Kenapa Hatiku Berdebar saat Melihat Janief?

‘Ya Rabb. Malam itu aku benar-benar berhubungan dengan seorang pria. Tapi kenapa Mas Riswan tidak mengakuinya? Mungkinkah, dia benar-benar bukan pelakunya. Kalau begitu ....’ Mata Ghina membola. Membayangkan betapa ngeri hal yang telah dilaluinya malam itu.

“Hem, Ghina. Kenapa kamu melamun begitu?” tanya Ibu Riswan yang baru masuk ke kamarnya.

Wanita itu langsung mendekat ke arah botol infus berisi cairan warna merah. Karena kehilangan banyak darah dan merasa lemas, Ghina harus mendapat transfusi darah.

“Ehm, ya Bu. Maaf,” lirih Ghina.

Ghina tak bisa menghindari gundah yang singgah dalam hatinya. Ia khawatir jika Riswan bukan pria yang hari itu menghabiskan malam bersamanya.

“Jangan kebanyakan ngelamun. Nanti kesambet. Kamu hamil gak bilang-bilang. Tau nggak kalau orang hamil itu banyak pantangan. Ini nih, bala hari ini, pasti karena kamu melanggar pantangan orang dulu.” Panjang kali lebar wanita berkepribadian kolot itu bicara.

Ghina tersenyum. Miris. Dia sudah kebal dengan ocehan mama mertua. Wanita tua itu seolah tidak puas jika harinya dilewati tanpa melontarkan kritikan pada sang menantu.

Sebenarnya ada banyak alasan kenapa sikap mertua begitu? Mereka juga kecewa karena Ghina tak kunjung hamil dan menganggap menantunya mandul. Beberapa kali, Ghina dengar Ibu menyindir saat sedang bicara dengan Bapak Mertua. “Kapaaannn ya, Pak, kita punya cucu?” Wanita paruh baya itu melirik sejenak ke arah Ghina yang sedang sibuk menyapu lantai di ruang tengah, tempat sepasasng suami istri itu mengobrol santai.

 

Ghina ingin menjawab dan marah. Namun, ia memilih menahannya agar tak jadi masalah. Meski begitu dalam hatinya selalu bertanya.

“Apa itu salahku? Saat aku tak sebaik Mina, mantan Mas Riswan yang sarjana, wanita karier dan punya penghasilan sendiri. Bukankah seorang wanita memang tak diwajibkan bekerja? Apa lagi penghasilan Mas Riswan dari toko lebih dari cukup untuk makan.”

 

Rasa rendah diri Ghina muncul atas sikap mertua. Hal itu pula yang membuatnya sadar, bahwa Riswan menerimanya sebagai istri dan menyelamatkan kehormatan keluarga Ghina saja sudah lebih cukup. Maka tak menjadi masalah besar baginya, ketika Riswan mengatakan belum siap untuk menjamah Ghina.

 

Perempuan itu adalah wanita penurut, yang nyaris tak pernah membuat Riswan kesal. Mana mungkin Ghina marah hanya karena tak mendapat sentuhan malam dari suaminya. Walau ia sangat menginginkan itu, Ghina sadar bahwa pernikahan bukan hanya soal tidur bersama dan melampiaskan nalurinya. Lebih dari itu, kebahagiaan dua keluarga, terutama keluarga Ghina sendiri. Orang tuanya pasti akan sangat sedih jika Ghina tak jadi menikah, padahal sudah berada di atas pelaminan. Dan mereka pasti akan lebih sedih jika pernikahannya yang belum lama, berakhir, hanya karena keegoisan Ghina dengan menuntut segala hal pada Riswan.

 

“Duh, andai kalian tahu, anak kalian enggan menyentuhku, Pak, Bu. Masihkah kalian membenciku karena tak kunjung hamil?”

 

Yah, bagi Ghina, Riswan adalah tipe suami cuek. Dia tak begitu peduli melihat sikap kedua orang tuanya terhadap sang istri. Ghina bahkan tak bisa mengeluhkan apa pun, karena pasti ujung-ujungnya Ghina yang salah. Riswan juga tak pernah romantis dan bersikap dingin, itu juga yang selama ini membuat Ghina pernah hampir menyerah.

 

Itu semua dulu. Sekarang Ghina sudah hamil. Bukan lagi anggapan mandul atau benar-benar mandul yang mengganggu hatinya. Melainkan sikap tegas Riswan yang mengakui bahwa janin dalam kandungannya sekarang adalah anaknya.

 

“Untung saja Dokter bilang janinnya bisa bertahan. Kamu beruntung, Ghina,” lanjut ibu mertua.

Wanita yang sedari tadi sibuk bolak-balik ke ruang dokter, administrasi dan apotek sekaligus itu tetap menunjukkan sikap ketus, walau mendapat kebahagiaan tak terkira atas hadirnya cucu pertama Anggoro di rahim Ghina.

Sang menantu sadar itu. Bahwa mertuanya adalah tipe yang jaim. ‘Huft, soal ini, Ibu memang sangat mirip dengan dua putranya, Mas Riswan, dan lebih lagi Janief.’

Tiba-tiba saja Ghina harus ingat pria dari masa lalunya.

Lagi-lagi Ghina terdiam. Walau situasi ini masih belum sepenuhnya membuatnya bahagia telah menjadi ibu. Dalam hati, ia bersyukur jika janin dalam kandungannya selamat.

Rasa bersalah itu pasti ada. Andai terdeteksi sejak awal, Ghina pasti akan hati-hati dan menjaga segenap jiwanya keberadaan janin tersebut.  

“Heehh. Seperti biasa kamu nggak nyaut kalau Ibu ngomong Ghina.” Ibu mertua tak berhenti mengoceh.

Wanita paruh baya itu geleng-geleng.  

“Assalamu alaikum.” Suara berat seorang pria di pintu membuat Ghina dan ibu mertuanya menoleh.

Ghina segera menundukkan tatapan saat yang pertama kali dilihat adalah wajah tampan Janief. Ia tak bisa memungkiri, keberadaan pria itu masih membuatnya berdebar.

Itu kenapa ia sempat mengajukan sebuah permintaan pada sang suami, walau tahu hal itu kalau kemungkinannya kecil disetujui. Ghina mengajak Riswan untuk tinggal di rumah sendiri, meski adik iparnya itu tak tinggal serumah dengan mereka, tetap saja ia merasa perlu untuk meminimalisir pertemuannya dengan Janief.

Ia takut khilaf, baik dari sisi Janief atau pun dia sendiri. Apalagi Ghina sadar, Janief memiliki tatapan seperti dulu saat mereka masih menjalin hubungan.

Tak ada yang menyadari getar hati yang Ghina rasa. Entah, Ghina sendiri merasa heran kenapa semua orang tak peka akan perasaannya. Seharusnta mereka tahu, dan khawatir terjadi sesuatu antara dirinya dan Janief yang pernah terikat masa lalu.

“Mbak Ghina, gimana keadaan Mbak? Adek bayi baik-baik saja?” Kania menghambur ke ranjang di mana Ghina masih berbaring. Lalu mengusap perut Ghina yang masih rata.

Janief sendiri, merasa salah tingkah kala tatapannya bertemu dengan Ghina. Rasa bersalahnya begitu besar. Ia lekas melihat ke arah lain, kala tangan Kania bisa dengan bebas mengusap perut mantannya.

“Aku baik-baik saja, Dek.” Ghina tersenyum tipis.

“Oh ya, ke mana Riswan?” tanya Ibunya saat tak melihat anak pertamanya. Ayah dari bayi yang sekarang ini terancam keguguran.

Seketika Ghina sadar. Bahwa pria yang seharusnya ditunggu tidak ada di antara mereka.

‘Ya Tuhan. Apa ini? Kenapa keberadaan Janief bisa mengalihkan perhatianku dan melupakan Mas Riswan sepenuhnya?’ batin Ghina.

“Ya, ke mana Mas Rsiwan?” tanya Ghina ingin membuang Janief dari otaknya dengan berusaha mengalihkan perhatian.

“Em, itu ... Mas Riswan ....” Kania mengucap ragu-ragu, ia seolah enggan mengatakannya, sebab takut akan membuat Ghina kepikiran.

“Ada apa?” tanya Ghina yang merasa curiga melihat ekspresi Kania.

‘Kenapa bukan Mas Riswan yang datang? Kenapa dia tidak antusias untuk menemuiku setelah dia tahu aku hamil? Apa jangan-jangan dugaan burukku benar? Apa dia pergi meninggalkanku?’

 

Bersambung