Bab 5 Pengakuan Mencengangkan
POV Agus

Apa benar yang dibilang sama Ibu, kalau pengantin wanita make up-nya jelek menandakan jika dia sudah nggak perawan? Atau bahkan kemungkinan dia lagi hamil? 

Apa ada penelitiannya? Ataukah hanya pengalaman para orangtua zaman dulu saja?

Ah, entahlah. Tapi … aku yakin tak semata-mata Ibu mengatakan itu jika semua itu tidak ada dasarnya. Tidak mungkin Ibu ingin memfitnah Yasmin tanpa sebab. 

Sebenarnya, malam itu aku ingin membuktikannya. Tapi, aku takut jika Yasmin benar-benar sudah tidak lagi perawan atau bahkan lagi hamil. Aku tidak mau itu hanya menjadi akal-akalannya untuk menjebakku. 

Dia itu cantik dan banyak yang suka. Bagaimana kalau seandainya di belakangku dia melakukannya dengan orang lain, lalu meminta tanggungjawab padaku. Amit-amit. Secinta-cintanya aku sama dia, tetap saja aku nggak mau kalau harus menanggung perbuatan orang lain. 

“Bu, besok Agus balik lagi ke Jakarta.” Aku mendekati wanita yang telah melahirkanku itu di ruang keluarga. Dia sedang menonton sinetron favoritnya. 

“Apa? Kamu mau balik lagi ke Jakarta?” Ibu langsung melotot. “Berarti kamu bakalan ketemu lagi sama si Yasmin itu?” cecarnya. 

Ada-ada saja ini orangtua. “Ya, pasti ketemu lah, Bu. Orang kita satu gedung—“

“Nggak! Ibu nggak mau kalau kamu sampai ketemu lagi sama si Yasmin itu. Kamu mending cari kerja di deket-deket sini. Cari istri orang sini. Biar bisa tahu bibit, bebet dan bobotnya. Pokoknya, nanti Ibu yang akan cariin calon istri buat kamu. jangan sampe kecolongan lagi kayak si Yasmin itu,” cerocosnya. Halah, bikin kuping rombeng aja. 
“Tapi, kan, Bu, aku masih harus nyelesein pekerjaan dulu. Ok, lah, aku mengundurkan diri, tapi aku tetep harus mengundurkan diri secara baik-baik. Lagian kalau di sini aku mau kerja apa?”

Mendengar penjelasanku, Ibu langsung berdiri dengan sangat marah.  

“Hei, Agus! Kamu ini sarjana. Paling pinter di seantero kampung Suniagara. Masa iya cari kerja di sini aja nggak becus? Ibu lebih rela kamu nggak punya kerja daripada ketemu lagi sama mantan istri kamu yang kotor itu!” Ibu berteriak. 

“Sebelum kamu balik ke Jakarta, kamu harus siapkan dulu surat-surat untuk mengurus perceraian kalian. Kalau tidak, jangan harap kamu bisa melangkahkan kaki keluar dari rumah ini!”

Astagfirullah. Kenapa Ibu jadi begitu benci sama Yasmin? Masa iya cuma gara-gara make up waktu nikahan, bencinya sampai ke ubun-ubun? Pasti ada hal lain yang membuatnya begitu.

Kalau boleh jujur, aku cinta setengah mati sama Yasmin. Walaupun dia anak yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan, tetapi dia sangat pintar juga cantik. Namun, tetap saja ada ganjalan di hatiku soal status kesucian Yasmin itu. Aku tidak mau kalau sampai menanggung perbuatan orang lain. 

“Begini saja, Bu. Besok Agus kembali ke Jakarta untuk mengundurkan diri dan membawa semua barang-barang. Setelah itu aku kembali lagi ke sini dan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Lagipula, secara agama Yasmin sudah bukan istriku,” balasku agar Ibu merasa tenang. 

“Janji?! Kalau kamu hanya mengundurkan diri sama ambil barang-barang?” Ibu menunjuk-nunjuk mukaku seolah tak percaya.

“Iya, Bu. Agus bersumpah,” jawabku. 

“Ya sudahlah. Ibu Cuma takut kalau sampai kamu dipelet lagi sama si Yasmin. Terus mau balikan lagi. Ibu nggak rela,” teriaknya sambil mengentakan kaki seperti anak kecil.
**
Aku pulang ke Jakarta pakai mobil sendiri, berangkat pagi dan sore baru sampai. Di sana aku mengontrak sebuah rumah yang tadinya akan aku tempati dengan Yasmin, dan sekarang semuanya ambyar hanya gara-gara make up yang nggak sesuai. 

Bagaimana besok aku ketemu sama Yasmin, ya? apa dia masih mau bertegur sapa? Ah, sebaiknya nggak pura-pura nggak lihat aja, daripada berabe. 

Bagaimana caranya dia menghadapi pertanyaan orang-orang soal pernikahan kami yang kandas, ya? Apa dia nggak malu saat ditanya teman-teman yang lain?

Kenapa rasanya kangen sekali dengan dia? Apa aku samperin aja ke tempat kost-nya ya? Ah iya, mungkin rasa rinduku akan sedikit terobati.
**

POV Yasmin

“Maaf sudah merepotkan. Tadi saya repot sekali di rumah sakit, jadi nggak sempat buka HP. Sekali lagi terima kasih,” ucap dr.Radit dengan wajahnya yang  terlihat ramah. 

“Sama sekali tidak merepotkan, Pak Dokter. Saya ikhlas menolong Bu Wati,” jawabku tulus. 

Suasana hening sejenak. Aku bingung mau ngobrolin apa sama dia. Bu Wati malah asik dengan acara di televisi.

“Eh, kalian pasti belum makan. Kita makan di luar?” tawarnya. Aku justru melirik pada Bu Wati yang tidak merespon apa-apa.  Sepertinya dr.Radit mengerti dengan yang aku pikirkan. Dia kemudian memanggil ibunya dengan sopan. 

“Bu, kita makan di luar, ya?” 

Bu Wati menoleh dengan sedikit kaget. “Eh?” wajahnya tampak bingung. 

“Kita makan di luar,” ajak dr.Radit lagi. “Ibu mau lihat-lihat kota Jakarta?”

“Ayok!” ucapnya girang. Beliau lalu melirik padaku. “Tapi Neng Yasmin diajak, kan?” tanyanya ragu. 

“Emh, sebaiknya saya tidak usah ikut. Biar Pak Dokter sama Ibu bisa leluasa jalan-jalannya.” AKu menolak, agar mereka lebih leluasa. Aku hanya orang luar, sementara mereka ibu dan anak. Mungkin dr.Radit ingin membelikan barang-barang untuk sang ibu, dan dia pasti akan merasa tidak leluasa jika ada aku. 

“Eh, ikut saja. Biar kita makan bersama. Neng Yasmin, kan, belum makan,” ajak Bu Wati setengah memaksa. Dokter Radit melirik padaku sambil tersenyum. Duh, bagaimana ini?

“Ini permintaan dari orangtua, tidak baik menolaknya,” ujar dr.Radit. Aku pun mengangguk dan pamit untuk berganti pakaian. 

Dr.Radit membawa kami ke sebuah restoran yang cukup bonafid di daerah Jakarta Selatan. Harga makanan di sini cukup mahal untuk ukuran kantongku. Namun, dr.Radit meminta kami memesan apapun yang kami mau. 

Bu Wati justru meminta anaknya untuk memilihkan. Katanya takut salah pilih. Bu Wati bilang jika anaknya pasti tahu selera makanan wanita tua itu. Aku pun ikut menu yang dipesan oleh Bu Wati. 

“Yakin kamu nggak mau pilih sendiri? nanti nggak suka gimana?” tawar dr.Radit padaku. 

“Saya makan nasi goreng pinggir jalan aja bisa Pak Dokter,” jawabku bercanda. Dr.Radit manggut-manggut lalu memanggil pelayan untuk memesan. 

Bu Wati tampak senang saat melihat menu yang dipesan oleh putranya. 

“Wah, kamu memang tau apa yang Ibu suka, Dit,” ucapnya dengan suara khasnya yang lembut. 

“Ayok, Neng Yasmin dimakan. Ibu ambilkan, ya?” tawarnya lagi. Secepat kilat aku menggeleng. 

“Ibu duluan saja. Saya nanti saja.”

“Ya sudah kalau begitu, Ibu ambilkan dulu buat Adit,” katanya sambil memotong daging ikan gurame dan menaruhnya ke piring dr.Radit. Lelaki yang terlihat rapi itu mengucapkan terima kasih. Setelahnya Bu Wati pun memotongkan daging ikan itu untukku. Walaupun aku sudah memintanya agar beliau saja dulu yang ambil, tetapi Bu Wati tetap memaksa. Aku pun mengucapkan terima kasih. 

Entah karena makanannya yang enak atau memang kami yang lapar, makanan di piring tandas dalam waktu sekejap. 

“Enak sekali, Dit. Di kampung mana ada yang seperti ini, ya.” Bu Wati terkekeh. Dr.Radit meminta Bu Wati untuk menambah porsi, tetapi wanita sepuh itu menolak. 

“Ibu sudah kenyang sekali. Alhamdulillah,” ucapnya mengusap perut. 

“Kalau begitu, tunggu sebentar, Adit mau bayar dulu ya, Bu,” katanya hendak berdiri. Namun, gerakannya terhenti saat dia melihat seorang wanita yang baru datang dan hendak duduk tak jauh dari meja kami. 

“Adit?” ucap wanita itu dengan mata melebar. Penampilannya sangat anggun dan elegan. Dia pasti wanita kayadan terpelajar. 

“Vira?” Dr.Radit pun tak jauh beda. Dia terlihat kaget. 

“Kenapa kamu blokir nomorku? Aku cari ke rumah sakit juga kamu selalu menghindar. Kebetulan sekali kita ketemu di sini,” ucapnya dengan senyuman sinis. 

“Kita harus bicara. Jangan biarkan masalah ini berlaut-larut. Kamu sudah salah paham,” cecarnya. 

Aku berusaha memalingkan muka agar tidak melihat pertengkaran mereka. Begitu juga dengan Bu Wati. Dia berpura-pura tidak melihat. Namun, justru berbeda dengan wanita yang disebut dr.Radit sebagai Vira, dia melirik ke arahku juga Bu Wati dengan tatapan curiga.

“Sudahlah, Vir. Hubungan kita sudah selesai. Kita bicara lain kali saja, nggak enak,” ucap dr.Radit lagi. 

“Ini siapa?” wanita itu masih menatapku bergantian pada Bu Wati.

“Oh, ini ibuku.” Dr.Radit menunjuk Bu Wati dengan sopan. Lalu, dia menunjuk ke arahku dan mengatakan, “dan ini Yasmin, calon istriku.” 

Apa? Mataku terbelalak seketika. Jantungku seakan berhenti. Apa maksudnya ini? 


Jangan lupa like dan komennya ya. Biar tambah semangat. Terimakasih sudah mengikuti cerita ini.