6. Hutang Nyawa


Aku berpegangan pada tepian kolam renang, rasanya sudah sangat dingin ditambah suasana mendung yang rasanya membekukan urat saraf.

Tetapi enggan ke luar dari sini karena Grey masih berdiri di tepi seberang sana, menatapku dari balik kaca mata hitamnya. Ingin rasanya berenang lagi tapi sangat tidak mungkin takut kalau nanti kakiku kram.

Mungkin aku harus mencoba satu kali putaran lagi, siapa tahu dia sudah bosan menontonku. Aku melompat lagi mencoba sekuat tenaga, tapi sepertinya nasib buruk sedang berpihak padaku, lagi.

Kakiku kram, tak bisa digerakkan. Aku merasa ada batu yang diikatkan di kakiku hingga terasa berat dan tak bisa digerakkan sama sekali.

Aku tenggelam.

Berusaha menggapai dan berteriak di antara timbul tenggelam, aku benar-benar kehilangan akal sampai beberapa kali menelan air kolam renang yang pastinya kotor.

"Tolong!"

"Mora!"

Entah ada yang mendengar atau tidak tapi menjelang semua gelap aku menangkap sosok yang menceburkan diri ke kolam renang.

"Sial!"

Terdengar umpatan yang suaranya kukenal tapi aku tak bisa melepaskan diri dari rangkulannya meskipun ingin sekali, aku tidak ingin berhutang nyawa pada orang seperti dia.

*****

Aku membuka mata dalam keadaan nyaman, sepertinya kejadian nyaris tenggelam membuatku baik-baik saja. Mora ada di samping tempat tidur ketika aku mengedarkan pandangan, syukurlah hanya ada dia.

"Bagaimana keadaan Anda, Nona?" Ada nada khawatir di suaranya yang menurutku itu tidak penting, harusnya dia tahu kalau aku baik-baik saja, bukan? Tuannya menyelamatkanku.

"Baik, Mora. Terima kasih atas perhatianmu," jawabku cepat.

"Dokter sudah memeriksa Anda tadi dan semua memang tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Aku mengangguk dan kembali memejamkan mata, ketika melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, di luar juga sudah gelap, sebaiknya aku melanjutkan tidur saja.

"Mora, silahkan pergi. Apa kau akan menonton aku tidur semalaman?" Aku menatapnya dengan menautkan alis.

"Oh maaf, Nona kalau itu membuatmu tidak nyaman. Aku hanya memastikan kalau Anda harus menghabiskan makan malam."

Aku melirik meja yang di kelilingi sofa, di saja ada nampan yang berisi makan malam. Lalu menatap Mora dengan malas.

"Aku akan makan, kau pergilah,"usirku menarik selimut menutupi kepala.

"Aku harus memastikannya dulu Nona."

Astaga!

Aku menyibak selimut dan menatapnya dengan kesal, dia seperti Mama yang suka memaksaku melakukan hal-hal seperti ini.

"Mora, kalau aku sudah lapar aku akan makan. Aku tidak ingin bunuh diri di sini dengan cara tidak makan, aku butuh energi untuk pergi dari sini. Jadi, jangan cemas aku takkan mati kelaparan."

"Baik, Nona."

Lalu dia melangkah pergi, seharusnya dari tadi saja aku kesal padanya dan dia akan segera pergi. Aku bangun, duduk di sofa memperhatikan nampan berisi makan malam yang sepertinya sangat menggoda itu.

Selesai menghabiskan makanan aku meraih ponsel, menimangnya berkali dan memutuskan untuk menghubungi Mama. Biasanya jam segini Mama belum tidur, tidak ada salahnya aku mencoba menghubungi.

Namun, nomor keduanya tidak aktif. Aku menjadi heran, semua terasa janggal. Kenapa Papa belum ke sini? Polisi juga tak ada yang datang? Jangan sampai mereka membiarkan aku di sini selamanya.

Pintu kamar terbuka aku langsung menoleh, ternyata dia sudah pulang. Seperti biasa, tak ada komentar ataupun sebuah tindakan yang mungkin membuatku ketakutan.

Benar, dia tidak melakukan apapun, kalau aku tidak menanyainya. Apa lagi kali ini dia sepertinya sedang mengurus sesuatu. Jika diperhatikan keningnya berkerut beberapa kali ketika memeriksa layar ponselnya juga ketika berpindah ke laptop di meja kerjanya.

Aku hanya memperhatikan sembari berdoa dalam hati, semoga dia dalam masalah karena sedang dikejar polisi.

"Tidurlah."

Aku terperanjat ketika kata-kata itu ke luar dari mulutnya. Apa kata-kata itu ditujukan padaku? Aku merasa perlu untuk menoleh ke kanan dan kiriku kalau-kalau ada orang lain di sini tapi tak kusadari.

"Aku?" ulangku.

"Iya," jawabnya masih tidak menatap wajahku dan itu membuatku kesal.

"Apakah kau seorang mafia?" Pertanyaanku terdengar lantang tapi dia hanya melirik sekilas.

"Apakah saat ini kau sedang diincar polisi?" Aku bertanya lagi hingga dia menatapku dengan tajam.

"Tidurlah, atau aku akan tidur di dekatmu dan membuka semua pakain yang kau kenakan itu."

Tanpa berkata-kata lagi aku merebahkan diri dan menarik selimut menutupi kepala. Rasanya menyebalkan sekali, dia akan terbiasa mengancamku karena ketakutan ini.

"Bagus, kau sudah mendapatkan mereka."

Mataku yang nyaris terpejam mendadak terbuka lagi, mendengar suara Grey yang sepertinya sedang bicara dengan seseorang.

"Besok aku akan ke sana."

Kemana?

"Kamu share alamatnya, dan jangan ada yang membocorkan informasi ini, aku tidak ingin ada yang tahu kalau aku sedang tidak ada di tempat."

Dia tidak akan ada di tempat besok?

Sepertinya hari esok akan menjadi hari yang panjang bagiku.