BAB 5

"Bu Yayuk bilang kalau Mbak Lastri lagi butuh kerjaan. Saya lagi cari orang untuk bantu-bantu di rumah. Barangkali Mbak Lastri berminat." 

Lastri berdiri mematung mendengar tawaran tetangga barunya itu. Otaknya langsung berpikir cepat, berusaha menerka-nerka niat laki-laki di depannya itu. Benarkah tawaran pekerjaan yang barusan disampaikannya itu? Apakah tak ada niat tersembunyi untuk menggoda anak-anaknya yang masih kecil? 

Ia menelisik wajah Josh, berusaha mencari kejujuran dari wajah laki-laki itu. Tampangnya terlihat ramah, gampang tersenyum. Di hadapan anak-anak selalu bertingkah ceria. Tapi, bukankah penjahat yang pernah menyakiti Hafiz dulu juga seorang pria berwajah manis dan lembut?

Ah, pikiran Lastri melayang pada kejadian dua tahun silam. Saat putera sulungnya itu hampir dikerjai oleh teman suaminya. Lelaki itu sering mampir ke rumah, ketika Ziyan masih hidup. Sekedar datang untuk minum kopi atau ngobrol-ngobrol sebentar. Ia dekat dengan anak-anak Lastri. Setiap kali bertamu, tak lupa membawakan mainan atau jajanan untuk anak-anaknya. Hingga Lastri dan suaminya percaya, bahwa laki-laki itu orang baik-baik. 

Suatu kali, Ziyan harus mengantar Lastri untuk kontrol kehamilan ketiga, bertepatan dengan kedatangan teman suaminya. Lelaki itu menawarkan motornya untuk mereka gunakan pergi ke klinik. Lastri awalnya hendak membawa semua anak-anak untuk ikut, tapi laki-laki itu meyakinkan mereka agar Hafiz ditinggal saja, sebab kondisi motor yang sempit. Dengan berat hati, Lastri dan suaminya menitipkan penjagaan putera mereka kepada teman suaminya yang terlihat baik itu.

Sepanjang jalan, perasaan Lastri tak nyaman. Serasa ada sesuatu yang mengganjal. Seperti ada yang memaksanya untuk pulang, barangkali ada barang penting yang terlupa untuk dibawa. Jadi, ia meminta suaminya untuk putar arah dan kembali ke rumah dengan ngebut. Jantungnya terus berdetak kencang, tanpa ia tahu apa sebabnya. 

Naluri seorang ibu tak pernah salah. Firasat buruk yang menggendor-gendor hatinya, nyatanya adalah alarm permintaan tolong yang diteriakkan sang buah hati. Saat sampai di rumah, ia mendengar suara tangisan Hafiz. Ziyan segera lari ke rumah, menerjang pintu yang tak terkunci. Lastri mengikuti dengan kepayahan sambil membimbing tangan Nana. Lalu tiba-tiba, baku hantam terjadi antara suami dan temannya. Ia segera mempercepat langkah mencari sulungnya. 

Tetangga berdatangan, sedang teman suaminya segera kabur dan memacu motornya dengan kecepatan maksimal. Mata Ziyan berkilat penuh benci. Tangannya terkepal seakan belum puas memberi pelajaran pada lelaki itu.

Ziyan menutup mulut saat para tetangga bertanya tentang hal yang terjadi. Lastri baru diberitahu kemudian, ketika anak-anak sudah terlelap di malam. Suaminya menyaksikan dengan mata kepala, hal bejat yang akan dilakukan teman akrabnya itu kepada anak mereka. Firasat Lastri telah menyelamatkan masa depan anaknya. Tapi setelah itu, ia menjadi sangat waspada, juga gampang curiga pada lelaki mana pun. Ia takut, kejadian mengerikan itu akan menimpa anaknya lagi. Tak kuat rasanya ia membayangkan hal itu.

"Gimana, Mbak?" Josh bertanya ulang, membuyarkan lamunan Lastri. 

"Saya akan pikirkan dulu satu malam ini. Terima kasih sudah menawarkan," jawab Lastri pelan.

"Baik. Semoga berjodoh, ya, Mbak Lastri," balas Josh. Ia kemudian berbalik, berjalan menuju rumahnya yang sepi. Tempat dimana hanya ada dirinya dan seorang wanita tua yang sedang terbaring sakit.
***
"Dari mana, Josh?" Suara lembut itu mengagetkan Josh yang baru saja menutup pintu dengan perlahan. 

"Mami sudah bangun dari tadi?" tanya Josh. Ia berjalan mendekati wanita yang sedang terbaring di ranjangnya itu. Josh membantu ibunya untuk duduk menyandar pada kepala tempat tidur.

"Pergilah bekerja. Mami tak apa sendirian di rumah." Wanita itu menyentuh lengan Josh, berusaha meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Tak ingin terlalu lama menjadi beban bagi anak satu-satunya. Sejak dibawa pulang oleh Josh ke Indonesia, tak sekali pun putera tunggalnya itu membiarkannya tinggal sendirian. 

Sebelum pindah ke rumah kontrakan Yayuk, ia sempat dirawat hampir satu bulan di rumah sakit. Luka bakar parah di sekujur tubuhnya, membuat ia perlu dirawat lebih lama. Sebagian tubuhnya sulit untuk digerakkan, itulah yang membuatnya hanya terbaring sepanjang hari di kamar. Ia tak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan anaknya.

"Nanti Josh juga akan ke kantor, Mi. Tak usah Mami cemaskan itu. Tetangga sebelah ada yang sedang mencari pekerjaan. Sepertinya dia baik. Tadi Josh sudah menawarkan untuk bekerja di sini," terang Josh. Sungguh Josh sangat berharap Lastri mau menerima tawarannya. Ia sudah terlalu lama membiarkan gerai usahanya dijalankan oleh karyawan kepercayaan tanpa sekali pun sempat datang untuk memeriksa. Hanya lewat panggilan telepon saja ia menerima laporan dan memberi pengarahan. 

"Apa jawabannya?" Wanita tua bernama Cahya itu penasaran.

"Dia akan jawab besok, Mi," jawab Josh.

"Sekarang, Mami makan dulu es ini. Sudah mulai meleleh karena Josh terlalu lama berdiri di luar tadi." Ia mengulurkan setangkai es yang dibelinya tadi ke tangan Cahya. Wanita itu menjilati es dengan mata berbinar. Untuk pertama kalinya, setelah puluhan tahun berlalu, baru bisa dinikmatinya lagi jajanan yang sering dibelinya sebelum menetap di Manila.
***
Lastri menggenggam lembaran uang yang baru dikeluarkan dari kantongnya. Seharian kemarin, ia hanya mampu mengupas 10 kilo bawang. Jari-jari terluka, mata pedih, tapi hasil yang didapat tak seberapa. Hanya enam ribu rupiah saja. Ia tertawa miris melihat hasil keringatnya. Antara bahagia dan sedih. Bahagia sebab masih ada rezeki yang bisa dihasilkannya dengan keringat sendiri secara halal. Sedih karena uang yang didapatnya ini tentu tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. 

Demi bisa mendapat hasil lebih banyak, tadi ia nekat membawa lebih banyak bawang. Dua puluh kilo. Setidaknya jika semua terkupas bersih, ia bisa menerima upah dua belas ribu. Setiap kilo hasil kupasan bawang merah ini, hanya diharga sebesar enam ratus rupiah saja.

Lastri membawa Naura ke kamar, berniat untuk menidurkannya. Gadis kecilnya itu selalu mengantuk setelah lepas zuhur begini. Rencananya, ia akan segera berjibaku dengan bawang-bawang itu setelah puterinya terlelap. Hafiz dan Nana sebentar lagi akan berangkat mengaji ke mesjid dekat rumah. Jadi, ia sudah memerintahkan anak-anak untuk mandi secara bergantian. Kini, matanya terasa berat sebab tidur terlambat dan bangun lebih cepat tadi malam. 

"Bunda ...." Terdengar lamat-lamat suara Hafiz memanggil dari luar kamar. 

Lastri terkesiap. Segera duduk dengan kepala terasa pusing. Terjaga saat mata sedang benar-benar mengantuk itu benar-benar membuat hati terasa tak nyaman.

"Bunda ...," panggil Hafiz lagi untuk yang kedua kalinya.

"Iya, Nak," jawab Lastri. Ia segera bangkit dari duduknya. Berjalan pelan ke luar kamar. Didapatinya Hafiz berdiri dengan badan dililit handuk.

"Kenapa, Fiz? Sudah selesai mandi? Nana mana?" tanya Lastri. Matanya yang masih separuh mengantuk, berputar ke segala sudut ruangan mencari wajah Nana.

"Di dapur, Bun. Nana lagi main," ucap Hafiz memberi jawaban.

"Adiknya gak disuruh mandi?" Lastri berjalan ke belakang sebelum mendengar jawaban dari Hafiz. Tak ada Nana di dapur. Tapi terdengar suara kecipak air di dalam kamar mandi kecil mereka.

Lastri beranjak ke kamar mandi, hendak menyuruh Nana mandi dengan cepat. Saat kakinya sampai di pintu kamar mandi, tulangnya terasa lolos dari badan. Ia lemas menyaksikan peristiwa yang terjadi di kamar mandi itu. Nana sedang merendam puluhan kilo bawang itu di dalam ember dengan wajah tak bersalah.

"Astaghfirullaaah!"
Lastri mengucap istighfar berkali-kali dengan air mata yang melesak keluar tanpa bisa ditahan. Bawang yang sudah terendam air, akan membuatnya mudah busuk. Entah bagaimana reaksi bos bawang saat tahu puluhan kilo bawangnya telah basah. Jika ia meminta ganti rugi, bagaimana pula Lastri harus menggantinya?

"Ibuk kenapa menangis? Nana cuma mau bantu bersihin bawangnya." Ucapan gadisnya itu semakin membuat air mata Lastri mengalir dengan deras.[]