Keguguran?


“Ris, kamu harus pulang sekarang! Ghina sepertinya keguguran!” seru Ibu di ujung telepon.

“Hah?” Mataku melebar.

Apa aku salah dengar? Ghina keguguran? Aku pasti salah dengar.

“Halo, Bu?! Bu!” seruku pada orang di ujung telepon. Ingin memastikan apa yang terjadi pada Ghina.

Sialnya, ponselku mati. Panggilan tak lagi tersambung, sehingga aku tak tahu maksud Ibu.

“Ada apa, Mas?” tanya Janief adikku.

Kami sedang ke luar melihat lahan untuk usaha pemuda itu, yang berniat menetap di kota kami, setelah merantau dua tahun lamanya di Kalimantan.

“Ini Ibu, bilang Ghina keguguran,” ucapku santai sambil memasukkan ponsel ke saku celana.

“Hah? Keguguran?” Mata Janief melebar. Ia tampak sangat terkejut. “Kenapa Mas Riswan kelihatannya nggak cemas?”

“Hahaha.” Aku tertawa. “Sorry, sorry!” Kutepuk pundak Janief.

“Mana mungkin Ghina keguguran? Hamil juga nggak. Aku pasti salah dengar,” sambungku lagi.

Janief pasti terkejut karena dia pikir istriku hamil, selama ini dia tak berkumpul dengan keluarga besar kami, jadi wajar jika berpikir Ghina hamil.

“Mungkin Mas nggak tau aja kalau Mbak Ghina hamil, jadi pas sekarang keguguran baru tahu.” Pria itu masih bicara dengan sorot mata dipenuhi kekhawatiran.

“Hem, aku pasti salah dengar,” ceplosku. Walau memang yang kudengar memang kata ‘keguguran.’

Akan tetapi, fakta bahwa aku belum pernah menyentuh Ghina, membuatku yakin kalau dia tidak mungkin keguguran.

“E, kenapa Mas begitu yakin?” tanya Janief tegang.

Aneh ini anak. Aku sudah bilang kalau salah dengar, masih juga cemas begitu.

Kutarik napas panjang. Entah, ini benar atau tidak, mengatakan masalah ranjang pada Janief. Tapi ... walau bagaimana Janief adalah adikku. Secara tak langsung dia juga pernah memiliki ikatan emosi dengan Ghina, aku takut ia akan memiliki pikiran tak baik. Namun, jika aku diam saja, Janief akan terus khawatir begitu.

“Begini, Nief. Sebenarnya ... selama ini, aku belum pernah menyentuh Ghina.”

Ya, jadi Ghina tak mungkin hamil. Bagaimana bisa ada janin dalam perutnya, sedang selama setahun pernikahan kami, kami belum pernah melakukan malam pertama kami.

Mata Janief melebar sempurna. “Apa? Belum pernah menyentuhnya? Maksudnya ... kalian belum malam pertama?” Pria itu tampak syok. Wajahnya bahkan pucat seperti telah melihat hantu.

“Aku tahu kamu pasti terkejut. Tapi, niatku memberitahu ini, agar kamu tak lagi cemas pada kondisi Ghina,” ucapku sambil mengangguk santai. Membenarkan apa yang Janief pikirkan.

Kembali kutepuk pundak adikku perlahan, sebelum mengayun langkah mendahuluinya ke arah mobil.

Aku tak pernah marah pada takdir yang Janief limpahkan padaku di masa lalu, karena tahu bagaimana posisinya. Namun, bukan berarti sebagai seorang pria normal, aku bisa menerima Ghina begitu saja.

“Janief! Ayo!” teriakku padanya yang tak lekas menyusul. Saat berbalik dan melihatnya, Janief malah masih membeku di tempat. Ada apa dengannya?

“Ah, ya Mas.” Pria itu tersentak. Dan lekas menyusulku ke mobil.

“Perasaanku tak enak, Nief. Sepertinya Ghina memang sakit,” ucapku saat masuk ke dalam mobil.

Yah, meski tak jelas apa yang Ibu sampaikan mengenai keadaan Ghina, aku punya firasat istriku itu sedang sakit tak biasa.

Mendengar ucapanku, Janief lekas masuk ke dalam mobil. Mempercepat gerakannya untuk membawa mobil ini mengantar kami. Aku bisa melihat rasa bersalahnya karena kekhawatiranku pada Ghina.

“Nggak ada charge-an ya, Nief?” Kubuka dasbor mencari barang yang kumaksud.

“Nggak ada, Mas. Belum kepikiran ngecharge hape di mobil,” sahutny

“Oya Mas, em ... apa Mas tidak bisa menerima, maksudku tidak bisa mencintai Ghina?” tanya Janief yang membuatku seketika menoleh ke arahnya.

Tatapan ini lalu beralih ke arah depan. Memikirkan apa yang harus kukatakan pada Janief. Setelah melalui banyak hal, bohong jika aku tak memiliki perasaan pada Ghina. Apalagi dia adalah istri sholihah yang menunjukkan ketaatan bukan hanya pada Tuhannya tapi juga pada suami, dan mertuanya.

“Hem, dia istri yang baik, Nief. Lalu kamu .... Apa kamu masih memiliki perasaan padanya?”

Ya Tuhan, aku tak menyangka hari ini datang juga. Rasanya sangat konyol bertnya pada pria lain mengenai perasaannya pada istriku. Apa aku suami yang waras?

Janief tak menjawab. Ia hanya tersenyum miris. Tentu saja, pertanyaan bodohku mengundang tawa baginya. Betapa mirisnya hidupku. Aku bahkan tak bisa menjalani pernikahan normal seperti orang lain dengan Ghina.

“Sebaiknya Mas Riswan memperlakukannya dengan baik, agar aku tak berniat merebutnya lagi.”

“Hah?” Ucapan Janief membuatku kembali menoleh ke arahnya.

“Hahaha. Aku bercanda, Mas.”

“Oh, hahaha.”

Lagi pula, mana mungkin adikku mencintai Ghina. Kalau iya, pasti pria tampan itu tak akan meninggalkan pelaminan dan membuatku bertanggung jawab menggantikannya.

Mobil yang kami kendarai akhirnya sampai di rumah orang tua kami. Di mana aku dan Ghina tinggal bersama mereka selama ini.

Belum lagi Janief mematikan mesin mobil, Kania berlari dari dalam rumah menghambur ke arah kami. Melihat itu, aku pun lekas membuka pintu mobil.

“Mas, cepat ke rumah sakit, Mbak Ghina keguguran! Kenapa Masgak bilang ke kami kalau Mbak Ghina hamil. Tau gini aku bisa minta Ibu gak nyuruh-nyuruh ngerjain kerjaan rumah!” Kania menyalahkanku.

Adik perempuanku juga bilang Ghina keguguran. Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi? Istriku tak mungkin hamil.

“Em, Kania bicaralah yang jelas dan jangan membuat Mas Riswan bingung!” tegur Janief, yang sudah tahu bagaimana hubungan yang kujalani dengan Ghina selama ini.

“Ish, Mas Janief nggak tau. Ibu loh baru nelpon, dokternya bilang Mbak Ghina hamil dan perdarahan.” Gadis itu keukeuh dengan pernyataannya.

Bukan karena aku tak menginginkan keturunan, akan tetapi masih banyak hal yang menghalangiku untuk memberikan nafkah batin untuk Ghina. Akan tet... api sekarang .... Dia hamil? Dengan siapa?

Mataku memanas membayangkan perselingkuhan Ghina. Ini tidak mungkin. Dia wanita baik dan sholihah di mataku. Mana mungkin melakukan hubungan dengan pria lain?

Next

Wah, wah. Nggak malam pertama kok bisa hamil? Kuy, cek jawabannya di bab2 selanjutnya.