IV
Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

°°°

Cathalina melangkah cepat menuju anak tangga, tanpa berbasa-basi sedikit pun dengan Rosie. Di kamar ia menjatuhkan tubuhnya di kasur, dan membenamkan wajahnya ke bantal. Rosie yang heran dengan gerak-gerik Cathalina, segera menghampirinya.

Pasti ada yang tidak beres, pikir wanita paruh baya itu. "Kate, are you okay?" Rosie mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Perlahan pintu yang tidak dikunci itu dibuka. "Kate, kamu kenapa?" tanya Rosie sambil mendekat, dan duduk di sisi ranjang Cathalina.

"Emmhh ... tidak apa-apa, Mam," jawab Kate sambil mengusap air matanya.

"Jangan bohong kamu!"

"Benar, Ma ... aku cuma pusing, sakit kepala," ucap Kate tak jujur. Ia tidak ingin mamanya mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dengan Hannah. "Anak-anak mana, Ma?"

"Tadi pergi sama papa ke mini market, sebentar lagi juga pulang."

"Oh ...." Cathalina beranjak dari tempat tidur, dan melangkah menuju kamar mandi. Sementara itu Rosie keluar dari kamar Kate, dan kembali melanjutkan menonton TV yang sempat terhenti tadi.

Cathalina menatap dirinya di depan cermin di atas wastafel. Wajahnya tampak kusut dengan raut penuh penyesalan. Ya, penyesalan atas kematian Kevin.

Cathalina menyalakan keran bathub, dan mengisinya dengan air hangat. Ia memutuskan berendam pada malam yang menurutnya amat melelahkan itu. Melepaskan segala penat serta pikirannya yang kacau setelah pertemuannya dengan Hannah. Bahkan, ia merasa sudah kehilangan semangat untuk mencari kerja.

***

Di ruang UGD di RS Sentosa, Hannah baru saja siuman setelah tak sadarkan diri selama tiga jam. Ia membuka matanya perlahan. Dilihatnya sang suami, Malik Al-Fateeh, sedang duduk di sisi kanan ranjang pasien.

"Alhamdulillah ... akhirnya kamu siuman, Sayang," kata Malik sambil tersenyum lalu mengecup kening Hannah.

"Aku di mana, Mas?" tanya Hannah yang masih dalam keadaan linglung.

"Kamu di rumah sakit. Tadi ada orang yang membawamu ke sini, katanya kamu pingsan di Coffee Café," jelas Malik.

Hannah mengingat kembali kejadian di kafe siang itu. Juga, pertemuannya dengan Cathalina.

"Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kamu pingsan begini?" tanya Malik penasaran.

"Tadi aku ketemu sahabat lamaku, Mas."

"Sahabat lama? Siapa?"

"Cath—" Belum selesai Hannah bicara, ada seorang dokter yang masuk ke ruangan UGD.

"Sudah siuman, ya? Saya periksa sebentar, ya?" kata Dokter itu basa-basi, lalu memeriksa mata Hannah dengan senter, dan menempelkan stetoskopnya ke dada Hannah. "Pak, Anda suaminya?" tanya Dokter sambil menatap Malik.

"Iya, betul, Dok."

"Bisa ikut saya ke ruangan?" Dokter meminta Malik mengikutinya ke ruang praktik.

"Tunggu sebentar, ya, Sayang." Malik mencium punggung tangan Hannah. Hannah hanya tersenyum tipis. Malik pun mengikuti dokter ke ruangannya. Terpampang papan nama di pintu bertuliskan 'Dr. Brotoadjie Sp. BOnk' dan di bawahnya tertulis 'R. Onkologi'.

Malik mengetahui apa itu 'onkologi', sehingga muncul banyak pertanyaan di otaknya. Apa? Onkologi? Sebenarnya Hannah sakit apa? Perasaanku tidak enak, batinnya.

Harum aroma lavender menyeruak serta cat dinding warna hijau toska menyambut kedatangan mereka saat dokter membuka pintu.

"Hmm ... warna yang tidak umum ada di ruangan rumah sakit, tapi aku suka," gumam Malik.

"Silakan duduk, Pak." Dr. Broto mempersilakan Malik duduk. "Begini, ini adalah hasil pemeriksaan Ibu Hannah." Dokter membolak-balikkan kertas itu. "Saya ingin bertanya, apa akhir-akhir ini ada keluhan penyakit pada Ibu Hannah? Dia merasakan pusing, atau yang lainnya mungkin?"

Malik mengernyitkan dahinya. "Iya, Dok. Dua minggu terakhir dia sering mengeluh cepat lelah, sering mual muntah, dan beberapa kali pingsan. Tadinya saya kira dia hamil, Dok." Malik menjelaskan panjang lebar.

"Sudah diperiksa?" tanya Dokter.

"Belum, sih, Dok. Itu baru dugaan saya."

"Ya, betul. Istri Anda memang positif hamil."

Senyum semringah muncul di wajah Malik. "Alhamdulillah ... ternyata betul dugaan saya, Dok!"

"Tapi ...."

"Tapi ... apa, Dok?"

Dokter melipatkan kedua tangannya di atas meja, dan menatap dalam mata Malik. Seperti ingin berkata sesuatu, tetapi ragu. "Ini ... silakan dibaca." Dr. Broto menyerahkan kertas hasil pemeriksaan.

Malik menerima kertas itu, lalu membaca dengan saksama. Betapa terkejutnya Malik, saat hasil tes darah menunjukkan bahwa Hannah menderita kanker otak stadium dua. Malik membelalakkan mata, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Inna lillahi wa Inna ilaihi raaji'uun. In-ini ... salah, kan, Dok? Istri saya tidak sakit kanker otak, 'kan?" tanya Malik tak percaya.

"Begitulah adanya, Pak. Anda harus tabah."

"Lalu, bagaimana dengan kondisi janin di dalam rahim Hannah, Dok?"

"Kondisinya sekarang masih aman, masih baik-baik saja. Tapi, semua juga tergantung dengan kondisi Ibu Hannah. Bila tidak ditangani dengan serius, dan sesegera mungkin, janinnya akan terancam. Kemungkinan terburuknya, kita harus memilih salah satu bila nanti anak ini lahir."

"Memilih salah satu? Maksudnya?" tanya Malik.

"Jika anak ini nanti lahir, tapi kondisi Ibu tidak membaik, maka hanya salah satu yang bisa diselamatkan. Ibu atau anak."

Mendengar penjelasan panjang lebar Dr. Broto, membuat dunia Malik serasa hancur seketika. "Astaghfirullahaladziim ... Ya, Allah ...." Malik mulai meneteskan air mata. "Dok, saya minta tolong jangan beritahukan hal ini pada Hannah sekarang," mohon Malik.

"Ya, saya paham. Tapi, walau bagaimanapun juga, istri Anda harus tahu. Sekarang lebih baik Pak Malik banyak berdoa, dan memulai pengobatan serius pada Ibu Hannah. Besok, saya akan melakukan CT scan pada kepalanya, dan ini resep obat dan vitamin yang harus dibeli."

Malik hanya mengangguk lemah, dan mengambil kertas resep. Hatinya bagai dicabik-cabik mengetahui kenyataan pahit itu. "Baik, Dok. Kalau begitu saya permisi," Malik bangkit dari kursi, dan keluar ruangan.

Tak terasa kertas pemeriksaan itu diremasnya kuat-kuat, dan dimasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya. Malik jalan dengan terhuyung-huyung, dan tatapannya yang kosong menuju ruang administrasi untuk menebus obat, dan membayar biaya yang lainnya. Lalu, Malik kembali ke ruang UGD.

"Sudah, Mas?" tanya Hannah begitu Malik masuk ke dalam ruangan.

"Iya, sudah," jawab Malik dengan senyum yang dipaksa.

"Apa kata dokter? Aku sakit apa?"

"Kamu hamil, Sayang. Kita akan punya dedek bayi." Malik duduk di samping Hannah, dan matanya berkaca-kaca.

"Mas bohong, ya? Kalau aku hamil, kenapa wajahmu sedih begitu, bukannya senang?"

"Bukan sedih, aku terharu, tahu?" Padahal dadanya terasa amat sesak. Malik merasa iba melihat istrinya. Dia tidak tega, dan belum siap bila harus mengatakan yang sejujurnya sekarang. Namun, Hannah merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya.

"Pak, maaf. Istrinya harus dipindahkan ke ruang rawat inap," kata seorang suster yang menghampiri mereka.

"Hah? Kok, aku dirawat, Mas? Kan, aku cuma hamil?" Hannah heran mendengar kata suster.

"Kondisi kamu masih lemah, jadi harus dirawat," jawab Malik sambil menyisipkan rambut Hannah yang terlihat di pipinya.

Kemudian dua orang suster mendorong ranjang Hannah, dan Malik membawa alat infus. Mereka menuju kamar inap 'Cempaka'.

"Hannah, aku mau ke musala dulu, ya, sebentar. Aku belum salat magrib," kata Malik setelah membetulkan posisi kantong infus.

"Iya, Mas," jawab Hannah. Malik pun keluar ruangan menuju musala.

"Ya, Allah ... mengapa Engkau memberikan cobaan yang begitu besar kepada kami? Berilah hamba kekuatan, dan angkatlah penyakit Hannah .... Ya, Allah, berilah kesehatan, dan keselamatan untuk calon anak kami ... sungguh Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ... Aamiinn ...," lirih suara Malik berdoa bersimpuh di atas sajadah berwarna hijau itu. Telapak tangannya mengusap wajah seraya menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia merasa tak kuasa harus menerima cobaan Sang Pencipta.

***

"Duh, Sayang ... kamu demam tinggi," Cathalina memegang kening dan leher Alice.

"Bawa ke hospital aja, Mam," kata Arsen yang merasa kasihan melihat wajah adiknya yang pucat, serta badannya yang menggigil di bawah selimut.

"Iya, kamu benar, Ar. Tolong pinjamkan kunci mobil sama kakek."

"Iya, Mam." Arsen pun turun ke ruang keluarga. 

Tampak Paul sedang membaca koran. "Kek, mami pinjam kunci mobil."

"Memang mami mau ke mana?" tanya Kakek sambil melipat koran.

"Mami mau ke hospital, Alice demam."

"Ooh ... bilang sama mami, biar Kakek antar!"

"Tidak usah, Pa. Biar aku sendiri saja." Cathalina muncul dengan menggendong Alice.

"Ya, sudah hati-hati ...." Tn. Paul menyodorkan kunci mobil. "Mmuach ... sehat, yaa...," katanya sambil mencium pipi, dan mengusap rambut Alice.

Cathalina mendudukkan Alice di jok depan, dan memasangkan sabuk pengaman. Arsen yang ingin ikut mendampingi adiknya duduk di jok belakang. Cathalina menancapkan gas melaju ke RS Sentosa. Sesampainya di sana, Cathalina mendaftar, dan mengantre panggilan di bagian ibu dan anak.

"Ar, jaga adikmu sebentar, Mama mau ke toilet," kata Cathalina.

"Ok, Mam!"Cathalina beranjak dari kursi tunggu, dan pergi ke toilet. Di saat yang bersamaan, seorang lelaki juga baru keluar dari toilet. Mereka bertemu mata. Cathalina amat mengenali wajah itu. Wajah yang amat dicintainya saat mereka masih menjalin hubungan dulu. Juga, selalu dirindukannya sebelum menikah dengan Kevin.

"Cath-thalina?" tanya Malik. Ia tak menyangka bisa bertemu mantan pacarnya semasa SMA. Pertemuan pertama semenjak 14 tahun, di toilet rumah sakit.

"Ya, Malik, apa kabar?" Cathalina menyodorkan tangannya hendak bersalaman. "Lama kita tidak bertemu," lanjutnya.

"Alhamdulillah baik, Lina." Malik hanya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Ia tidak mau bersalaman dengan yang bukan muhrimnya.

Cathalina menarik kembali tangannya yang tak disambut Malik. "Emmh ... sepertinya kamu sekarang banyak berubah, ya? Jadi semakin alim."

"Alhamdulillah." Malik terkekeh.

"Oh, iya, kamu sedang apa di sini? Ada yang sakit, atau ... kamu yang sakit?"

"Anakku yang bungsu sakit. Kamu sendiri?"

"Istriku yang sakit, dia sedang dirawat."

Ada perasaan yang tidak menyenangkan saat Malik menyebut kata 'istri'. Mengapa kita harus bertemu lagi di saat kamu sudah mempunyai istri, Malik? batinnya. "Oh, begitu ... boleh aku jenguk, sekaligus berkenalan?" Cathalina mengangkat kedua alisnya.

"Oh, boleh. Tapi, anakmu?"

"Ada kakaknya yang jaga. Lagi pula, nomor antreannya masih panjang, masih ada waktu."

"Mmm ... ok! Yuk!"

Mereka pun berjalan menuju kamar tempat Hannah dirawat. Malik membuka pintu, dan masuk dengan Cathalina mengekor di belakangnya.

"Hannah, ada yang ingin bertemu," ujar Malik.

"Siapa, Mas?" Hannah mencoba melihat wajah seorang wanita yang terhalang Malik. Malik pun bergeser, dan Cathalina melihat wanita berhijab sedang tergolek lemah di atas ranjang pasien. Matanya membulat setelah mengetahui siapa wanita itu. Hannah juga demikian.

"Hannah??"

"Gilia??" ucap mereka serempak.

Mereka bertiga saling berpandangan. Cathalina merasakan tubuhnya kaku. Ternyata Malik adalah suami Hannah. Masalahnya, ia sedang kesal dengan Hannah. Juga, ada getaran-getaran pada hatinya yang setelah lama menghilang, kini timbul kembali ketika berjumpa dengan Malik.

"Emmh ... maaf, sepertinya nomor antrean anakku sebentar lagi ...." Cathalina pura-pura melihat ke arah arlojinya. "Aku permisi dulu. Nanti, kalau sempat pulangnya aku mampir ke sini lagi ... bye!" Dia memaksakan senyumnya, dan melangkah keluar kamar inap.

"Gilia, tunggu ...!" Hannah mencoba bangkit dari posisi tidurnya, tapi kepalanya terasa sakit sekali. "Aahssh ...." ia meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.

"Sayang, kamu jangan banyak bergerak dulu!" Malik membantu Hannah berbaring.

Dokter Broto masuk ke dalam ruangan dengan dua orang perawat. "Lebih baik sekarang kita mulai lakukan CT scan," ucap Dr. Broto. "tapi sebelumnya kita lakukan USG terlebih dahulu, agar mengetahui usia kandungan Ibu Hannah."

"Baik, Dok," sahut Malik.