BAB 4
Ada degup tak menentu saat melihat sepasang suami istri itu berdiri di depan pintu rumah Lastri. Ia tentu saja belum lupa dengan peristiwa yang terjadi antara dirinya dan Drajat baru-baru ini. Banyak sekali pikiran yang lalu lalang di dalam kepalanya. Tanya demi tanya muncul sebelum ia memutuskan untuk membuka pintu. Untuk apa mereka berdua datang kemari? Apakah Mala tau bahwa Drajat sedang mengincar dirinya? Jangan-jangan kali ini Drajat datang langsung melamar dengan membawa istrinya. Lastri menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali. Tidak mungkin begitu. Karena jika pun Drajat dan Mala datang dengan niat seperti yang ditakutkan oleh Lastri, ia telah membulatkan tekad untuk menolak mentah-mentah seperti waktu itu.

"Assalamu'alaikum, Las. Sudah tidur, kah?" Pelan suara Mala mengucap salam yang kesekian kali. 

Lastri menarik nafas panjang. Ia memberanikan diri untuk segera memutar kunci, lalu membuka pintu secukupnya, sekedar untuk menyembulkan kepala untuk membalas salam dan menyapa. Ia tau ini tidak sopan, tapi ... perasaannya takutnya tak bisa disembunyikan dengan benar.

"Wa'alaykumussalam, Bu Mala. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lastri, sedikit pun matanya tak berani ia arahkan kepada Drajat. 

"Aku ndak disuruh masuk dulu, Las?" tanya Mala dengan seulas senyum. Lastri merasa tak enak hati, sekaligus kebingungan. Ia ingin bersikap biasa saja, tapi sulit sekali rasanya.

"Ah, iya. Maaf, Bu Mala. Saya sampai lupa" jawabnya kikuk, dibukanya pintu sedikit lebih lebar. 

"Becanda, kok, Las. Aku bukannya mau bertamu. Cuma singgah sebentar aja. Nih!" Ia mengangsurkan sekantong penuh belanjaan ke tangan Lastri.

"Apa ini, Bu Mala?" tanya wanita itu, ragu ia menerima.

"Buat anak-anak. Mana mereka? Udah pada tidur, ya?" Mala mengarahkan pandangannya ke dalam rumah, mencari anak-anak Lastri.

"Iya, baru aja saya pindahin ke kamar."

Mala memajukan bibirnya beberapa senti ke depan, berkerucut hingga membentuk lingkaran. 

"Oo, tadi aku dari super market, belanja bulanan. Terus Mas Drajat teringat sama anak-anak kamu. Yaudah, sekalian dibeliin jajanan dikit," terang Mala. Drajat berdehem saat namanya disebut. Lastri malah menjadi salah tingkah. Sebuah rasa tak nyaman, singgah di dalam hatinya. Bingung dengan sikap Drajat, kenapa tak menyerah juga meski sudah ditolak mentah-mentah?

"Ya sudah. Maaf sudah mengganggu malam-malam begini, ya, Las. Kami pulang dulu," ujar Mala berpamitan.

"Mari, Las. Selamat istirahat," ucap Drajat pula dengan segaris senyum yang membuat Lastri bergidik geli.

Drajat berjalan dengan gagah, merangkul bahu istrinya, lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan Lastri yang buru-buru menutup pintu. Ia takut-takut membuka kantong belanja pemberian Mala. Bukan takut karena diguna-guna, hanya saja ada perasaan yang sulit untuk ia ungkapkan, sedang melingkupi hatinya. 
***
Dini hari, Lastri tersentak dari tidurnya. Ia bersegera melaksanakan beberapa rakaat sholat tahajud, lalu kembali disibukkan dengan pekerjaan mengupas bawang yang belum selesai tadi malam.

Lastri ketiduran setelah merasakan mata begitu perih akibat terlalu lama bermain dengan umbi lapis tersebut. Zat lachrymatory yang terkandung dalam bawang melesat mengenai saraf sensorik mata, hingga iritasi dan terasa pedih. Air matanya jadi keluar terus menerus. Setelah mencuci muka, ia terlelap di samping tumpukan bawang yang baru selesai dikerjakan satu kantong besar. Berarti masih ada PR satu kantong besar lagi yang harus ia selesaikan sebelum siang ini.

Saat waktu subuh masuk, Lastri segera membangunkan Hafiz dan Nana untuk sholat berjamaah di rumah. Ia belum berani melepas anak-anak ke mesjid di subuh buta begini. Jarak mesjid memang tak begitu jauh dari rumahnya, tapi ia takut bila hal-hal tak baik terjadi pada Hafiz dan Nana dalam sekejap mata. Peristiwa kemarin saja masih menyisakan rasa was was di hatinya. 

Sekantong cemilan yang diberikan oleh Mala dan suaminya semalam, masih ia simpan di dalam lemari. Ia bertanya-tanya pada hatinya sendiri, "apakah tak masalah jika anak-anak menerima pemberian Drajat yang pasti punya maksud dan tujuan tertentu itu? Tak mungkin jika dibuang, karena ini juga merupakan pemberian Mala. Aih, mau tak mau, akhirnya Lastri mencoba satu per satu makanan tersebut untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada hal aneh di sana. Setelah merasa yakin, ia memindahkannya ke dalam toples dan memberikannya kepada anak-anak. Para bocah kecil itu berseru-seru gembira saat mendapati ada banyak toples dan kaleng berisi cemilan. 

"Bunda, kalau kita masuk surga, nanti bisa dapat makanan yang banyak seperti ini juga?" tanya Nana polos.

"Ya ada, donk, Na. Mau kue apa aja juga ada. Mau minum susu kotak tiap hari juga bisa. Iya, kan, Bun?" jawab Hafiz tak mau kalah. Lastri membenarkan ucapan anaknya, lalu mulai berkisah tentang hal-hal baik yang bisa diperoleh saat berada di surga juga bagaimana caranya agar bisa masuk ke sana. Inilah waktu yang tepat untuk menanamkan sedikit demi sedikit pemahaman agama yang benar kepada anak-anaknya yang masih belum baligh itu.

"Nanti siang, Bunda mau antar bawang ini ke pasar. Kira-kira, Hafiz sama Nana mau gak nungguin Bunda dan Dik Naura di rumah? Tapi gak boleh kemana-mana sebelum Bunda pulang. Rumah juga harus dikunci, terus gak boleh terima tamu sembarangan. Bisa gak, ya?" tanya Lastri kepada sepasang anaknya.

Lastri telah memikirkan hal ini sepanjang hari. Hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa pergi dan pulang dengan cepat untuk mengambil dan mengantar hasil kerjanya. Membawa anak-anak terus bersama, selain menguras energi, juga menyita banyak waktu. Mungkin ia harus mulai belajar tega dan memberi tanggung jawab kepada bocah kecil ini. Nanti ia akan meminta tolong Bu Yayuk dan Mbak Emi untuk memastikan kondisi Hafiz dan Nana selama ia tak di rumah.

"Insya Allah bisa, Bunda. Hafiz kan sudah besar. Pasti bisa dan berani menjaga Nana di rumah," jawab bocah berambut ikal itu dengan mantap. 

Ada rasa gamang yang menjalari hati Lastri saat harus meninggalkan mereka untuk pertama kalinya di rumah. Ia memerika kompor berkali-kali untuk memastikan bahwa tak ada api yang akan membakar buah hati dan hartanya saat ia tak di rumah. Lastri menutup jendela kamar, juga pintu belakang dengan rapat. 

"Ingat, ya. Jangan keluar dan jangan bukakan pintu kecuali kalau yang datang itu Bude Yayuk dan Bude Emi, ngerti, Nak?" ucap Lastri mewanti-wanti. Dua anak itu menjawab dengan riang. Mereka sama sekali tidak merasa sedih saat harus ditinggal di rumah. Mungkin lelah juga harus terus-terusan menemani ibunya kemana-mana dengan berjalan kaki.

Lastri pergi setelah menitipkan penjagaan anak-anak kepada para tetangga. Tanpa sanak saudara, keberadaan tetangga yang baik dan perhatian begini benar-benar membuat Lastri merasa sedikit lega. Mereka memberikan rasa aman dan dukungan kepada janda beranak tiga sepertinya. Rasanya, Lastri ingin menetap di daerah ini hingga tua. Tapi mengingat Drajat yang suka mengusiknya, membuat ia kadang berpikir untuk pulang kampung saja, meski di kampung, kehidupan pasti akan jauh lebih susah dari pada di kota perantauan ini.
***
"Ini, ambil!" Lelaki penghuni rumah sebelah berdiri di depan jendela rumah Lastri. Ia menawarkan dua potong es dung dung yang berbungkus kertas kado. Penjual es itu lewat di depan rumahnya. Ia memanggil penjual itu sebab wanita yang ada di rumahnya meminta. 

Saat menunggu penjual es dung dung memotong-motong pesanan, ia melihat dua bocah itu mengintip dari balik jendela. Tampak jelas bahwa anak-anak itu ngiler. Laki yang dipanggil Josh itu menghampiri Hafiz dan Nana, menawarkan untuk ikut mencicipi es itu bersama. Anak-anak serentak menggeleng.

"Kenapa tak mau?" tanya Josh penasaran. Biasanya anak-anak paling mudah dibujuk dengan es, coklat atau makanan manis lainnya.

"Kata bunda, tidak boleh menerima apa pun dari orang asing," jawab Hafiz lirih.

"Om Josh kan bukan orang asing. Rumah Om Josh di sini, kita tetangga. Nih, ambil!" Josh menyodorkan dua batang es itu lewat jendela. Lagi-lagi Hafiz menggeleng. Sementara Nana berkali-kali menelan air liur.

"Ini enak banget, Fiz. Hmmm, coklatnya manis. Segaar. Dingin. Yummi."

Josh iseng menggoda dua anak kecil itu. Ia menggigit sepotong es, mengunyahnya dengan suara keras, lalu menyentuh lehernya saat menelan es tersebut.

"Sllrp. Lezaat," godanya. Meski anak-anak itu terlihat mulai tergoda, tapi mereka sama sekali tak mau menerima pemberian darinya. Ia heran sekaligus bertanya-tanya, sekeras apa orang tua dua anak ini mengajari mereka.

"Kalian di rumah sama siapa?" tanya Josh penasaran. Kemarin saat menurunkan barang-barang, ia sempat bertemu dengan ibu dari dua anak ini. Awal pertemuan yang kurang menyenangkan, karena sempat dituduh sebagai maling anak. 

"Sama saya," jawab sebuah suara dari balik punggung Josh tiba-tiba. Lastri telah berdiri di sana dengan waspada sejak beberapa menit yang lalu. Josh yang asik menggoda Hafiz dan Nana sampai tidak menyadari kedatangan ibu dua anak tersebut.

Lastri segera meminta Hafiz untuk membuka pintu, masuk ke rumah dengan cepat dan memeluk anak-anak dengan erat, meninggalkan Josh yang terpana di luar sendirian dengan dua tangkai es dung dung yang mulai mencair.

"Kalian tak apa, kan, Nak? Apa orang itu melakukan sesuatu?" Cemas tercetak jelas di wajah Lastri. Sampai hari ini, ia masih merasa tak suka dengan laki-laki berkulit cokelat yang berada di luar itu. Kenapa merasa sok akrab dengan anak-anaknya, padahal baru kenal. Banyaknya berita negatif seputar penculikan anak dan predator anak yang ia dengar, sedikit banyak membuatnya harus ekstra waspada. Apalagi Lastri orang tua tunggal bagi anak-anaknya. Ia menjadi sangat protekstif semenjak suaminya tiada.

"Mbak ...." Terdengar suara Josh memanggil dari luar. 

Lastri bergegas membuka pintu. Ia sepertinya harus memarahi laki-laki ini agar tak lagi menggoda anaknya dengan iming-iming makanan.

"Mau apa? Bisa tolong jangan ...." Lastri belum selesai melanjutkan ucapannya, karena Josh langsung menyela tanpa permisi.

"Bu Yayuk bilang kalau Mbak Lastri lagi butuh kerjaan. Saya lagi cari orang untuk bantu-bantu di rumah. Barangkali Mbak Lastri berminat." []