Hari ketiga yang seru
Pukul 21:30 malam,

Setelah menidurkan Nayla dan Naina, mata ini belum kunjung ingin terlelap di peraduan, masih terpekur  membisu menatap pada dinding di mana  foto pernikahan kami menggantung di sana.

Ya, foto yang cepat tercabut dari tempatnya, dan miris sekali menyadari kenyataan bahwa selain kehilangan suami, aku juga kehilangan kamar kami dan secara teknis aku seperti kehilangan tempat di rumah ini.

Malam ini tentu saja kami masih bertiga, karena ibu mertua tidak akan membiarkan Mas Haris untuk menghampiriku, dia akan memaksa agar Mas Haris untuk menghabiskan waktu dengan Adelia lalu menghasilkan seorang cucu laki-laki baginya.

"Padahal anak laki-laki atau perempuan sama saja jika mereka berbakti dan menjadi anak yang sholeh." Aku menggumam sendiri.

Tapi, ya, sudahlah karena ini sudah terjadi mau tidak mau aku harus bertahan untuk menjalaninya, demi kedua anak yang saat ini sedang tertidur lelap di mana masa depan mereka masih panjang, lagi pula belum ada jaminan jika Mas Haris dan Adelia akan hidup bersama selamanya.

Ah, entah mengapa aku berharap mereka tidak cocok dan segera bercerai, bukan karena egois tapi lebih kepada apa yang disebut kepentingan dan keinginan untuk memiliki suamiku seutuhnya.

Daripada sibuk memikirkan mereka sebaiknya Aku berusaha untuk tidur karena besok pagi aku harus bangun melakukan banyak hal dan menghadapi kenyataan.

*

Matahari telah bersinar dengan terang ketika aku sedang menjemur pakaian di belakang sekaligus menyapu halaman, tiba-tiba tanpa ku sadari maduku sudah berdiri di belakangku dia terlihat sedang menjemur  handuknya, dan menetap untuk beberapa saat kepadaku.

Sesaat kami saling melihat dalam situasi canggung mungkin dia sungkan untuk menyapaku dan akupun malas untuk berbicara dengannya.
Hingga akhirnya dia memilih melangkah dan masuk kembali ke dalam rumah.

"Untuk apa coba dia harus menatapku seperti itu, dasar pelakor," sungutku dengan perasaan tidak rela dan kesal.

Aku telah menyiapkan sarapan sejak subuh dan ketika aku sedang sibuk mencuci piring tiba-tiba ibu mertua menyuruh Adelia untuk menyiapkan sarapan Mas Haris.

"Del, siapkan sarapan suamimu," suruhnya dengan nada suamimu yang ditekankan seolah Mas Haris  adalah milik Adelia saja.

"Iya, Bu, baik." Gadis itu kemudian memeriksa panci dan kuali yang ada di kompor yang sudah kusiapkan,ada  nasi goreng tapi belum kupindahkan ke atas meja.

"Ini ada nasi goreng, Mas Haris mau Bu?"

"Oh nasi goreng memang kesukaan Harris," jawab Ibu.

"Baiklah kali begitu," jawabnya sambil menyendokkan  nasi goreng tersebut lalu meletakkannya piring dan membawanya ke meja.

*
5 menit berikutnya Mas Haris datang ke meja makan dengan keadaan yang sudah rapi mengenakan baju kerja.
Ia nampak tersenyum dan istri mudanya segera mempersilahkan dia duduk dan menikmati sarapan.

Tak lama kemudian mertua laki-laki dan perempuan juga bergabung dan minum teh di meja makan.

"Terima kasih," ucap Mas Haris dan gadis itu tersenyum dan tersipu sedang aku semakin sakit hati melirik mereka dari  wastafel ini.

"Enak ya masakannya," gumam ibu yang ikut sarapan dan memuji makanan yang dihidangkan Adelia.

Jelas-jelas aku yang memasaknya.

"Ini kamu yang bikin 'kan?" tanya Mas Haris.

"Uhm ...." Itu tersenyum namun sedikit memutar bola mata dengan gestur kecentilan. 

"Dasar tidak tahu malu, di depan mertua saja seperti itu." Aku makin kesal padanya.

"Makasih ya, udah disiapkan sarapan." 

"Makasihnya sama aku Mas, karena aku sejak subuh tadi menyiapkan makanan itu," kataku ketus sambil menghempas piring ke wastafel, sukses membuat ibu mertua dan Adelia terkesiap dan saling memandang.

"Ini ... dia yang bikin?" tanya Mas Haris sambil menunjukku, sedang ayah mertua hanya terdiam dan melanjutkan baca koran.

"Uhm, mungkin , ah, namanya juga mantu baru, dia canggung Haris," bela Ibu namun sedikit gugup.

"Bukannya Mas sudah menandai 'kan ciri khas makananku yang bawang putihnya agak dilebihkan seperti Mas Haris suka," ujarku sambil mendelik.

"Maaf Laila, aku tidak bermaksud melupakanmu, tapi ... kenapa kamu tidak bergabung sarapan bersama kita?" Lanjut suamiku itu.

"Tidak usah, nanti aku sakit perut," jawabku sambil meletakkan baskom dengan kasar.

"Makanya Bu, tidak salah kaprah besok besok sebelum Ibu menguji makanan ibu harus memastikan dulu siapa yang membuatnya," ujarku sambil membawa keranjang cucian ke kamar mandi.

"Ya ampun kasar sekali dia," sungut Ibu pelan.

Aku tak peduli, yang penting pagi-pagi begini aku sudah membuatnya malu.

*

"Janganlah kamu membuat malu adik madumu di depan papa mertua dan suami," kata mertua rese yang tiba-tiba mendadak mendatangiku ketika aku sedang memotong sayuran di dapur.

Sambil menghela nafas kulirik waktu sudah menemukan dua pukul 11 siang di mana satu jam lagi aku harus menjemput anak-anak.

"Kenapa Ibu bisa jadi berat sebelah? ketika dia tidak disalahkan dan ibu terus-menerus mengintimidasi dan menyalahkanku," ujarku protes tapi masih tetap sibuk menyiapkan sayuran.

"Aku tidak bermaksud begitu kok, aku menyayangi semua menantuku, buktinya ... andai aku membencimu pasti aku sudah menyuruh Haris untuk menceraikanmu," terangnya.

"Apa bedanya Bu, bukannya Mas Haris butuh pelayan untuk menyiapkan semua kebutuhannya?" jawabku
Sambil melepas celemek dan meraih kunci motor yang ada di atas kulkas.

"Aku akan menjemput  Nayla dan Naina ke sekolahnya, untuk sementara aku ingin minta tolong kepada Adelia untuk menggorengkan ikan yang sudah dibumbui di dalam kulkas," kataku sambil membenahi rambut dan meraih helm.

"Nggak enak kalau ibu sudah menyuruhnya padahal dia masih baru di rumah ini." Gua melengos dan menghindar dari permintaanku.

"Jika wanita itu tidak mau memasak maka kalian akan kelaparan sampai sore nanti," sendiri sampai tersenyum lalu meninggalkannya.

"Jangan terlambat pulang Laila aku khawatir Haris dan papamu akan pulang sementara makanan belum siap," pintanya.

"Makanya aku sudah bilang Bu, jika Ibu perlu asisten rumah tangga untuk melayani semua penghuni rumah, Ibu dan  suami Ibu, kedua anak perempuan ibu dan menantu ibu yang baru, mereka semua butuh dilayani."

"Tapi kan ada kamu yang bisa menolong Ibu dan menghandle semua urusan rumah ini," jawabnya sambil memaksakan senyum.

"Pertanyaannya, aku pembantu atau menantu, Bu?"
Pertanyaanku membuat dia terkejut dan langsung menutup mulutnya.

"A ... bukan begitu ... kamu kok ketus banget sih?"

 Setiap kali dia punya keinginan yang hanya aku yang bisa melakukan, dia selalu berbicara lemah lembut. Tapi ketika dia berada di atas angin aku diperlakukan seperti sampah.

"Aku pergi dulu, oh ya, aku ingat ada tugas tambahan untuk anak-anakku jadi sebagai ibu aku harus mendampingi dan mengantar mereka," kataku sambil melambai kecil

"Lho tugas rumah gimana?"

"Kan ada Adelia."

"Tapi dia ...."

"Aku juga punya Tmtugas seorang ibu yang bertanggung jawab atas anak-anakku, Bu. Izinkan aku pengurus dan membimbing cucu ibu."

Kuhidupkan motor dengan senyum  dan merasa sedikit menang atas sikapnya yang sok berkuasa selama ini. Lagipula kenapa juga dia tidak akan membiarkan gadis itu mengerjakan tugas rumah tangga, bukankah posisi kami sama?