BAB 7
"Las, aku disuruh Mala beli bawang ke sini. Tolong ambilkan lima kilo," ucap Drajat. Laki-laki berkulit kuning langsat dengan postur tubuh tinggi itu kini berdiri sekitar satu meter jaraknya dari Lastri. 

Langit telah berubah warna menjadi jingga. Suara orang mengaji sayup-sayup terdengar dari toa mesjid tak jauh dari rumah Lastri. Ia ingin sekali masuk ke rumah dan duduk menunggu panggilan azan sambil bercanda bersama anak-anak tanpa diganggu oleh siapa pun. 

Kehadiran Drajat tak mungkin atas permintaan Mala. Lastri yakin seyakin-yakinnya, bahwa Drajat datang atas inisiatifnya sendiri. Lagi pula, akan digunakan untuk apa bawang basah berkilo-kilo itu oleh Mala? Lastri tau, tetangganya itu jarang sekali masak di rumah. Apalagi mereka hanya tinggal berdua saja.

"Ini semua sudah pesanan orang," jawab Lastri. Ia terpaksa berbohong. Tak mau memperpanjang urusan dengan laki-laki yang tak henti mengejar cintanya itu.

"Gak mungkin. Kalau punya orang, mestinya sudah gak di tangan kamu lagi bawang ini, Las," sangkal Drajat dengan senyum yang dibuat-buat. Alis matanya ia naik turunkan, membuat Lastri merasa ingin melempar bawang-bawang itu ke wajahnya.

"Siapa yang pesan emangnya? Tetangga sekitar sini gak ada yang buka rumah makan. Jadi gak mungkin bawang sebanyak ini sudah dipesan orang. Iya, kan?" tebak Drajat. Lastri merasa sangat kesal, karena pria di depannya ini gigih sekali ingin membeli bawang rusak itu.

"Niat aku tulus ingin membantu kamu, Las. Janganlah merasa seperti gak butuh begini. Rugi kamu," tambah Drajat lagi. Ia belum mau menyerah ternyata. 

"Tetangga sebelah yang pesan. Ini saya mau antar ke rumahnya." Lastri berjalan menuju rumah Josh dengan menenteng dua kantong besar bawang di tangannya. Ia tak terbiasa berbohong, hingga membuat degup di dadanya berbunyi kencang. Aih, kebohongan memang selalu merepotkan.

Lastri berdiri di depan rumah Josh. Drajat mengikuti dari belakang, membuat wanita itu merasa risih. Ia bersyukur saat melihat Josh sedang berjongkok mencabuti rumput-rumput di pekarangan rumahnya. Dari balik pagar, Lastri memanggil laki-laki dengan rambut sedikit bergelombang itu. Josh menoleh, lalu menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia berjalan menuju pagar, menghampiri Lastri.

"Kenapa, Mbak? Sudah ada jawaban tawaran saya tadi?" tanya Josh ramah. Ia lalu membuka pintu pagar, mempersilahkan Lastri untuk masuk. Namun, wanita itu menolak.

"Ini saya mau antar bawang pesanan Bapak. Pas sepuluh kilo sesuai dengan yang Bapak minta tadi siang," ucap Lastri. Ia berusaha menjaga agar getar suaranya tak terdengar jelas. Dipasangnya wajah memelas di depan Josh. Berharap tetangga barunya ini memahami maksud ucapannya. Bahwa ia butuh bantuan untuk mengusir laki-laki yang terus mengekorinya itu. Josh sepertinya cepat tanggap dengan apa yang terjadi.

"Oh iya. Berapa ini semuanya, Mbak Lastri? Biar saya ambil uangnya dulu ke dalam," jawab Josh bersandiwara. 

"Nanti saja saya jemput, Pak. Ini sudah mau azan magrib. Anak-anak sudah nungguin di rumah." Lastri meletakkan dua kantong besar bawang itu di samping pagar. Drajat hanya memerhatikan dengan wajah kesal. Terlebih saat melihat tetangga baru Lastri ternyata seorang laki-laki muda bertampang menawan. Bisa terkalahkan pesonanya sebagai pria tampan sejagad RT.

"Saya permisi, Pak," pamit Lastri. Ia lalu kembali ke rumahnya. Drajat lagi-lagi hendak mengikuti, tapi langkahnya terhenti karena ada sesuatu yang menahan lengannya. 

"Salam kenal, Pak. Saya Josh. Baru dua hari tinggal di sini." Josh mengulurkan tangannya, memasang senyum dan wajah bersahabat. Apa yang terjadi antara Drajat dan Lastri itu, sering Josh lihat di film-film: seorang perempuan merasa tak nyaman dibuntuti pria yang tak disukainya. Karena itu ia segera tau apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan Lastri.

Drajat menyambut uluran tangan Josh, menyebut nama sendiri lalu segera pergi dengan wajah merah menahan kesal. Sementara tak jauh dari sana, Mala berdiri dengan perasaan yang berkecamuk.
***
Azan magrib telah berkumandang. Suara muazin terdengar merdu dan menyayat hati. Tiba-tiba hati Lastri terasa seperti dipilin, teringat kepada suaminya yang sering menjadi muazin ketika masih hidup. Ia rindu melihat Ziyan berjalan menggandeng Hafiz menuju masjid. Rindu pula menyambut kedatangan mereka berdua selepas menunaikan kewajiban berjamaah di rumah Allah. Momen yang tak akan bisa diulang lagi itu, memaksa kelenjar lakrimal yang berada di kelopak mata bagian atas untuk memproduksi air mata lebih banyak.

"Bun, Hafiz ke mesjid dulu, ya." Sang putera sulung pamit, mengambil tangan Lastri dan memcium punggung tangan ibunya itu. 

"Nana boleh ikut, Bang?" tanya si gadis kecil kepada abangnya dengan mata berbinar penuh harap.

"Nana di rumah saja temani Bunda. Kan, yang wajib ke mesjid cuma anak laki-laki," tolak Hafiz lembut. 

"Tapi Nana mau ikut juga. Bunda, Nana mau ikut ke mesjid sama Abang," rengeknya. Lastri meletakkan Naura di atas karpet yang sudah dialasi kain tebal, lalu membawa Nana ke pangkuannya.

"Di sini saja, ya, Nak. Nanti Abang kesulitan menjaga Nana. Kan shaf laki-laki sama perempuan beda. Kasihan Bang Hafiz nanti sholatnya gak khusyuk karena was was mikirin Nana di belakang," bujuk Lastri. Ia membelai rambut anak kedua yang sempat dimarahinya siang tadi. Gadis kecil itu mengangguk, berusaha mengerti meski matanya tak bisa menyembunyikan kekecewaan.

Hafiz berangkat di senja yang merah itu sendirian. Anak itulah yang Lastri harapkan kelak bisa menjaga dia dan puteri-puterinya. Maka sedari kecil, harus ia tanamkan tanggung jawab di dada putera satu-satunya itu. Tanggung jawab sebagai hamba yang harus menjalankan ibadah sesuai perinta agama, tanggung jawab untuk mengasuh adik-adik ketika Lastri benar-benar harus bekerja tanpa gangguan anak-anak. Banyak hal yang seperti harus ia bebankan kepada anak kecil itu. Andai Ziyan masih ada .... Ah, sungguh tak seharusnya seorang muslim berandai-andai, karena sungguh tak akan mampu manusia membawa kembali apa yang telah berlalu.
***
Hafiz bergegas menuju ke mesjid dengan langkah kecilnya. Ia tersenyum riang sambil sesekali bibirnya mengikuti kumandang azan. Meski pun beberapa bulan belakangan ini ia harus pergi sendiri, tapi tetap semangatnya tak luntur. Baginya, mendatangi mesjid merupakan sebuah penghiburan. Sebab di antara jeda sholat Magrib dan Isya, ia bisa bermain sejenak bersama teman-temannya. Berlarian, berkejar-kejaran di halaman mesjid yang luas, bercanda, tertawa, bahkan ada yang sengaja membawa bola kecil untuk bermain. Amat menyenangkan.

Pengurus mesjid pun tak pernah mempermasalahkan kelakuan anak-anak, asalkan mereka tidak bermain dan ribut di waktu sholat. Kehadiran anak-anak inilah yang sesungguhnya membuat masjid semarak. Karena itu, bahkan para jamaah sekali pun, membiarkan saja aktivitas para calon generasi penerus itu mengisi waktu dengan ragam permainan di selasar atau pun halaman masjid.

Lepas isya, Hafiz pulang bersama teman-temannya. Karena letak rumah Hafiz paling ujung di antara rumah anak-anak yang lain, jadi ia berakhir dengan pulang sendirian. Di depan rumah tetangga baru, langkahnya terhenti sejenak. 

"Hafiz dari mana?" Suara Josh membuat bocah laki-laki itu berbalik menuju pria berkulit cokelat yang kaos oblongnya basah dipenuhi keringat. 

"Pulang dari mesjid, Om," jawab Hafiz. Ia berjalan menuju pagar tempat Josh berdiri di baliknya.

"Om tadi gak ke mesjid? Kata Bunda, anak laki-laki wajib sholat jamaah di mesjid," tambahnya lagi. Josh tersenyum semringah. Lalu menggeleng.

"Om gak sholat," jawabnya dari balik pagar besi berwarna hitam. 

"Kenapa, Om? Kan cuma perempuan yang boleh gak sholat. Apa Om juga sedang dalam waktu istimewa kayak Bunda?" tanya Hafiz polos.

Sontak, Josh terbatuk-batuk mendengar tanya polos dari bocah kecil di depannya. Ia menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, bingung hendak memberi jawaban apa.[]