7. Melarikan Diri


Aku memejamkan mata mendengar tidak ada lagi suara, dia pasti sudah selesai bicara di telepone. Mataku tak mau terpejam, anganku melayang ke mana-mana.

Ide-ide berkeliaran bagaimana aku akan membebaskan diri dari sini besok. Dari sini aku akan langsung ke kantor polisi yang kulihat dari google map cukup jauh dari sini. 

Aku akan memerlukan uang untuk transportasi, akan kucari uang dalam kamar ini atau meminjam pada Mora, nanti setelah aku berhasil memenjarakan pembunuh ini aku akan datang lagi kemari dan membayar uang Mora.

Aku terbangun pagi-pagi sekali, seperti dugaan dia sudah tidak ada, pasti dia sudah pergi dari tadi. Segeraku membersihkan diri, sengaja memakai pakaian rumahan seperti biasa agar orang serumah tidak ada yang curiga, termasuk Mora.

Kuperiksa laci, kosong yang kutemukan hanya seperti kemaren sepucuk pistol. Tetapi aku tak membutuhkan itu. Kuperiksa lemari pakaianku, bukan. Lemari yang penuh dengan pakaian wanita itu, tanganku terhenti ketika menemukan sesuatu di lipatan kain itu.

Segepok uang ratusan!

Ingin rasanya aku berteriak kegirangan, tapi kutahan aku takut kalau tiba-tiba Mora masuk dan memergoki.

Sekarang aku harus mengambil langkah awal yang akan mendukung semua rencanaku. Aku menarik sesuatu dari dalam lipatan kain lainnya.

Obat tidur yang sudah kujadikan bubuk secara diam-diam. Sebenarnya aku juga tak mengerti kenapa ada obat tidur dalam lemari ini, secara tak sengaja kutemukan beberapa hari lalu.

Bergegas kumenuruni tangga mendekati Mora yang sedang mengaduk minuman untuk semua penghuni rumah ini. Dia langsung tersenyum menyambutku.

"Nona mau minum?" 

Aku mengangguk.

"Tolong bikinin aku jus jeruk, ya,"pintaku mengambil alih dia yang sedang mengaduk minuman, awalnya dia menolak dan meminta pelayan lain untuk mengadukkan minuman yang dia tinggalkan tapi aku bersikeras dan dia mengalah.

Aku tidak mengira akan segampang ini, dengan sangat mudah aku memasukkan obat itu ke dalam teko yang nanti airnya akan dimasukkan ke masing-masing gelas dan diberikan pada setiap pekerja yang ada di rumah ini.

Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah, mungkin nanti setelah aku kabur mereka akan dapat hukuman atau bahkan dipecat. Tetapi bagaimana lagi, aku tak mungkin mempertaruhkan hidupku di sini selamanya.

Aku menyelesaikan sarapan dengan tenang, makan sangat banyak membuat Mora tersenyum melihatku begitu bersemangat dia belum pernah melihatku bersemangat seperti ini.

"Sepertinya hari ini menyenangkan, Nona?" komentarnya setelah aku selesai.

"Tentu saja, Mora. Hari ini akan sangat panjang." Aku tersenyum menatapnya dan keyakinanku begitu penuh kalau dia akan mati penasaran.

Tanpa bicara aku segera menaiki tangga menuju kamar, bersiap-siap. Dadaku berdebar keras, rasanya ada sesuatu dalam diriku yang ingin meledak. 

Beruntung sekali di lemari ini banyak pakaian yang bahkan sangat pas digunakan untuk aksi heroik. Aku semakin yakin kalau siapapun yang masuk ke sini, suatu saat pasti akan dijadikan mafia sepertinya.

Ah, sudahlah!


Aku mematut diri di cermin, celana jins, jaket hoodie, rambut yang kugulung sengaja masuk topi, serta sepatu sport yang pastinya beharga sangat mahal dari yang kupunya di rumah.

Kuraba saku celana jins, memastikan kalau uang segepok itu sudah masuk saku dengan dipisahkan-pisahkan.

Segera kutulis surat, sebagai ucapan perpisahan untuk Grey Hermawan, sungguh aku tak bisa menahan senyum membayangkan betapa takutnya dia membaca surat ini nanti.

'Sampai Jumpa Di Kantor Polisi Grey Hermawan.'

****

Benar saja, semua tertidur dalam posisi yang nyaris membuatku terbahak. Sumpah, sejak melihat kematian Fajar aku belum pernah merasa sesenang ini.

Penjaga pagar yang tinggi menjulang itu nampak begitu kokoh, tapi setelah dipastikan ternyata tidak dikunci, sementara tiga penjaga terkulai di pos jaga mereka tak jauh dari pagar.

Dengan tanpa beban aku mendorong pintu pagar yang langsung menawarkan kebebasan padaku. Aku kembali menutup pintu menatap ke depan, aku harus berjalan beberapa meter untuk sampai di jalan lintas.

Untuk pertama kalinya aku merasa beruntung, melihat ada sebuah taxi yang sedang mangkal di pinggir jalan. Aku melambaikan tangan dan masuk ketika supirnya membukakan pintu, setelah kusebutkan alamat aku duduk dengan tenang.

Beberapa menit berlalu aku yang duduk dekat kaca terlalu sibuk memandang ke luar hingga terlambat menyadari sesuatu. Taxi ini terlalu sepi padahal isinya enam orang, aku segera memperhatikan mereka.

Pria semua dan sama-sama memakai stelan hitam, mereka juga pakai kaca mata hitam. Aku merasa terpojok sendirian, firasatku berubah. Belum ada kemujuran dalam pelarian ini bahkan mungkin sebaiknya.

"Stop!"

"Berhenti di sini, Pak," ujarku setenang mungkin tapi yang ada taxi ini semakin cepat meluncur cepat di jalanan.

"Pak?"

Ketakutan semakin membuatku panik, dengan nekat aku membuka pintu taxi tapi orang yang duduk di sebelahku bergerak cepat, entah bagaimana aku berada di antara mereka, diapit hingga tak bisa bergerak sama sekali.

"Kalian ada masalah apa denganku, lepaskan!"   jeritku tapi mereka seperti tak mendengar suaraku.

Sampai taxi ini berhenti di sebuah rumah besar dan mereka menyeretku masuk ke salah satu ruangan di rumah ini. Mereka melemparku hingga terjerambab di lantai, tepat di kaki seorang laki-laki bertampang menyeramkan.

Seluruh wajah orang itu hampir ditutupi brewok, kalau menurut taksiranku umurnya sekitar empat puluhan. Tetapi ada masalah apa dia denganku?

"Nyonya Grey Hermawan, sebuah kejutan besar hingga aku bisa menangkapmu dengan begitu mudah."

"Kalau kau menangkapku karena dia aku tak ada urusan dengan dia ...."

"Tapi kami ada urusan dengannya. Kalian lepaskan topinya!" serunya lalu seorang dari anak buahnya meraih topiku dengan kasar hingga rambutku terurai.

"Hahaha! Makanan yang bagus!" Suaranya menggelegar hingga merinding terdengar di telingaku.

"Siapkan dan ajari dia seperti yang biasa, jangan sampai mengecewakanku!"

Lalu dia beranjak dengan beberapa orang di belakangnya, sedangkan aku segera di tarik oleh lima orang wanita bertampang keras ke sebuah ruangan lain.

Ruangan ini lebih mengerikan, mereka bergerak tanpa bicara. Ada sebuah televisi besar, salah satu dari wanita itu menyalakan kaset tapi sebelumnya dia menatapku tajam.

"Pastikan kau menonton setiap detailnya, karena Tuan Alex akan menginginkan kau dalam setiap posisi dalam kaset ini."

****

Bantu suscribe dan rate kalau perlu share juga ya, biar semangat ngetiknya, makasih 🤗🤗