1. Awal yang Mengerikan


Fajar menepikan mobil di tempat yang cukup sepi, dia sepertinya tidak tahan lagi dengan hasratnya. Segera dia menghadap lurus padaku setelah memastikan keadaan mobil aman.

"Julia,"desahnya menjelajahi leherku. Aku mendesah kegelian tapi berpegangan erat pada bahu kokohnya, jujur saja aku juga begitu menantikan saat-saat ini, sementara kupu-kupu bertebangan dengan liar diperutku.

"Aku tidak bisa menahannya,"desisnya tepat di atas bibirku.

"Aku juga,"balasku menyusupkan tangan di antara kancing kemejanya.

"Tidak apa kita coba saja untuk yang pertama kalinya di mobil ini." 

"Apakah aman?" Aku ragu disela napas yang tak lagi teratur.

"Tentu saja, sayang."

Brak!

Gerakan Fajar terhenti, ketika pukulan beruntum mengenai pintu mobil, bisa kurasakan darah surut dari wajahku. Apa kami dirampok.

"Tetap di sini,"bisik Fajar yang sepertinya langsung kehilangan nafsunya yang tadi menggila.

"Fajar." Aku memegang tangannya tak bisa menyembunyikan rasa takut.

"Semua akan baik-baik saja." Dia bahkan tak bisa menyembunyikan nada tegang dalam suaranya. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak ke luar ketika baru saja dia keluar orang itu langsung menyeretnya dan menghujamkan pisau ke dadanya.

"Tidak!"

"Jangan!"

Crush!

Crush!


Aku menutup mulut menatap Fajar bersimbah darah, air mataku berdesakan tapi suara tak mampu ke luar. Darah mengalir dari bekas tusukan di dadanya tubuh pria yang kucintai itu berkelojotan meregang nyawa.

Aku bersimpuh dekat kepalanya meraihnya ke dalam pelukan dan memeluk erat. Dia pasti kesakitan, matanya terpejam rapat.

"Fajar, bangun,"isakku memecah keheningan jalan, baju pengantin bewarna putih yang kukenakan penuh percikan darah. Sementara ada langkah kaki yang semakin mendekat di belakangku.

"Fajar, ayo bangun kita harus pergi." Aku berbisik di telinganya padahal sepenuhnya kusadari bahwa raganya telah sepi, tak ada tarikan napas atau detak jantung.

"Aku mohon, Fajar,"bisikku menciumi wajah pucatnya sampai seorang meraihku dengan paksa meninggalkan tubuh itu.

"Lepaskan!"

"Apa mau kau, lepaskan!" Aku berusaha meronta tapi orang itu terlalu kuat tangan kerasnya menodorongku masuk mobil kemudian mengunci pintu dan dia berpindah ke belakang kemudi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi. Sementara sayup terdengar mobil polisi mendekati tempat kejadian tadi. Setidaknya ada yang menemukan Fajar, semoga dia masih hidup dia pasti akan mencariku, itu kalau aku masih hidup.

"Siapa kamu? Lepaskan aku!" Aku terus berteriak dan beberapa kali meninju kepala orang itu dari belakang. Wajahnya tidak jelas karena sepertinya dia menghindari cahaya langsung ke wajahnya.

Tanpa disangka dia berhenti mendadak, aku sudah bersiap-siap kabur tapi yang terjadi justru lebih buruk dari yang kubayangkan. Dia mengikat kaki dan tanganku lalu menutup mulutku dengan lakban, pandangannya begitu mematikan hingga aku berpikir dia bukan manusia.

Selama ini aku tak mengenal orang jahat di kehidupan ini, aku tak punya musuh, aku merasa sama memperlakukan orang tidak pernah merasa sombong atau berkata kasar pada mereka.

Sama halnya dengan Fajar, dia orang baik tapi kenapa nasibnya setragis itu? Dia dibunuh di depan mataku dengan sangat kejam.

Berbagai pikiran berkecamuk, mungkin orang ini akan membunuhku juga, atau melemparkanku ke bawah jurang sana. Jalanan sangat gelap di luar, aku semakin ketakutan saja. Yang paling aku sadari adalah orang ini membawaku semakin jauh, melewati  vila yang tadinya akan kami jadikan tempat bulan madu dengan Fajar. Entah bagaimana aku akan kembali nanti.


Entah berapa lama kemudian mobil itu sudah sampai di sebuah pintu gerbang yang bisa kulihat beberapa orang membuka gerbang itu dari dalam. 

Aku bergidik melihat besar itu, seakan di saja ada neraka yang menantiku. Mobil meluncur memasuki halaman dan berhenti dengan tergesa hingga aku bisa saja tersungkur ke depan kalau dia tak mengikatku.

Tanpa bicara sedikitpun dia kembali menyeretku dengan kasar, tanpa mempedulikan beberapa orang berpakaian pelayan terkejut melihat kejadian yang menimpaku.

Seorang wanita dengan dagu terangkat segera menyambutnya. Wanita dengan rambut disanggul rapi memakai pakaian yang sama dengan beberapa orang di sini. Sepertinya dia pelayan kepercayaan.

"Segera bersihkan dia, Mora. Aku harus menikah dengannya malam ini juga,"perintahnya dingin.

"Tidak!"

"Atau bersihkan saja badannya itu antarkan ke kamarku tanpa pakaian sehelai benangpun!"

 Tubuhku menggigil mendengar perintah mengerikan itu.