotor dan dipenuhi kotoran burung.

"Astaghfirullahaladzim ... seragamku ...."
Mas Haris mengangkat pakaiannya dengan ujung jarinya, sedang aku terbelalak melihat pemandangan itu, karena pakaian sudah suamiku sudah sangat lusuh dan kotor, disana tertempel banyak bulu dan kotoran, yang aku yakin berasal dari kucing liar yang telah menidurinya semalam.

"Gimana ini Laila, hari ini aku harus mengenakan baju ini dan sialnya tidak ada lagi baju lain selain ini," gumam Mas Haris.

"Oh, ya ampun ... Mas."

"Adeliaaaa ...." Kelihatannya Mas harus tidak mampu menahan kesabarannya lagi.

 Wanita yang dipanggil suamiku terlihat tergopoh-gopoh turun dari lantai 2 dan langsung menemui suamiku dengan wajah yang dibuat seimut dan sepolos mungkin.

"Ada apa Mas?"

"Lihat ini,apa yang harus aku lakukan sekarang karena pakaian ini sangat kotor, kamu 'kan yang mengangkatnya?"selidik Mas Haris.

"Ak-aku ... memang mengangkatnya namun karena mencium bau makanan gosong di dapur aku tidak sengaja meletakkan di situ dengan niat akan mengambilnya kembali namun aku ... lupa ...." Nada bicaranya ia buat serendah mungkin agar tidak memancing emosi suaminya.

"Kemarin sebelum menjemput bocah aku sudah selesai memasak, emangnya kamu masak apa lagi?" Cecarku yang sukses membuat mata gadis itu berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi manja dan cari perhatian mertua.

"Kamu mestinya lebih hati-hati dong ya, kamu harus ingat apa yang menjadi tugas dan kewajibanmu. Mengurusiku bukan tugas Laila saja tapi tugasmu juga, jika sudah begini apa yang harus aku lakukan?" Mas Haris merendahkan intonasi suaranya demi istri baru yang terlihat mulai menangis.

"Harris ... Dia kan pengantin baru di rumah ini jangan terlalu menekan dan keras kepadanya," timpal ibu yang datang menyusul kami.

"Bukan begitu Bu, kalau kayak gini aku gimana mau pergi kerjanya?"

"Pakai baju yang mana aja dulu," jawab Ibu santai.

"Bukannya punya istri malah semakin terus malah keadaanku semakin kacau Bu, teman-teman akan menertawakan kekonyolan ini," ujar Mas Haris.

Aku hanya memutar bola matanya,  malas mendengar curhatan dan sikap manja Mas Haris. Dia  tidak pernah lepas dari ketiak ibunya, segala sesuatu harus mengadu dan mengadu,  membuatku muak dengan suami sendiri.

"Ya udah, sini! biar aku yang cucikan dan setrikakan sekarang juga." aku mengambil pakaian itu dari tangan Mas haris kemudian langsung menuju ke zink untuk mencuci pakaian tersebut.

Setelah menyikatnya beberapa saat, aku kemudian memasukkannya ke pengering mesin cuci, lalu segera menyetrikakannya sementara Mas Haris menikmati sarapannya.

"Ini pakaiannya Mas," kataku sambil menyerahkan baju yang sudah rapi itu ke depan Mas Haris. Wanita uang

"Adelia, kamu harus belajar dari kejadian hari ini ya, mulai besok kalian harus mengatur jadwal untuk menyiapkan pakaianku dan mengurusi makananku,".perintah Mas Haris.

Entah mengapa sikap tegas yang dia buat buat itu terlihat seperti bukan dirinya, aku seolah-olah melihat seorang raja minyak yang tengah bersikap sombong terhadap wanita-wanita koleksinya. Hal itu membuatku semakin merasa sebal terhadap ayah dari Nayla dan Naina.

Tak tahan mendengar semua drama sok bijak itu aku akhirnya menjadi pergi dan melanjutkan kegiatan memasak di dapur.

"Sudah Haris, biar ibu yang akan membimbing Adelia untuk menjadi istri terbaik buat kamu," ucap ibu dengan lembut sambil merayu anak lelakinya itu.

"Iya Bu aku hanya ingin wanita yang aku nikahi tidak kalah utamanya dari Laila,alangkah malunya jika aku menikahi wanita baru sementara dia sendiri tidak lebih unggul dari istri pertamaku."

Hatiku sedih dan sakit mendengarnya.

"Haris ... ngomong apa sih kamu?" Ibu terlihat sebal sedang aku terkikik geli melihatnya dari dapur.

"Jadi suami itu jangan pernah membanding-bandingkan istri," ujar Ibu sambil mengelus-ngelus pundak Adelia dengan maksud ingin memberi kekuatan kepada menantu barunya.

Jiah, palsu! Aku yakin semua kebaikan ibu ditengarai oleh harta dan kekayaan orang tua dari gadis itu.

"Baik, aku sudah selesai," kata Mas Haris sambil menyudahi makannya.

Mas haris lalu meraih tas kerjanya dan bersiap meninggalkan rumah.

"Biar ku bawakan Mas tasnya," tawar Adelia.

"Nggak usah biar aku saja!" Mas Haris dengan tatapan dingin.

"M-maaf ya Mas lain kali aku tidak akan teledor seperti tadi," ucap gadis itu terbata-bata.

"Sekaligus belajarlah memasak dan cara menghandle laundry jangan sampai kamu menumpahkan pemutih di pakaian berwarna," ucap Mas Haris ketus.

"Iya Mas," jawab gadis itu sambil mencium punggung tangan suaminya.

selepas kepergian Mas Haris mertua langsung mendatangi dan memeluknya sambil memilikinya sesuatu lalu mengantar gadis itu ke kamarnya.

Wanita manja seperti itu, ingin rasanya kupecahi kepalanya dengan panci presto.