menyebalkan


**

Argumenku barusan membuat  ibu mertua seketika emosi dengan ekspresi mata yang membeliak.
Dadanya naik turun menahan amarah yang kini bergejolak dan terlihat sekali dari roman mukanya yang berubah merah pada padam.

"Hah, mengejutkan sekali sikapmu hari ini? Apa kau merasa kecil hati karena harus mendapatkan istri yang lebih cantik dan lebih ranum dari dirimu? Kenyataan bahwa kami memang lebih menyukai dia daripada kamu itu yang membuat kamu iri kan?"

Dasar payah!

Haruskah dia mengucapkan  kalimat-kalimat yang menusuk cara sepanjang hari kemarin aku sudah harus menyaksikan, kejadian-kejadian yang pahit dan menyedihkan, mestikah ia menambah garam di atas luka ini.

"Aku memang kecewa Bu, tapi aku lebih kecewa atas sikapmu saat ini, Bu. tadinya kupikir kau akan lebih baik kepadaku setelah aku merelakan suamiku beristri lagi ... Tapi sayang sekali," jawabku sedih.

"Kamu sudah berani melawan dan menghakimiku ya," tudingnya sambil menunjuk wajahku.

"Ibu, tidak pernah seharipun dalam hidupku aku tidak menghargaimu dan tidak menuruti perintahmu, aku mohon untuk hari ini saja, biarkan aku sendirian, aku ingin menata hatiku," jawabku.

"Kenapa kau tidak sanggup rasa cemburu ya?" tanyanya sambil tertawa.

"Mungkin benar Bu, jika ibu masih kasihan padaku biarkan aku di sini," jawabku.

"Hah, dasar sudah miskin banyak tingkah," sungutnya sambil menutup pintu dengan keras.

Lamat lamat kudengar suara Mas Haris bertanya pada Ibunya apa kiranya yang membuatnya begitu murka

"Bu, ada apa? Di mana Laila?"

"Ada tuh...."

"I-ibu nyuruh Laila dan anakku tidur di gudang?" Tanya Mas Haris.

"Ya, bukan maksud ibu Nak, tapi karena malam ini tidak ada tempat karena tamu dan kerabat yang juga bermalam akhirnya dia mengalah tidur di gudang belakang."

"Tapi di sana gelap, pengap dan kotor Bu," sela Mas Haris.

"Ya gak apa-apa, akan minta tukang untuk membuatkan jendela, jadi bisa difungsikan untuk kamar istri dan anak-anakmu," jawab Ibunya enteng.

"Astaghfirullah jangan Bu ...."

Kudengar langkah Mas Haris mendekat lalu perlahan memutar kenop pintu dan membukanya, ketika dia mendapati kami meringkuk beralaskan hambal kumuh dia langsung menghambur dan memelukku.

"Astaghfirullah, Laila, Maafkan aku, aku tidak tahu," ucapnya sambil memelukku.

"Gak apa, Mas, kamu seorang pengantin baru jadi wajar sibuk," jawabku dingin.

Entah mengapa hati ini beku dan seolah aku merasa kehilangan rasa pada Mas Haris, mengingat begitu teganya ia bahkan tidak mencari kami sepanjang malam.

"Aku mencarimu, tapi kata Ibu kamu sudah tidur," ungkapnya.

"Iya, kamu selalu percaya pada Ibu, Mas, aku senang mendapati kau suami yang berbakti pada ibu kandungnya."

"Kamu pasti sakit hati kan," ucapnya sambil menghampiri kedua anakku yang masih terdiam di sudut ruangan.

"Nayla ... Naina, maafkan ayah ya," katanya sambil memeluk kedua anakku.

"Kemarin ayah terlihat seperti pangeran yang tampan, mengapa sekarang ayah sedih?" 
tanya si Bungsu.

"Kukira mungkin ayah bukan milik kita lagi, karena kemarin ayah sudah punya Bunda baru," ucap si sulung dengan menunduk sementara si bungsu yang baru akan masuk TK itu, mengernyit tak mengerti.

"Gak gitu kok sayang, kalian tetap anak yang ayah sayangi, ayah gak bisa hidup ga ada kalian," jawab Mas Haris sambil menciumi pipi anaknya.

"Maafkan aku Laila," bisiknya. 

"Tidak usah minta maaf, hatiku terlanjut luka Mas, akan sulit mengobati sakit ini sementara setiap hari aku harus berpapasan dengan kalian berdua," jawabku tetap dingin.

"Ayo bangun, pindah ke kamar kita," ajaknya.

"Istri kamu bagaimana?"

"Dia bisa punah ke tempat lain," jawab Mas Haris, "bagiku kau tetap yang utama, Laila."

Selagi kami baru bangkit dan hendak menuju ke kamar. Di depan pintu dapur aku berpapasan dengan istri muda Mas Rafiq. Ia nampak baru selesai mandi,  berdiri dengan rambut basah dan pulasan make tipis.

Jujur aku sangat cemburu menyaksikan betapa  cantik adik maduku ini, bibirnya penuh dan seksi, mata berbinar indah dan hidung mancung. Rambut lurus dan tubuh yang sintal menyempurnakan segalanya. Sedikit aku merasa kecil hati dengan penampilan sendiri,apalagi menyadari sudah bertahun-tahun tak pernah bersolek cantik layaknya wanita yang ingin menarik perhatian suami pada umumnya.

Tugasku tiap hari hanya bergelut di dapur, sumur dan kasur anak anak, selain itu aku harus melayani mertua dan membantu meringankan beban adiknya dengan mengasuh anak-anak mereka, sebenarnya kurang apa lagi aku? Aku tak menuntut banyak dari Mas Haris.

"Mas ....'

Ya Allah, bahkan suara wanita itu amat merdu mendayu, desahan di ujung kata ' Mas' membuat siapa saja  yang mendengarnya jadi bergairah.

Ah, pikiranku!

Sesaat aku dan istrinya saling pandang dan ada kecanggungan yang sulit dihindarkan dari pertemuan ini, apalagi mengingat sejak keputusan ibu mertua menjodohkan mereka sampai hari lamaran dan pernikahan, aku memang belum pernah saling menyapa dengannya. 

"Mas kamu sibuk?"

"Gak juga, tapi aku minta tolong ya, pindahin barangmu, karena itu adalah kamar Laila dan anak kami," pinta Mas Haris.

"Oh,gitu ya," wanita itu makin canggung apalagi ketika tatapan mata kami saling bertemu, ia mendelik namun segera menunduk, sedang aku menangkap ketidaksukaan di matanya meski ia terlihat malu dan mengalah.

"Iya, aku mohon ya, semoga kamu mengerti," Mas Haris dengan senyum mengembang yang sukses membuatnya tersipu malu.

Dada ini rasanya terbakar menyaksikan kebahagiaan wanita itu, andai sanggup dan memiliki kuasa, ingin sekali aku menjebaknya dan menyeretnya keluar lalu melemparnya ke jalan, aku benar-benar tidak sudi berbagi suami dan tempat tidur dengan wanita itu.

"Iya, baik, mas."

*
Sesaat kemudian kami sudah sampai di kamar dan kupindai ruangan itu yang masih bau melati, aroma khas pengantin meski beberapa dekorasinya sudah dicabut.

Seprai satin kemarin pun, sudah diganti dengan seprai baru, beberapa pakaian Adelia juga masih tertinggal di dekat kaca rias.
Kulirik paperbag yang terletak di dekat kaca rias yang sebagian isinya kelihatannya sudah dicoba dan dilempar begitu saja.

ada rasa sedikit tidak nyaman menatap baju tidur menerawang berwarna merah marun yang tergeletak di salah satu paper bag itu, pikiranku melayang membayangkan wanita itu mengenakannya dan Mas Haris kemudian mendatangi dan mencumbunya.

Arggg ... Aku cemburu dan perasaan ini membuatku tak nyaman.

"Maaf barangmu masih tertinggal," ucapnya dengan senyum yang kuanggap senyum licik.
Aku tahu sekarang dia sedang berada di atas angin karena mertua menyukai dan mendukungnya, belum lagi orang tuanya yang kaya membuat mertua semakin bertekuk lutut untuk memuja gadis ini.

Mas Haris keluar dari kamar meninggalkanku yang masih terduduk gamang di kasur, sedang istri mudanya sibuk mengemasi barangnya.

"Maaf pakaian tidurku tercecer," ucapnya sambil tertawa.

"Oh, gak masalah aku gak ngeliat juga," jawabku pura pura bodoh.

"Tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan adalah hal yang indah padahal sebelumnya aku merasa pesimis dan takut," ujarnya tanpa malu, seolah sedang mengejekku.

"Syukur kalo begitu," balasku.

"Malam tadi, mas Haris adalah pria sejati," bisiknya yang kutangkap maksudnya ingin memanasiku.

"Ya, dia memang begitu," jawabku tertawa getir.

Dalam hati aku ingin sekali muntah di wajahnya atau menjambak rambutnya untuk menyadarkan kelancangannya itu.  Dia bahkan tidak malu-malu untuk berbicara di depan anak-anak kami tentang kegiatan bulan madunya malam tadi.

"Hah, menyebalkan, lepaskan aku darinya Tuhan," batinku.

"Kalo begitu aku pindah ke kamar tamu, ya Mbak," ujarnya sambil menyeret kopernya.

"Iya."

Ketika maduku itu hendak keluar dari kamarnya kami, tiba-tiba ibu mertua sudah berdiri dan berkacak pinggang di depan pintu, ia menatap nanar kepada kami bergantian dengan ekspresi marah.

"Ada apa ini?"

"Aku akan pindah ke depan Bu," jawabnya.

"Jangan Adel, kamar ini buat kamu aja, lebih luas dan punya kamar mandi di dalam jadi kamu leluasa," jawab ibu mertua tanpa memperdulikan perasaanku.

"Tapi Bu, anak anakku, suka terbangun malam dan mereka nyaman di sini," sanggahku.

"Gak apa, kamu pindah ke depan aja," suruhnya, "ambil pakaianmu dan pindahkan ke depan," perintahnya lagi.

"Apa? Ibu menyuruhku keluar," tanyaku nyaris tak percaya.

"Bentar dulu," ucapnya sambil menuju kearah dinding lalu mencabut foto pernikahanku dan foto keluarga kami berempat dengan anak-anak kami lalu menyerahkannya kepadaku.

"Ini, pindahkan dari sini," katanya sambil meletakkan bingkai itu dengan kasar di tanganku.

"Ayo pindah," bisiknya sambil setengah melotot, berharap menantunya tidak mendengar.

 Aku hanya mampu menghela nafas pelan sambil mengucapkan istighfar di dalam hati lalu  kubuka pintu lemari dan mengeluarkan pakaian-pakaianku kemudian mulai mengangkutnya ke ruang depan, ke kamar tamu.

"Lho kok, pindah?" tanya mas Haris yang kemudian datang lagi ke kamar.

"Aku nyuruh pindah biar kalian lebih leluasa," jawab ibu.

"Leluasa ngapain Bu?"

"Ya ... Melakukan apa yang kalian inginkan," jawab Ibu.

"Tapi ini kamar Laila," sanggahnya.

"Kan bisa tukaran," jawab ibu tanpa dosa.

Di kamar tamu aku hanya mampu menghangatkan diri sambil berulang kali menghela nafas foto keluarga masih ku genggam di tangan dan pakaian-pakaian masih teronggok begitu saja di atas ranjang kamar tamu. 

Anak-anakku mereka adalah anak-anak yang pengertian, mereka tahu suasana hatiku yang sedang sedih sehingga mereka tidak banyak bertanya.

"Bunda sabar ya," ujar Nayla.

"Iya, Sayang," balasku sambil tersenyum tipis.

Ah, Tuhan, kenapa begini?

"Tante itu istri baru papa?"

"Iya, Nak," jawabku.

"Sepertinya mulai sekarang kita akan sulit bertemu ayah." Bibir putriku bergetar dan perlahan air matanya meluncur begitu saja.

Ya Tuhan, aku tidak akan membiarkan anakku sedih gegara wanita itu dan mertua sentimenku.