Mau Kerja
*
Kurasa aku telah lama berada dan terpendam di rumah mertua hanya menjadi seorang pelayan bagi suami dan mertua sendiri. Aku lupa mempedulikan kebahagiaanku, kepentingan, dan kebutuhanku sendiri.
Andai pun aku peduli,  aku tidak punya waktu atau biaya untuk memenuhi semuanya, maka dari itu kuputuskan untuk meminta izin kepada Mas Haris untuk membiarkan diri ini bekerja.

Namun problem berikutnya timbul ketika aku harus menitipkan anak-anak ke Ibu mertua, sanggupkah dia mengurus kedua anakku dan memastikan bahwa mereka tidak menangis sepanjang hari? Kurasa sulit sekali.

Mungkin aku membutuhkan waktu beberapa  bulan lagi, hingga anak-anakku bisa mandiri dan tidak sering menangis ketika mendapati aku tidak berada di rumah.

"Mas boleh tidak aku bekerja?"tanyaku ketika malam ini dia menghampiri kami di kamar.

"Aku sudah mengatakan dari awal, bahwa gagasan tentang mencari pekerjaan adalah hal yang akan ku tolak Laila," jawabnya tegas.

"Aku membutuhkan biaya tambahan untuk kebutuhan ku sendiri dan sebentar lagi anak-anak akan masuk sekolah, mereka membutuhkan seragam alat sekolah dan biaya yang banyak Mas," ungkapku memberi alasan.

"Aku masih bisa mencukupi kalian semua orang di rumah ini," potongnya cepat.

"Kamu punya dua orang istri yang harus kamu tanggung Mas," sanggah ku.

"Karena aku mampulah,.aku berani untuk berpoligami Laila."

"Aku hanya ingin ...."suaraku tercekat dan tiba-tiba air mataku meluncur begitu saja.

"aku tidak setuju Laila jika aku tidak Ridha maka kau akan berdosa," ancamnya.


"Belakangan ini Aku merasa tidak nyaman berada di rumah Mas," ujarku sambil menyeka sudut mata.

"Kamu merasa rendah hati karena aku punya istri muda dan ibu lebih menyayanginya? Atau kamu cemburu?"
Tidak pekakah dia, pada kenyataan yang baru saja ia sebutkan satu persatu? Konyol!

"Mungkin aku merasa begitu Mas," jawabku dengan nada yang mulai mengecil karena merasa tersakiti oleh ucapan Mas Haris.

"Kok kamu jadi baper gitu?"

"Baper, tentu saja bapermas aku manusia yang punya hati kalimat yang menyakitkan pasti terbawa di perasaanku Mas,tentu saja aku merasa rendah diri dan tersaingi oleh keberadaan Adelia sebagai istri barumu, aku harus mengabdikan diri agar tidak terus-menerus cemburu,dan aku harus menambah pemasukan agar tidak selalu mengandalkan keuanganmu," jawabku panjang lebar.

Mendengar penuturanku itu, Mas Haris hanya mampu mendengkus lalu menjauh dari kamar kami.

"Dia menjauh begitu saja, mengapa dia tidak menimbang perasaanku?"
Aku hanya mampu menyeka air mata yang menetes di sudut mata, sedang kedua anakku terheran-heran melihat ekspresi sedih ini.

"Bunda kenapa?"
Tanya Nayna Putri bungsuku.

"Enggak apa-apa, kamu main aja, ya," suruhku dan ditanggapi dengan anggukan olehnya.

*

Seperti biasa ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore aku selalu berada di dapur untuk menyiapkan makan malam untuk semua anggota keluarga. Malam ini aku berencana untuk memasak opor ayam dan sup untuk dinikmati semua orang.

Entah mengapa ketika sedang sibuk-sibuknya memotong bahan makanan tiba-tiba wanita sok centil yang berperawakan setinggi 157 cm itu mendekatiku namun langkahnya terlihat tertahan dan ragu.

"Boleh aku membantumu Mbak?"tanyanya pelan.

"Untuk apa? Siapa yang menyuruhmu?" Tanyaku dengan ketus.

"Ti-tidak ada Mbak, Aku hanya ingin membantumu," jawabnya gugup.

"Tidak perlu karena kau akan merepotkan ku," jawabku cuek.

"Biarkan aku yang memotong sayurnya Mbak," pintanya. 
Aku tidak tahu apa tujuannya melakukan ini, entah ingin membantuku atau ingin mencari muka terhadap anggota keluarga, punya alasan untuk menolak permintaannya. Sehingga aku hempaskan saja talenan dan sayur juga pisau ke depannya.

"Potonglah!"iya terlihat kaget namun tak urung menyunggingkan senyum dan berterima kasih kepadaku.

"Terima kasih Mbak, tapi bagaimana cara mengupasnya?"tanyanya sambil melirik kepada sayuran oyong dan labu siam yang aku sodorkan.

"Memotong sayur saja harus diajar, ya ampun ...." Aku menggumam sambil  menggeleng pelan.

"Kupas aja pakai alat pengupas kalau kau tidak bisa dan potong saja bentuk membulat," jawabku sambil mempraktekkan caranya kepada wanita itu.
Hati ini dongkol ingin menjambaknya namun rasanya tidak masuk akal kalau aku menjambaknya hanya karena dia tidak bisa memotong sayur.

"Ini lalu di masukkan kemana?"lanjutnya.

"Letakkan saja di situ dan pergi rapikan kamarmu karena Mas Haris sebentar lagi pulang," ujarku.

"Sudah rapi Mbak," jawabnya.

"Kalo begitu siapkan meja makan saja," lanjutku.

"Baik, Mbak."

"Jangan berpikir karena aku mau bekerja sama, aku menyukaimu, kau tahu bahwa aku tidak akan pernah menyukaimu," ujarku.

"Aku tahu ...." Ia menunduk sambil menggenggam serbet yang ia pegang di tangannya.

"Kalau begitu kenapa terus berdiri disini, silakan pergi," suruhku. wanita itu mengangguk lalu segera mengambil piring dan menyusunnya di meja makan.

Tak lama kemudian ibu mertua datang dan melihat Adelia sedang menyusun piring di meja makan.

"Ya ampun rajin banget kamu," puji Ibu mertua sambil mengelus bahu menantunya itu.

"Hanya menyusun piring saja dia bilang rajin, aku yang sudah bertahun-tahun mengabdi untuk anak dan keluarganya tidak pernah dia puji seperti itu." Aku menggumam sendiri.

"Ekheeem ...." Aku berdehem dan seketika ibu mertua gugup.

"Eh, ada Laila ... Kamu masak apa Nak?" tanyanya sok manis.

"Opor ayam," jawabku.

"Oh, eh, enak pastinya," imbuhnya sambil memaksakan senyum.

"Ibu ke belakang dulu ya," kataya sambil menuju halaman belakang.

Baru saja ia membuka pintu, tiba-tiba ada suara gaduh, jeritan Ibu, suara ayam yang panik dan kepak sayap yang ribut, ditingkahi oleh kokokan ayam lain.

"Auww, tolong .... Aw ... Ayam sial!" Ibu berteriak. Dan ketika kuhampiri rupanya Ibu membuka pintu dan disaat yang bersamaan dua ekor ayam sedang melakukan perkawinan.

Ayam itu terkejut dan melompat ke wajah Ibu lalu mencakarnya, juga sempat bertengger di kepala dan mengacak-ngacak rambut ibu mertua.

Dia masuk kembali ke dalam rumah dengan kondisi wajah yang sudah penuh bekas kaki ayam yang berlumpur dan rambut dan kulit  yang sudah penuh bulu ayam.

"Hueek ... Ayam sialan!" sungutnya sambil menghentakkan kaki di lantai. Kulihat ekspresi Adelia yang terlihat menahan tawa sedang aku menggeleng pelan sambil tertawa jahat dalam hati.

"Rasakan!"