Part 5–Kemarahan Bagas
Meskipun hubungan kami sedang bermasalah dan tidur di kamar terpisah, tapi aku tetap menyiapkan sarapan dan semua keperluannya dengan baik. Bagaimanapun juga, statusku masih istri sah dan selama itu juga akan kulayani dia dengan baik kecuali ranjang.

"Mas?" panggilku seraya mengetuk pintu kamarnya, tapi tak ada sahutan.

Kuputar handle pintu yang ternyata tidak dikunci dan mendapati kamar ini kosong. Luka yang masih sangat basah ini kembali tersayat saat menyadari diam-diam Mas Adi pergi dan bermalam di rumah istri barunya.

Aku bersandar lesu di dinding sembari mendekap pakaian kerja yang sudah rapi ini, lalu merosot perlahan dan berjongkok dengan mata yang sudah memanas. Bahkan dia lebih mementingkan perasaan Indira daripada perasaanku yang masih sangat terluka.

Apa tidak bisa Mas Adi menunda bertemu istri mudanya itu di saat hati ini masih perlu disembuhkan?

Ingin rasanya aku tak lagi menangis dan berusaha kuat, tapi ini terlalu sakit. Bukan baru setahun dua tahun kami hidup bersama melewati asam pahitnya kehidupan, tapi belasan tahun.

Awal bertemu dengannya, kami sama-sama bekerja di perusahaan yang sama. Namun setelah menikah, dia memintaku berhenti dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Enam bulan menjalani pernikahan, semua masih baik-baik saja.

Namun di tahun pertama pernikahan, ujian mulai datang. Mas Adi dipecat dari perusahaan karena terlibat pertengkaran dengan atasannya. Dia berjuang keras mencari pekerjaan dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya, tapi mencari pekerjaan lagi tak semudah membalik telapak tangan.

Mau tak mau, Mas Adi bekerja seadanya. Selain pernah bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket, dia juga pernah bekerja sebagai ojek. Semua tak bertahan lama. Sering kali dia bergonta-ganti pekerjaan karena merasa tak nyaman dan biasa.

Perekonomian yang terasa semakin sulit, membuatku memutuskan turun tangan dan Mas Adipati pun mengizinkan. Aku bekerja di tempat laundry, juga membuat kue basah untuk dititipkan di warung-warung. Malam harinya, aku menerima setrika pakaian dari para tetangga yang menggunakan jasaku.

Di tahun kedua, kami bersyukur dan bahagia saat kabar baik hadir menyapa. Kehamilan yang selama ini begitu kuharapkan akhirnya terkabul. Sayang, karena kelelahan dan kondisi janin yang lemah membuat diri ini harus rela kehilangannya sebelum sempat dilahirkan. Aku sempat terpuruk, tapi Mas Adi selalu menguatkan.

Di tahun ke tiga, keadaan ekonomi keluarga kami sudah membaik karena Mas Adipati diterima sebagai staf akuntan di sebuah perusahaan ternama. Meskipun hanya karyawan biasa, tapi kami memutuskan mengambil cicilan rumah dengan biaya patungan.

Kabar baik kembali hadir di tahun ke lima, di mana Bagas telah hadir memberi warna dan kebahagiaan baru untuk kami. Mas Adi memintaku tetap bekerja agar perekonomian tetap stabil dan kami tidak kesulitan membayar cicilan rumah. Sayangnya, ketika Bagas menginjak usia delapan tahun, Mas Adi mengalami kecelakaan motor. Berbulan-bulan dia hanya bisa diam di rumah karena kakinya lumpuh.

Aku kembali menjadi tulang punggung keluarga agar bisa memenuhi semua kebutuhan, dan mencari biaya untuk pengobatan juga terapi kaki Mas Adi. Kami berhemat agar cicilan rumah tetap terbayar karena hanya aku sendirian yang harus menanggung semua pengeluaran untuk sementara waktu.

Namun ternyata, semua perjuangan yang sudah kami lewati selama ini tak berarti apa-apa di matanya. Kupikir ikatan cinta kami akan semakin menguat, tapi nyatanya tidak. Mas Adipati justru terbuai dan tergoda dengan bunga baru yang jauh lebih segar di saat keadaan ekonomi kami sudah sangat membaik. Dengan bantuan penghasilan dari toko kueku, cicilan rumah sudah lunas. Pun dia sudah mampu membeli mobil second.

Memang benar. Ujian terberat laki-laki di saat sukses adalah wanita, dan Mas Adi sudah gagal melewati ujian tersebut. Dia gagal menjaga mata dan hati, juga lupa akan janji-janjinya yang berkata akan setia padaku sampai maut memisahkan.

"Ibu?"

Mendengar Bagas memanggil, lekas aku bangun dan meletakkan pakaian kerja Mas Adi di kasur.

"Ya, Bagas! Ibu di sini!" Kuhapus jejak air mata di wajah, lalu menutup pintu dan berjalan menghampiri putra tampanku yang sudah berdiri di dekat meja makan.

Aku memasang senyum melihat Bagas memandangku dalam diam.

"Ayo sarapan! Kenapa bengong, hm?" kataku seraya mengusap rambutnya.

"Ayah tidak ikut makan?" tanyanya ketika aku sedang menuangkan air ke dalam gelas.

"Ayahmu sudah berangkat pagi-pagi tadi. Katanya ada meeting penting," jawabku berbohong. Sejak Mas Adipati sembuh dari lumpuhnya, dia memang diterima bekerja lagi di sebuah perusahaan besar sebagai staf HRD sampai sekarang ini.

"Oh, ya?" Tatapan Bagas terlihat meragukan jawaban tersebut, tapi aku kembali tersenyum.

"Sudah jangan bengong lagi. Ayo makan! Nanti telat ke sekolahnya, lho."

Aku menarik kursi, lalu duduk di samping Bagas yang menyantap nasi kuning dengan tidak bersemangat.

"Hari ini Ibu jadi mengurus gugatan cerai?"

"Iya."

"Toko gimana?"

"Kan, ada Wulan dan Ahmad yang jaga. Ibu juga harus cari kontrakan lagi karena kemarin belum dapat."

"Kenapa Ibu yang harus pergi dari rumah ini? Kenapa tidak Ayah saja yang pergi? Biarkan saja Ayah tinggal bersama istri mudanya itu."

Tanganku yang hendak menyuapkan makanan pun jadi urung dan menurunkan sendok lagi.

"Karena rumah ini milik ayahmu, Nak."

"Tapi Ibu juga punya hak. Bahkan jauh lebih berhak daripada Ayah!" tegasnya dengan suara rendah. "Aku tahu dan saksi mata perjuangan Ibu dari dulu. Saksi dari pengabdian dan ketulusan Ibu pada Ayah. Ibu tidak boleh kalah dan menyerah, Bu! Tidak boleh! Aku tidak rela wanita itu merebut dan menikmati hasil jerih payah Ibu dan Ayah!"

Kulirik Bagas. Tangannya mengepal kuat mencengkeram sendok.

"Bagas ...." Aku menyentuh punggung tangannya lembut.

"Andai membunuh tidak dosa, ingin sekali aku menghabisi wanita itu!" desisnya penuh penekanan.

"Astaghfirullah. Istighfar, Bagas. Kamu tidak boleh bicara begitu." Aku kaget dan tak menyangka Bagas akan mengucapkan hal jahat seperti itu.

"Tapi wanita itu dan Ayah sudah menyakiti Ibu. Dia sudah menghancurkan keluarga kita!" geramnya dengan rahang mengatup kuat. "Wanita itu lebih jahat daripada hewan! Anjing saja ketika ditolong tahu cara berterima kasih. Tapi dia tidak!"

"Sudah, Nak. Sudah. Istighfar, ya. Jangan emosi terus! Ibu tidak apa-apa kehilangan Ayah asal ada kamu. Kendalikan emosi. Ibu tidak mau kamu terhasut bisikan setan. Hanya kamu satu-satunya harapan dan kekuatan ibu sekarang, Bagas. Jangan membuat ibu takut."

Bagas terlihat mencoba mengendalikan diri dan mengatur napasnya yang terlihat berat.

"Minum dulu dan tenanglah." Aku menyodorkan gelas minum seraya menatap khawatir padanya.

"Kalau memang ada yang harus pergi dari rumah ini, maka ayahlah orangnya. Bukan Ibu!"

🍁🍁🍁