TUJUH
Bagian 7
“Ya, udah! Naik ke atas. Awas, tapi, ya!” Aku menggeser tubuh. Membiarkan Mas Eres yang tinggi dan lumayan bertubuh lebar itu membaringi kasurku. Lansgung berdecit, dong. Semoga nggak ambruk ini ranjang.
Mas Eres lalu memeluk tubuhku dari belakang. Langsung kutepis tangannya. Enak, aja! Dikasih hati, malah minta jantung. Ngelunjak ini cowok.
“Aku suruh turun, nih!” ancamku dengan pelototan mata.
“Ya, ampun, Na. Meluk doang, lho.” Mas Eres menarik napas dalam. Aku lalu menjaga jarak. Memberikan guling di tengah-tengah kami sebagai batas teritori. Awas kalau dia melanggar. Akan kusuruh dia tidur di teras.
“Jangan ngelunjak! Syukur aku bolehin kamu tidur di atas.” Aku merengut. Sebal dengannya yang coba-coba mengambil kesempatan.
“Kata Pak Ustaz—”
“Cukup, ya! Jangan nakut-nakutin aku lagi. Aku belum siap! Pokoknya, aku belum mau kamu sentuh, sebelum kamu kasih kepastian bakal tinggal di mana. Kalau kamu masih ngotot kita tinggal di rumah ibumu, mending aku mundur!” Kali ini aku tak main-main. Aku masih kuat dengan pendirian semula. Tidak ya tidak! 
“Iya, iya. Maaf,” kata Mas Eres dengan nada yang menyesal.
Aku tak menggubrisnya lagi. Berbaring dengan memunggungi suamiku yang entah sedang apa dia sekarang. Namun, rasanya hatiku tak tega. Kasihan, sih. Biar bagaimana pun, sebenarnya Mas Eres itu baik.Cuma ibu dan mbaknya saja yang bikin jengkel luar biasa.
“Kamu cuti sampai kapan?” tanyaku sembari membalik badan dan menoleh padanya.
“Tiga hari lagi aku sudah harus masuk, Na. Kamu?” tanya Mas Eres sambil menatapku dengan pandangan yang teduh.
“Aku masih empat hari lagi.” Aku mulai kehabisan topik. Mau ngomongin apalagi, coba?
“Besok kita pulang, yuk? Sebentar. Minta maaf ke Ibu. Terus izin ambil pakaian.” Suara Mas Eres lirih. Nadanya seperti orang yang agak putus asa. Apa dia sebenarnya takut kepadaku?
“Kamu sendiri aja,” jawabku dengan nada yang kini tak lagi meninggi.
“Berdualah, sama kamu.”
“Kamu mau aku dimaki-maki lagi sama Ibu?”
“Ya, kan, siapa tahu Ibu sudah adem hatinya. Pandai-pandai kitalah memperlakukan orangtua.”
Aku menghela napas berat. Mengapa harus aku yang pandai-pandai? Aku heran. Mengapa kita sebagai anak muda harus selalu mengalah kepada orangtua, tetapi orangtua itu sendiri sikapnya kasar, tidak sopan, dan terkesan tiran. Memangnya, sebagai sesama manusia kita tidak boleh membela diri? Hanya karena perbedaan usia, kita harus ‘manut’ saja meski diludahi? Ya, ampun. Aku masih belum bisa menerima dengan akal sehat.
“Nanti kupikirkan lagi,” ucapku dengan perasaan yang masih agak panas.
“Aku maunya kita saling akur, Na. Kamu bisa dekat sama Ibu dan Mbak Dian.”
“Mereka menganggapnya aku nggak sederajat, lho. Bagaimana bisa dekat?”
“Ya, kita pelan-pelan usaha. Mengalah dulu.”
“Ogah! Orang aku dicaci maki begitu kok disuruh ngalah!” Aku makin panas. Yang semula sudah mulai mereda, Mas Eres malah memancing kemarahanku lagi.
Suasana di kamar tegang lagi. Bunyi ponsel dari saku celana jeans milik Mas Eres tiba-tiba memecah kesunyian di dalam sini. Aku langsung merengut. Manusia tidak sopan mana sih, yang telepon malam buta begini? Apa nggak punya tata krama dan sopan santun?
Mas Eres tampak bangun dan merogoh sakunya. Mukanya tiba-tiba berubah saat melihat layar. Aku ikut bangun. Mengintip karena penasaran.
“Ibu?” tanyaku ketika membaca nama si penelepon.
Mas Eres mengangguk. Wajahnya menatapku dengan ekspresi bingung.
“Angkat! Loud speaker-kan!” kataku sambil menyikut lengannya.
Lelaki itu mengangguk. Kemudian dia menekan tombol hijau di layar dan menekan lagi pilihan loud speaker.
“Eres, kamu di mana? Kenapa jam segini belum pulang, Res?” Suara Ibu terdengar seperti orang yang habis menangis. Sengau dan parau. Dih, seriusan? Setakut itu dia kalau anak lelakinya yang sudah tua bangka ini tidak pulang ke rumah?
“Aku di ….”
Aku mencubit lengan Mas Eres. Memelototinya dan memberi kode biar dia tidak mengatakan keberadaan kami. Namun, dasarnya anak saleh, dia tetap saja bicara jujur.
“Di rumah Nana, Bu,” jawabnya liri sembari meringis menahan sakit cubitanku. Kucubit lagi sekali. Biar dobel sakitnya!
“Pulanglah kalian.” Suara Ibu seperti mengajak berdamai. Apa dia tipikal yang tak bisa jauh dari anak lelaki bungsunya? Aduh, aduh. 
“Ibu masih marah?” tanya Mas Eres pelan.
“Marah sebenarnya. Kenapa kok, Nana sekasar itu sama Ibu dan Mbak Dian? Apa memang begitu tabiatnya? Kan, semua bisa dibicarakan baik-baik.”
Aku memutar bola mata. Dih, kok sekarang playing victim? Ngatain aku kasar segala. Terus, apa kabar sendirinya?
“Mungkin bawaan capek, Bu. Kita sama-sama capek, jadi sensitif.” Mas Eres memberikan pembelaan. Tumben, pikirku. Giliran tadi, dia cuma diam kaya patung.
“Pulang, ya?” tanya Ibu via telepon.
Aku langsung menggelengkan kepala ke arah Mas Eres. Menyilangkan kedua tanganku, membentuk tanda X besar di hadapannya. Pokoknya tidak mau!
“I-iya … besok ya, Bu.”
Sontak aku lemas. Sudahlah. Sia-sia. Mas Eres memang tak bisa jauh dari ketek ibunya. Ya, sudah! Terpaksa, biarkan aku di sini dengan orangtuaku. Silakan kalau dia mau pulang. Malam ini juga boleh.
“Nana kuajak tapi ya, Bu?” tanya Mas Eres lagi dengan memasang ekspresi yang polos seperti bocah kelas enam SD. Menyebalkan! Pergi saja dia sendiri, ngapain ajak-ajak aku segala!
“Iya. Pulang, ya, Res?”
“Iya, Bu. Eres akan pulang sama Nana besok. Ibu tunggu, ya. Malam ini kami menginap dulu di rumah mertuaku.”
Nasib! Punya suami ngalahan. Tidak punya prinsip dan pendirian. Oke, baik. Sepertinya kita tidak sejalan, Mas Eres. Aku lebih baik menyerah saja dari awal, daripada harus diseret ke lubang buaya dan mendapatkan penghinaan yang bisa saja jauh lebih sadis.
(Bersambung)