Bintang: Bad Day
Terlahir sebagai gadis panti asuhan membuatku memiliki harapan sederhana, yaitu menikah dengan pria yang mencintai dan kucintai. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Aku menikah dengan Om-om dingin yang sama sekali tidak menginginkanku. 
Andai aku bisa menulis takdirku sendiri.
☁️☁️☁️
"Buka bajumu, gadis manis!" Pria bertubuh gendut dan sedikit botak itu melepas satu persatu kancing bajunya. Kemeja putih lengan panjang terbuka dan memperlihatkan perut buncit di balik kaus dalam putih.
Keringat membanjiri seluruh tubuh walaupun suhu kamar ini dingin. Aku meremas sprei merah muda bertabur kelopak mawar, berharap bisa mengusir ketakutan yang menyelimuti hatiku. Inikah akhir dari pupusnya masa depanku? Menikah dengan pria duabelas tahun lebih tua dariku. 
"Bunda ... aku takut." Aku berbisik sambil memejam saat langkah pria itu dekat. Harus bau melati dan mawar menguar di kamar pengantin, tetapi malah membuatku mual seolah seperti bau busuk. 
Pria itu menyibak rambut sebahuku dan berbisik. "Ayo, Bintang ...." Aku semakin menutup wajah dengan kedua tangan. 
"Enggak mau, enggak. ENGGAKKK!"
"Hei, Bi! Kamu ngigau, ya? Dih melamun sampek segitunya! Ayo, ke kantin." 
Aku membuka tangan dan mendapati gadis tambun mengerutkan dahinya tepat di sampingku. "Kamu kenapa? Wajahnya pucat begitu?"
Kuhela napas lega. Semua itu hanya ilusi semata. Suasana kelas telah sepi, hanya ada beberapa murid yang masih duduk di bangkunya. Jam dinding mengarah pada angka sepuluh lebih empat puluh menit. Kelas Matematika telah usai dan waktu istirahat telah berlalu lima menit lalu. 
"Ayo, ke kantin. Kamu tumben deh gak merhatiin kelas tadi. Kenapa?" Aku tidak menolak saat Wiwied menarik tanganku keluar kelas. Tak menjawab dan mengikuti kemana langkahnya pergi, sementara pikiranku melayang pada malam itu.
“Pokoknya Bintang gak mau nikah!” Aku memekik dengan napas naik turun memburu. Mata memanas sejak tadi, namun masih bisa kutahan agar tidak tumpah.
Bunda masih menatapku teduh. Lembut membelai seperti angin malam itu. Wanita berjilbab kuning gading itu tidak marah pun kesal karena penolakanku. Bunda mendekat ke arahku. Buku-buku jemarinya yang empuk meraih pundak. Kubuang wajah pada deretan foto yang berjajar di dinding bercat putih yang mulai memudar. Foto berbingkai coklat dengan gambar anak-anak duduk berjejer rapi mengenakan baju yang sama, di belakangnya sebuah bangunan yang baru direnovasi sebagai background. Terdapat papan besar bertuliskan Panti Asuhan Bunda Maya. Ada aku di antara anak-anak itu.
“Kakak … bunda mohon, kali ini saja. Turuti kata-kata bunda, ya?”
“Bunda, Bintang masih delapanbelas tahun, baru saja naik dua belas, mana mungkin menikah? Apalagi dengan orang yang sama sekali gak Bintang kenal.” Suaraku merendah, tercekak di tenggorokan. Ada yang menghentak dada, menghimpit hingga sakit. Mata menatap wajah yang teduh mengiba. Tidak ada air mata yang menggambarkan kepedihan hati, karena bagiku hidup ini terlalu remeh untuk ditangisi.
“Apa karena teman kamu yang kirim pesan itu?"
Aku menggeleng. "Bukan apa-apa, Bunda ... tapi–"
"Sayang. Percaya Bunda. Tidak akan seburuk yang kamu bayangkan. Mas Awan pria yang baik. Ayah Wijaya sudah telepon Bunda. Besok mereka akan ke sini.”
Apakah kata 'baik' cukup sebagai jaminan hidupku kelak akan bahagia? Pernikahan sama sekali belum terpikir olehku. Bagamana dengan masa depanku. Mimpi-mimpiku.
"Ya, Kak?" Bunda menatapku penuh harap. Aku menggeleng pelan lalu menunduk dalam.
Bunda … aku masih ingin bersama Bunda lebih lama bersama adik-adik di panti ini. Tidak ingin jauh bahkan pergi. Ungkapan itu hanya bisa kutelan dengan rasa pahit di tenggorokan.
Jalan hidup manusia digariskan dalam takdir. Tidak ada yang mampu menulis kisahnya sendiri. Sama halnya dari siapa aku ingin dilahirkan. Tahu-tahu aku tumbuh dan besar di panti asuhan dengan Bunda. Dulu, aku pikir Bunda adalah ibu yang melahirkanku. Kenyataan pahit itu kusadari saat Bunda menerima bayi atau anak setiap tahun dan semakin banyak jumlahnya. Bayi-bayi itu tidak dilahirkannya. Namun diterimanya dari seseorang. Mungkin seperti itulah aku ditemukan. Lalu siapa dia? Orang yang melahirkanku di dunia ini? 
Jika kini aku harus menikah di usia belia dengan pria asing, apakah ini takdir anehku selanjutnya?
“Woi! Ngelamu terus.” Sebuah tepukan keras di pundak membuatku terperanjat.
“Wiwied! Bikin kaget aja.” Aku memekik seraya tangan mengelus bagian yang terasa ngilu.
“Kamu si, dipanggil gak nyahut-nyahut. Dari tadi ngelamun aja. Mikirin apa si?”
Gadis bertubuh gempal itu menarik segelas jus alpukat kesukaanku di meja. Mungkin tadi dia telah memesannya. Tanpa permisi mulutnya menegak isinya hingga tandas. 
“Itu punya aku, Wied.”
Wiwied hanya menyeringai kuda. Pandangannya menyapu sekeliling kantin yang ramai dipenuhi siswa siswi. “ Hust! Jangan keras-keras. Aku haus banget, Bi,” jawabnya sambil menjauhkan gelas kosong di samping gelas kosong miliknya. Aku hanya mencebik.
“Eh, kamu belum jawab pertanyaan aku, lo. Kamu kenapa si, akhir akhir ini melamun terus?” Gadis itu menatapku penuh selidik.
“Bunda mau nikah!” Aku mengaduk-aduk somai di mangkuk tanpa selera memakannya. Padahal cacing dalam perutku berdemo meminta jatah karena pagi tadi tidak diisi.
“Ha?” Camilan yang ada di mulut Wiwied sukses berhamburan. "Bunda Maya mau nikah? Dengan siapa? Tapi ... ya, gak apa-apa, si. Toh, Bunda juga manusia yang butuh kasih sayang dan cinta. Iya, ‘kan?” 
“Lebay detected!”
Gadis itu terkekeh. “Tapi bener, kan? Daripada kamu jomlo!”
“Emang kamu punya pacar?”
“Enggak.”
“Dih. Gitu.”Akhirnya tawa kami pun meledak. 
Jujur mengatakan kebenaran pada sahabat bukan solusi dari sebuah permasalahan. Malah kadang membuat runyam. Jadi, aku memilih untuk diam. Selain pernikahan itu belum pasti—aku berharap begitu— juga tidak yakin Wiwied bisa menjaga mulutnya. Mengingat dia paling tidak pandai menjaga rahasia.
“Kalo kamu pengen nikah umur berapa, Wied?” Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di otakku.
“Aku nikah? Gak tau deh. Paman, adik ibuku sekarang malah tinggal di rumah, jadi deh aku hidup sama dia.” Gadis itu menghentikan gerakannya menarik mangkuk somai ke arahnya. Dia hanya memamerkan giginya saat kubulatkan mata lalu tersenyum melihat Wiwied menikmati kudapan khas Bandung itu.
"Wait!" Dia menyipitkan mata seraya mengunyah, menatapku penuh selidik. "Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal kawin? Kamu sendiri kapan?"
Aku mengerjap mendengar pertanyaan tak terduga tiba-tiba. "E-enggak. Gak kenapa. Tanya aja." Satu sendok somai kujejalkan ke mulutnya.
Jangan sampai Wiwied curiga dengan sikapku. Dia sebenarnya sangat peka akan sesuatu hanya saja mudah lupa terlena apalagi yang berhubungan tentang makanan. "Kenapa si, kamu gak tinggal di panti aja bareng aku.” 
“Terus rumah warisan dijual atau dikasih ke pamanku? Gak bisa, Bi. Aku harus merawat harta peninggalan orang tuaku satu-satunya.”
Aku mengangguk memahami keadaan Wiwied. Pasti rumah itu penuh kenangan baginya. Kebersamaan dengan keluarga momen tak terganti. Akan tetapi kenapa Bunda seolah ingin aku cepat-cepat pergi darinya. Apa Bunda tidak sayang padaku lagi? 
"Aku kesepian, Bi, di rumah," gumam Wiwied.
Seketika pandanganku tertuju gadis keriting di depanku. Apa aku kabur saja ke rumah Wiwied agar Bunda membatalkan niatnya?

Next?

Jan lupa untuk susbcribe ya biar gak ketinggalan cerita. Langsung 3 bab ini. 

Komentar

Login untuk melihat komentar!