Part 1–Tak Sengaja Bertemu
Bertemu Suami dan Selingkuhannya di Jalan

"Mas Adipati!"

Suamiku yang tengah mengendarai motor dengan wanita yang memeluk itu langsung menoleh ke samping. Aku yang sedang menggunakan jasa ojol pun tersenyum dan berusaha menyejajari motornya. Raut wajah dia jelas terlihat kaget. Begitu juga dengan raut wajah wanita di boncengannya.

"Hati-hati nabrak, Mas. Lihat ke depan!" Aku memperingatkan seraya menunjuk ke jalan.

Mas Adi sesekali melihat jalan, lalu menatap padaku lagi. Pelukan wanita itu pun langsung terlepas dan mundur memberi jarak. Tawa yang terdengar dari keduanya pun lenyap seketika.

"Aku tunggu di rumah, ya, Mas! Aku duluan!" kataku dengan sedikit berteriak. "Lebih cepat jalannya, Bang," pintaku yang langsung dituruti pengemudi ojol ini.

Bertepatan dengan motor ini yang berlalu meninggalkannya, air mata luruh membasahi pipi. Napasku terasa sesak dan pendek-pendek. Ternyata gosip yang pernah kudengar bukanlah isapan jempol belaka. Dari cara mereka berinteraksi dan berpelukan, tak mungkin tidak ada hubungan spesial lagi.

🍁🍁🍁

Sesampainya di rumah, Bagas yang sedang berada di halaman pun menoleh.

"Ibu ...." Putra semata wayang kami yang berumur empat belas tahun itu mematikan dan meletakkan selang air, lalu mendekat. "Ibu dari mana saja? Kenapa baru pulang? Aku khawatir, lho, Bu. Ibu pergi dari siang. Di telepon juga tidak diangkat-angkat."

"Ibu ...." Ucapanku terhenti ketika kaki yang terasa lemas ini tak lagi mampu menopang badan. Akan tetapi, Bagas dengan cepat menahan tubuh ini sebelum sempat terjatuh.

"Ibu kenapa?" tanyanya khawatir.

Aku tersenyum dengan hati perih. "Ibu tidak apa-apa."

"Dijaga baik-baik ibunya, ya, Dek. Jangan ditinggal sendirian," kata pengemudi ojol sebelum dia pergi.

"Maksud Abang ojol apa, Bu? Ibu sakit?"

Aku menggeleng. "Bantu ibu masuk, Bagas."

"Iya, Bu. Ayo." Bagas memapahku ke ruang keluarga dan mendudukkanku di sofa.

"Boleh minta tolong ambilkan ibu minum?" 

Bagas mengangguk patuh, lalu kembali ke sini dengan membawa segelas air minum.

"Ibu sebenarnya habis dari mana? Katanya mau bertemu teman sebentar. Tapi sore-sore gini malah baru pulang," cicit Bagas yang sudah ikut duduk di sampingku.

"Ibu ...." Aku lagi-lagi tak sanggup melanjutkan ucapan. Rasanya sangat sesak dan sakit untuk sekadar berkata-kata.

"Ibu? Ibu kenapa nangis?" tanyanya panik ketika melihat air mataku berjatuhan lagi tanpa mampu dicegah.

"Maafkan ibu, Nak. Ibu ... ibu sudah tidak sanggup bertahan lagi."

"Ibu kenapa bicara begitu? Ibu kenapa?" Bagas merangkul dan mencoba menenangkanku yang terisak lirih sampai dada dan tenggorokkan ini terasa nyeri.

Indira -sepupu Mas Adipati- tak kusangka akan mengecewakan dan menghancurkanku untuk kedua kalinya. Dia yang butuh pekerjaan setelah putus kontrak, sengaja merantau ke kota ini dengan bantuan Mas Adipati. Aku pun setuju dan mengizinkan dia untuk tinggal sementara waktu sebelum menemukan kost-an.

Namun, dua bulan setelah dia tinggal di sini, hati rasanya tak enak. Kedekatan antara Mas Adi dan Indira seperti bukan hanya kerabat. Aku menceritakan tentang perasaan ini dan ketidaksukaan sikap keduanya pada Mas Adi. Akan tetapi, dia menyangkal dan mengatakan kalau aku terlalu berburuk sangka.

Aku mencoba percaya. Sayang, kepercayaan itu dihancurkan ketika tak sengaja aku melihat keduanya berpelukan dan hampir berciuman di dapur. Aku yang kala itu hendak berangkat untuk mengecek toko kue, terpaksa kembali ke rumah untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Saat itulah kejadian yang tidak diduga disaksikan langsung oleh mataku sendiri.

Mas Adi dan Indira tak mampu berkelit, tapi keduanya kompak meminta maaf dan mengaku khilaf. Mereka sama-sama berjanji takkan mengulangi kesalahan yang sama. Meski sakit dan ragu, aku mencoba percaya dan memberi kesempatan Mas Adi untuk memperbaiki semua. Dia juga setuju dengan keinginanku yang meminta Indira segera pergi dari rumah ini.

Namun sayang, hatiku telah dipatahkan kedua kalinya hari ini oleh mereka. Tidak. Bukan hanya patah, tapi hancur sehancur-hancurnya. Aku yang baru pulang bertemu teman lama untuk membahas pesanan kuenya, tak sengaja melihat mereka di jalan.

Kuminta ojol untuk diam-diam mengikuti. Ke mana pun mereka pergi, aku selalu membuntuti dengan mengambil beberapa foto dan video kebersamaan Mas Adi dan Indira. Sakit ini tak bisa ditepis, tapi aku berusaha menguatkan diri.

Lebih hancur lagi ketika mendapati keduanya masuk ke sebuah hotel murah dan baru keluar lagi dari sana satu jam kemudian. Bisa saja aku masuk dan langsung menghardik keduanya, tapi kaki ini seakan terpaku di tempat. Hal yang bisa kulakukan hanya mematung gemetar seiring goresan luka yang semakin terasa nyeri.

"Ibu ... cerita padaku Ibu kenapa? Aku telepon Ayah, ya."

"Jangan, Nak," larangku seraya mencegah tangannya yang hampir menelepon Mas Adi. "Sebentar lagi juga ayahmu pasti datang."

"Lho, bukannya Ayah lagi ada tugas di luar kota?"

Aku hanya tersenyum perih. Bukan tugas ke luar kota, tapi tugas menghabiskan waktu dengan wanita idaman lain.

"Aina!"

Mendengar suara Mas Adi, lekas kuhapus jejak-jejak air mata dan menoleh ke pintu. Di sana, Mas Adi datang bersama Indira yang menatap sungkan padaku.

"Ayah sudah pulang? Bukannya ada tugas di luar kota dua hari?" tanya Bagas ketika Mas Adi mendekat ke sini dengan Indira yang mengekori.

"Anu, ayah ...." Mas Adi tak melanjutkan ucapan dengan matanya yang melirik padaku.

"Kenapa? Batal? Kok, bisa ke sini dengan Mbak Indira?" cecar Bagas.

"Bagas," panggilku seraya menyentuh tangannya. "Tolong masuk ke kamar dulu, ya. Ada hal yang harus ibu bicarakan dengan ayahmu." Aku tersenyum lembut.

Terlihat ada kekhawatiran dari sorot matanya yang menatapku, tapi akhirnya Bagas mengangguk patuh. Dia beranjak bangun, lalu pergi ke kamar di lantai dua sambil sesekali menoleh ke sini.

"Duduk, Mas," kataku melihat dia masih berdiri.

Tanpa mengalihkan pandangannya dariku, Mas Adi duduk di sofa single dengan jemarinya yang saling bertautan.

"Kamu mau berdiri saja di situ?" tanyaku pada Indira.

Indira menatap sungkan, lalu duduk di sofa single lain yang berhadapan dengan Mas Adi.

"Aina, aku ...."

"Biarkan kali ini aku dulu yang bicara, Mas." Aku menyela ucapan Mas Adipati.

🍁🍁🍁