Kenapa Dia Tidak Ingat?


Riswan tak mampu berkata-kata mendengar perdebatan kedua adiknya yang makin sengit, Kania dan Janief. Ia terlalu terkejut mendapat berita yang sama untuk kedua kalinya dari dua orang yang berbeda.

“Ish, Mas Janief nggak tau. Ibu loh baru nelpon, dokternya bilang Mbak Ghina hamil dan perdarahan.” Gadis itu keukeh dengan pernyataannya.

“Tapi ... kita harus memastikan sendiri. Bisa jadi Ibu salah ngomong kan?!” Janief tak terima. Seperti halnya Riswan yang tak bisa menerima jika Ghina telah hamil.

Riswan pikir, sikap Janief begitu karena adiknya itu sudah tahu semuanya. Dan ucapan Kania menyakiti kakaknya, sehingga ia berusaha menghentikan gadis itu meyakinkan suami Ghina.

“Hiss, kalau nggak percaya ya sudah!” Kania membuang padangan ke arah lain dengan menyilang tangan di dada. Tak lupa ia manyunkan bibir tipisnya, untuk mempertegas bahwa tak seharusnya Janief menghardiknya seperti itu.

“Huft. Ya sudah, Mas. Baiknya kita ke rumah sakit saja melihat kondisi Mbak Ghina.” Janief membuang napas kasar. Menyerah. Tak ada gunanya meneruskan debat.

Akan lebih baik jika mereka ke rumah sakit sekarang untuk memastikan. Lagi pula, sepertinya dia yang paling penasaran dan ingin tahu apa yang menimpa Ghina sebenarnya.

Riswan atau pun Ghina setuju usul pemuda itu.

“Kalau gitu, sekalian ikut ya, Mas!” seru Ghina. Tadinya dia juga sangat ingin ikut mengantar Ghina ke rumah sakit.

Akan tetapi, kompor sedang menyala, nanggung jika masakan Ghina ditinggal. Apalagi Kakak iparnya meminta pada Kania mengurusnya. “Tolong ya, Dek. Kasihan Mas Riswan nanti pas pulang kelaparan,” pesan Ghina sembari meringis menahan sakit.

Kania sampai tak habis pikir, sebesar itu cinta Ghina pada suaminya, sampai-sampai di saat-saat kesakitan masih memikirkan perut Riswan.

“Ya.” Riswan menyahut permintaan Kania.

Dia tahu, bahwa gadis itu dekat dengan istrinya. Ghina pasti merasa kurang nyaman ibu mertua yang mengurusnya di rumah sakit. Perempuan ayu itu akan kesulitan mengutarakan saat memerlukan sesuatu.

‘Mungkinkah ...?’ Janief bertanya-tanya dalam hati. ‘Ah, tidak! Mas Riswan pasti salah. Mungkin dia sudah pernah melakukannya dengan Ghina, hanya saja dalam keadaan setengah sadar. Itu juga yang kualami.’ Janief meyakinkan dirinya sendiri agar tetap tenang.

Tentu saja lelaki yang baru beberapa bulan tinggal di Bandung itu, tidak ingin membuat semua orang curiga dan berpikir dia masih mencintai Ghina. Akan sangat memalukan, andai mereka tahu, ia memiliki harapan besar pada wanita yang sudah dicampakkannya dan telah menjadi milik orang lain.

‘Argh, andai dulu aku tak meninggalkan pelaminan, pasti tidak begini jadinya.’ Lelaki tampan itu lagi-lagi merasakan penyesalan dalam hatinya.

Namun, apa boleh buat? Dia terpaksa menghilang juga demi Ghina dan kehormatan keluarga Anggoro. Siapa yang tahu jika akhirnya seperti ini?

‘Maafkan aku, Ghina. Aku telah menghancurkanmu untuk ke sekian kalinya.’

_________________________

 

Di rumah sakit ....

Seorang perempuan terbaring lemas di atas ranjang pasien. Ghina masih syok. Ia tak menyangka jika akan hamil. Padahal Cuma sekali melakukannya. Entah, apa Riswan ingat tentang itu?

Yang Ghina takutkan, jika pertanyaannya waktu itu tetap mendapat respon yang sama dari Riswan. Wanita itu berharap jika suaminya hanya jaim saja, mengakui telah melakukan hubungan dengan Ghina setelah lama tak menyentuhnya sama sekali.

Malam di mana ia melakukannya dengan posisi setengah sadar lantaran pengaruh obat sakit kepala yang Ghina rasakan, Riswan memintanya tanpa suara. Ditambah lampu tidur yang membuat ruangan itu menjadi remang.

Namun, meski begitu, Ghina tahu bahwa suaminya menginginkannya kala tangannya bergerilya menjelajahi segalanya. Juga ciuman pertama dan beruntun yang membuatnya tak mampu berucap.

Kondisi sakit membuat kepala Ghina seperti dipukul palu, akan tetapi ... untuk kali pertama ia mendapatkan rasa yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Perempuan itu mabuk kepayang. Pasrah dengan semua perlakuan pria yang dia pikir adalah suaminya.

Wanita yang mengenakan daster itu juga masih ingat dengan jelas bagaimana rasa sakit yang menjalar di rahimnya karena hubungan pertama.

Lalu keesokan paginya, Ghina bangun dengan kepala yang jauh lebih ringan dari semalam. Begitu mengerjap, ia dapati sang suami tidur di lantai seperti biasanya. Dan pakaian yang melekat di tubuhnya sendiri berantakan di bawah selimut.

Apakah Riswan tidak ingat mereka sudah melakukan hubungan tadi malam. Pria itu malah bilang Ghina ngelindur. Sampai Ghina sempat terpengaruh dan berpikir, dia memang bermimpi Namun, sekarang ... fakta bahwa dua bulan tanpa haid yang dikira terjadi karena stress, kini ada darah yang keluar dari rahimnya. Dan hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Ghina positif hamil.

‘Ya Rabb. Malam itu aku benar-benar berhubungan dengan seorang pria. Tapi kenapa Mas Riswan tidak mengakuinya?’

Next
Duh, Riswan amnesia atau orang lain sih yang ngelakuin? 🤭