3. Dia membunuh suamiku


"Lepaskan!"

Aku mendorongnya hingga aku terbebas dari tangannya, tapi dia memang sengaja membiarkanku lepas, tangannya itu sangat kuat, sekali saja dia mengasari pasti tubuhku akan patah-patah.

"Kenapa kau membunuh, Fajar? Ada urusan apa kau dengannya?"

Aku merapatkan tubuh ke dinding, sedikit tenang, dia sepertinya tidak berniat untuk melanjutkan ciuman kasarnya tadi.

"Kau yakin ingin tahu?" Dia tertawa sinis.

"Tentu saja, harus ada alasan kuat kenapa seseorang harus membunuh suamiku, yang selama ini tidak ada masalah dengan siapapun. Dia orang baik dan ...."

"Sepertinya Fajar berhasil menjadi suami yang sempurna bagimu. Oke, kita bicarakan ini nanti, dan ingat sekarang kau ini istriku dan lupakan Fajar sudah pasti membusuk di neraka."

Neraka?

Seharusnya kau yang masuk neraka!

Aku menghela napas lega, setidaknya sendirian di kamar ini lebih baik. Aku harus menemukan sesuatu di sini. Bukti atau apalah aku harus melaporkan pada polisi bahwa pria mengerikan bernama Grey ini telah membunuh Fajar di depan mataku sendiri.

Tetapi sebelum aku melakukan sesuatu Mora masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali. Dia tersenyum, bersahabat. Lalu menunjukkanku baju-baju dalam lemari yang bisa kukenakan.  

Sejenak aku merasa heran, ada banyak stok pakaian wanita, dari gaun pesta, piyama tidur dan pakaian santai, bahkan stok pakaian dalam juga lengkap.

Pasti sudah banyak wanita yang telah bermalam di sini, sehingga harus ada pakaian-pakaian yang tak seharusnya ada dalam lemari seorang pria yang belum beristri.

Mora membantuku memilih pakaian yang harus kupakai, dia juga membantu membuka gaun yang sangat menyusahkan ini. Tak lama kemudian dia meninggalkanku yang hendak membersihkan diri.

Aku tidak terlalu terkejut melihat perabotan yang serba mewah, desain kamar dan kamar mandi yang tak tanggung-tanggung. Membuat aku semakin yakin bahwa Grey adalah seorang mafia, sehingga dia mampu mendapatkan segalanya. Aku harus memikirkan cara agar bisa segera pergi dari sini.

Selesai membersihkan diri aku memakai piyama tidur, kemudian melangkah perlahan mendekati meja kerjanya yang terletak di sudut ruangan, pasti ada sesuatu di sini.

Hanya ada map-map di meja kerjanya tidak ada laptop atau benda penting lainnya, kubuka laci, kosong. Tetapi laci yang terakhir tidak begitu, aku terkesiap menemukan sepucuk senjata api di sana. 

Aku ingat dia tidak membunuh Fajar dengan senjata api tapi dengan pisau, lalu untuk apa senjata api ini? Aku harus menghubungi polisi, sial sekali ponselku tertinggal dalam mobil Fajar.

Pasti Papa dan Mama sedang mencariku saat ini, aku yakin sebentar lagi polisi akan datang. Semoga penjahat ini segera ditangkap dan dihukum mati.

Lama aku berputar-putar di ruangan ini tapi tidak menemukan apapun, sampai aku memutuskan untuk duduk di tempat tidur. Aku tidak ingin tidur, jangan sampai dia memperkosaku.

****

"Apakah dia biasa tidak pulang semalaman?" Aku terpaksa harus bertanya juga pada Mora, dia yang memaksaku untuk sarapan di meja makan pagi ini.

"Tuan Grey, Nona?"

"Iya, dia."

Memangnya aku menanyakan siapa lagi? Aku semakin mengerti bahwa Grey ini sangat kejam sehingga ketika menyebut namanya saja orang rumah ini begitu hati-hati.

"Seringkali,"jawab Mora singkat.

"Apakah dia jahat?"tanyaku asal.

"Tergantung, Nona."

"Maksudnya?"

"Dia akan jahat pada orang yang tidak bersikap sesuai keinginannya apa lagi di rumah ini."

"Bagaimana mungkin dia memaksa orang bersikap seperti inginnya, bukankah setiap orang itu berbeda-beda?"

"Kami pekerja di sini, Nona. Jadi kami harus ikut apapun katanya."

Sebenarnya aku tidak suka bicara dengan orang seperti Mora, dia begitu hati-hari seakan ada kamera pengawas yang mengintainya. Aku yakin pasti dia juga tak suka dengan Grey hanya saja takut untuk melakukan sesuatu.

"Dia membunuh suamiku, Mora." Entah kenapa aku mengatakan ini padanya, setidaknya aku akan sedikit lebih tenang membagi beban pikiranku pada salah satu orang di rumah ini.

"Pasti Tuan punya alasannya, Nona."

"Fajar tidak mengenalnya aku yakin itu, dia membunuhnya dengan sangat kejam dan itu terjadi di depan mataku."

"Sebaiknya Nona menanyakan langsung pada Tuan, sepertinya Tuan sudah pulang."

Aku menoleh ke belakang dan gemetar melihat Grey sudah berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berseberangan denganku. Dia nampak keras dan kaku, sepertinya malam yang dia lalui tidak menyenangkan. Memangnya malam siapa yang akan menyenangkan ketika sudah melenyapkan nyawa seseorang.

Aku menikmati sarapan dalam diam, memotong dan menyuap sarapan dengan pikiran dongkol dan marah. Jujur saja aku takut pada orang ini, tapi aku harus bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Apa malammu menyenangkan?" Aku mengangkat wajah mendengarkan pertanyaan itu.

"Tidak akan ada orang yang akan menikmati malam ketika sesaat sebelumnya dia melihat suaminya dibunuh secara kejam,"balasku menatapnya sinis.

"Kalau begitu nikmati saja ketidaksenanganmu itu selamanya."

Aku nyaris ingin sekali menyiram mukanya dengan air kalau saja aku tidak memikirkan harus ke luar dari sini dalam keadaan hidup dan memasukkannya ke dalam penjara. Aku saksi kematian Fajar dan aku harus bertahan untuk itu.

"Kenapa kau membunuhnya,"geramku.

"Dia pantas mendapatkan itu,"ucapnya dengan pandangan menusuk.

"Setidaknya katakan apa yang dia lakukan sehingga kau harus membunuhnya!" 

"Jaga nada suaramu,"tekannya.

"Kalau begitu katakan saja yang sebenarnya."

Dia berdiri dari kursinya dengan tampang mengeras, aku gemetar ingin rasanya lari tapi entah ke mana.

"Kau harus diberi pelajaran." Lalu dia menarik tangan kasar dan menyeretku menaiki tangga.

"Lepaskan!"

Dia tidak menggubris teriakanku.