Prolog

Jakarta, 01 Januari 2055

Deru nafas tak beraturan memburu langkah kaki gadis dengan rambut yang dikuncir kuda itu. Sesekali kakinya tersandung lantaran sudah tak kuat lagi berlari. Ditambah kondisi jalan yang sedikit berbatu. Semua rasa lelahnya tampak dari wajahnya yang semakin pucat. Keringat membasahi dahi hingga ke leher jenjangnya yang putih.

Keadaannya benar-benar tak bisa dikatakan baik-baik saja. Baju laboratorium yang ia kenakan kini kotor dan kusut dimana-mana. Celana yang dikenakannya robek dibagian lutut yang dihiasi bercak darah karena ia terjatuh beberapa menit yang lalu.

Matanya terus mengawasi gang sempit yang baru saja ia lewati. Berharap tak ada lagi orang-orang berpakaian serba putih dengan wajah kaku yang menyeramkan itu mengejarnya. Gadis itu berhenti sejenak dengan nafas tersenggal, melihat keadaan gang yang ia lewati.

Tampaknya, tak ada lagi orang-orang yang mengejarnya. Akhirnya ia bisa bernapas lega karena tak ada satu orangpun yang muncul disana. Ia berjalan pelan karena lelah yang tak lagi bisa ia tahan. Berharap tak ada CCTV yang mengambang didaerah yang gelap itu.

Selama ia berlari, gadis itu sempat mendengarkan berita yang disiarkan lewat hologram diseluruh kawasan kota. Berita itu tentang ilmuan muda yang membawa kabur hasil penelitian terlarang.

"Berita itu benar-benar tidak bisa dipercaya. Gue yakin, semua berita itu tentang gue. Kenapa mereka membuat berita aneh kayak gitu. Gue keluar dari laboratorium itu baik-baik. Gue juga nggak pernah ngambil apapun dari laboratorium. Mereka yang ngejar gue tadi pasti juga berasal dari pihak laboratorium. Kenapa pihak laboratorium ngeburu gue segini gigih." Gerutu gadis itu.

Saat gadis itu sibuk dengan pemikirannya, seseorang berpakaian serba hitam dengan wajah ditutupi selembar kain berwarna hitam meraih lengan gadis itu dengan cepat, menguncinya agar ia tak lagi bisa berontak.

"Heh! Apa-apaan ini? Lepasin gue! Lo siapa, ha?! Tadi pakaian putih-putih, sekarang hitam. Gue sebenarnya punya salah apa sama kalian, hah!!!" Gadis itu terus berteriak frustasi. Ia barusaha menendang orang yang mengunci lengannya dengan tenaga yang tersisa.

"Heh! Lo gak denger ya! Lo siapa! Jawab gue! Apa salah gue ha! Lepasin gue!!! Gue bilang lepasin gue brengsek!!!" Teriak gadis itu lagi, namun orang yang mengungkung tubuhnya tak menjawab satu katapun.

Orang berpakaian hitam itu kini menyeret gadis itu entah kemana. Dia tetap membisu tanpa mau menjawab pertanyaan gadis malang itu. Menarik gadis itu hingga dia hampir saja jatuh ke jalan.

"Akh...ughh..." mulut gadis itu dibekap dengan sesuatu saat ia hendak bertanya kembali. 

"Zzt..." Sebuah cahaya tipis, keluar dari ujung jari orang berpakaian hitam itu, beralih ke leher gadis malang itu.

Mata gadis itu memperlihatkan ketakutan yang besar, bingung, dan marah pada dirinya sendiri. Sebelum akhirnya perlahan-lahan kesadaran gadis itu menghilang. Semburat cahaya yang tadi masih bisa ditangkap indra penglihatannya di ujung gang, kini memudar dan berganti kegelapan total. Huft, gadis itu bergumam dalam hatinya, apakah hidupnya akan berakhir seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menyedihkan

__________________________
📢📢📢

Konnichiwa minnasan! Genkidesuka? Semoga minnasan dalam keadaan baik ya😉 Terima kasih udah baca cerita Xixi ini, Xixi harap kalian suka🤗 jangan lupa share dan kasih ⭐ ya sebagai bentuk apresiasi buat penulisnya, kutunggu hehehehe..... Yang di mulmed itu anggap aja gambaran kota Jakarta tahun 2055 ya😅 Komen yang banyak biar updatenya nggak lama-lama, hehehe....Mata ne!