Senyum Riswan


‘Kenapa bukan Mas Riswan yang datang? Kenapa dia tidak antusias untuk menemuiku setelah dia tahu aku hamil? Apa jangan-jangan dugaan burukku benar? Apa dia pergi meninggalkanku?’

Ghina tak mampu menepis kecemasan yang menyusup halus dalam pikiran. Jika memang bukan Riswan yang berhubungan dengannya malam itu, dan anak dalam kandungan Ghina bukan anaknya, tentu wajar kalau Riswan memilih pergi.

“Kamu mau ngomong apa sih? Kenapa mukanya ditekuk gitu?” tanya Ibu Kania dengan kening berkerut-kerut.

“Eh, nggak. Bu. Nggak, papa. Biar nanti Mas Riswan sendiri yang ngomong sama Mbak Ghina.” Kania menyahut cepat. Ia tak mau terlalu ikut campur urusan kakaknya. Bisa-bisa cap adik ipar yang manis selama ini akan lenyap dari benak Ghina.

Kania sadar dan tahu betul posisi Ghina sejak awal di rumah keluarga Anggoro. Semua berawal dari kegagalan hubungannya dengan Janief dan berpindah pada Riswan. Tentu ada rasa rendah diri yang dirsakannnya. Belum lagi dari segala hal, fisik maupun Ghina tak sebanding dengan mantan kekasih Riswan, Mina.

‘Ah, itu kan soal cantik dan karier, tapi buatku Mbak Mina itu sombongnya nyundul langit,’ batin Kania.

Spesies seperti Mina itu hanya membuat bangga para mertua, agar bisa menyombongkan mantunya. Tapi tidak akan cocok diajak berteman dengan adik ipar. Jika disuruh milih, tentu saja Kania akan tetap memilih Ghina. ‘Bodoh sekali Mas Janief ninggalin dia, untuuuung aja Mas Riswan mau ninggalin si Mina.’

“Hem?” Ghina mengangkat kedua alisnya. Mengalihkan tatapan yang sempat tertuju pada ibu mertua ke arah Kania. “Jadi Mas Riswan akan ke sini?”

Ada perasaan lega saat Kania bilang, ‘Biar Riswan sendiri yang bilang.’ Itu artinya sang suami tidak sedang meninggalkannya, seperti yang Ghina pikirkan.

“Hah?” Kania justru bingung mendengar pertanyaan Ghina. Tentu saja Janief harus ke sini. Karena istrinya sedang dirawat. “Ya, i –iya, Mbak.”

“Alhamdulillah.” Ghina menghembus napas lega.

Ibu dan Kania yang merasa heran melihat tingkah Ghina saling pandang seolah saling melemparkan tanya. Kenapa Ghina aneh sekali?

“Apa kalian bertengkar?” tanya Ibu kemudian.

“Ah, nggak Bu. Hanya saja ....” Ghina mulai kesulitan menjawab. bahkan sampai menoleh ke arah janief saking bingungnya.

Lagi, tatapan wanita itu beradu dengan tatapn elang Janief. Seketika pikiran Ghina nge-blank karenanya.

“Em, Mas Riswan hanya mau memastikan apa yang terjadi dengan Mbak Ghina tadi. Jadi dia mampir dan bertanya ke petugas yang berjaga.” Janief menjawab menggantikan Ghina. Ia berniat mengalihkan perhatian Ibunya dan Kania yang mempertanyakan gelagat Ghina.

“Oh, begitu.” Ghina menyahut nyaris tak terdengar. Ia tak menyangka jika Janief akan membantunya di saat-saat seperti ini. Saat ia diberi pertanyaan oleh mertua dan kesulitan menjawabnya.

Benar saja, belum lagi Ibu mertua dan Kania juga sempat merasa heran pada Janief, yang tak biasanya mengajak bicara akrab Ghina, suara orang lain terdengar dari arah pintu.

“Assalamualaikum.” Riswan mengucap salam, sebelum masuk kamar pasien tempat Ghina dirawat.

“Waalaikum salam.” Semua orang menoleh ke asal suara.

Ghina tersenyum melihat wajah teduh sang suami. Sambil bicara dalam hati, berharap ia akan ingat semua yang mereka telah lalui.

Begitu pun Riswan, senyum terbias dari wajahnya kala menatap sang istri.

“Syukurlah anak kita baik-baik saja.” Pria itu tersenyum menatap ke arah Ghina dan lalu pada semua orang.  

Tak tampak sedikit pun kekecawaan atau kemarahan mendapati Ghina hamil, sebagaimana yang suster jelaskan padanya mengenai kondisi sang istri.

Mata Janief melebar. ‘Jadi Ghina benar-benar hamil?’

Melihat itu, senyum Ghina semakin lebar. Ia merasa percaya diri karena suaminya ingat hubungan yang telah mereka lakukan sampai akhirnya Ghina hamil.

“Alhamdulillah, Mas maafkan aku. Gak bisa menjaga diri dan gak ngecek pas telat datang bulan.” Ghina menimpali ucapan sang suami.

Berbeda dengan Janief. Ia justru bingung meihat sikap Riswan. ‘Kenapa dia malah senang? Ini aneh. Bukankah Mas Riswan bilang kalau dia belum pernah menyentuh Ghina?’

Next....