Aku Keguguran
Semangatin othor dengan sub-rate dan love-komen ya, Kak. Selamat membaca, semoga terhibur dan bisa mengambil pelajaran.

"Ada apa ini, Mas, Mbak? A-apa aku keguguran?" ulangku lagi setengah tak percaya. Sungguh jika benar aku keguguran, ini adalah pukulan yang sangat berat bagiku.

•••

Mas Pras dan Mbak Dinda hanya saling berpandangan dengan wajah khawatir. Aku melihat kepahitan dalam seraut wajah mereka berdua. 

Deg! Hatiku mencelos seketika. Apa yang aku khawatirkan terjadi sudah.

"Be-benarkah aku keguguran? Jawab, Mas, Mbak!" isakku tak tertahan. Aku benar-benar butuh ketegasan.

"Aku yang salah, Ra. Harusnya enggak aku tinggal kamu sendiri di rumah," desis Mas Pras dengan wajah sangat terpukul. 

"Mbak, benarkah? Ini bukan mimpi kan?" Aku kembali mengulang pertanyaan sambil tersedu-sedu.

Mbak Dinda hanya mengangguk sambil menahan air matanya agar tidak luruh berderai. Kakak iparku itu lalu membuang muka dan menyeka air matanya.

"Ya Allah, benarkah aku keguguran? Mengapa semua ini terjadi padaku?" batinku perih. Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasipku yang malang ini.

"Sabar, Ra! Ikhlaskan semuanya. Ini ujian dari Allah, Ra. Supaya kita semakin kuat dan saling mencintai dalam pernikahan kita," ujar Mas Pras sambil memelukku. 

"Mas, janinku. Kenapa semua ini bisa terjadi? Maafkan aku, Mas. Maafkan aku yang teledor," tangisku pecah tak tertahankan. 

Mbak Dinda ikut terenyuh memandang kami berpelukan dalam isak tangis. Sekali lagi ia menyeka air matanya.

"Ya Allah, kenapa bisa kejadian seperti ini?" gumam Mbak Dinda penuh empati. Wanita itu seperti turut bersedih dengan keadaanku. 

Aku semakin terisak, sedihnya kehilangan janin dua bulanku sungguh tak terkira. Aku merasa berada dalam kondisi menjadi wanita tak berguna. Menjaga kandunganku sendiri saja aku tak mampu.

"Sudah, Hera, enggak apa-apa. Jangan terlalu disesali. Janinmu yang gugur adalah tabungan untukmu dan Pras di surga," nasihat Mbak Dinda bijaksana. 

"Iya, Sayang. Fokus sama pemulihan aja dulu. Semoga nanti Allah kasih kita rejeki dan kamu bisa hamil lagi," ujar Mas Pras menepuk-nepuk bahuku. 

Di antara isak tangisku, aku mengingat sesuatu. Sebuah kejadian yang membuatku bergidik ngeri. Aku yakin itu bukan mimpi.

"Tapi, Mas. Aku yakin banget. Kejadian ini, sebenarnya bukan karena ketidaksengajaan. Aku yakin ada sesuatu," lirihku setengah berbisik. 

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan wanita jahat berkebaya kuno itu tidak ada di dalam ruangan rawat inapku. Kosong, wanita itu rupanya sudah pergi. 

"Maksudmu bagaimana, Sayang?" tanya Mas Pras bingung.

"Hera sempat mengalami kejadian menyeramkan sebelum keguguran," desisku waspada. Aku masih berjaga-jaga kalau saja wanita itu datang lagi. Aku ingat ketika dalam pengaruh obat bius di ruang tindakah kuret, aku melihatnya.

"Sebelum kejadian ini, aku mengalami seperti mimpi buruk yang menyebabkan aku tertidur di lantai hingga pagi. Aku enggak tahu, Mas. Tapi ... kejadiannya seperti sangat nyata," jelasku.

Mbak Dinda yang tadinya berjarak cukup jauh dari kami jadi mendekat. Ia seperti sangat penasaran.

"Jelaskan pelan-pelan kejadiannya, Ra," pinta Mbak Dinda sambil duduk di samping Mas Pras.

"Malam saat Mas Pras dinas ke luar kota, Hera seperti merasakan ada gangguan makhluk halus, Mbak. Tapi Hera pikir waktu itu cuma mimpi," jelasku kemudian.

"Serius kamu, Sayang? Kok kamu enggak ada bilang?" tanya Mas Pras.

Aku mengangguk sebelum melanjutkan bercerita.

"Terus, bagaimana lagi, Ra?" tanya Mbak Dinda.

"Lalu kejadian pagi tadi yang lebih ngeri, Mbak. Hera baru saja selesai sarapan dan mau mencuci piring. Hera melihat ular hitam di wastafel cuci piring. Anehnya, Hera lihat lagi sudah enggak ada. Lalu Hera merasa perut Hera sangat sakit," pungkasku.

"Kamu sarapan apa memangnya? Makanan pedas?" tanya Mas Pras. "Atau karena semalam enggak bisa tidur, kamu mengantuk kali," imbuh Mas Pras.

Aku menggeleng. "Aku cuma sarapan nasi uduk, Mas," jelasku. "Semua kejadian ini sangat nyata, Mas. Aku yakin aku enggak sedang bermimpi," lanjutku.

"Terus ada kejadian apa lagi, Ra?" tanya Mbak Dinda. Kakak iparku itu nampak penasaran.

"Tepat saat Hersa diserang rasa sakit yang menggila. Hera melihat sesosok wanita berkebaya persis putri keraton. Dia tersenyum jahat padaku," jelasku.

"Kamu kecapaian mungkin, Ra. Sudah jangan terlalu dipikirkan, istirahat saja," potong Mas Pras. Suamiku itu segera bangkit dan membetulkan selimutku. 

Mbak Dinda seperti masih ingin menanggapi, tapi Mas Pras memintanya untuk menjauh. 

"Kita tadi harus mengurus administrasi, Mbak. Temani aku yuk," ajak Mas Pras pada kakaknya itu. Suamiku bangkit dan bergegas menuju pintu keluar ruangan rawat inapku.

Mbak Dinda yang paham kode dari Mas Pras langsung mengekor suamiku dan berpamitan padaku.

"Istirahat dulu aja, Ra. Nanti ngobrol lagi. Jangan terlalu banyak pikiran," sarannya sebelum meninggalkanku dan menghilang di balik pintu yang tertutup.

"Hei mengapa mereka berdua kelihatan begitu aneh? Harusnya mereka tidak pergi begitu saja. Kenapa kelihatannya mereka berdua sedang menghindar?" batinku jadi bertanya-tanya. 

Karena tak mungkin mendapat jawaban. Aku memilih untuk memejamkan mata. Aku pikir, mungkin aku memang perlu beristirahat sejenak pasca tindakan pembersihan rahimku.

Kuelus rahimku yang kini telah kosong tanpa ada janin. Air mataku kembali mengalir mengingat betapa singkat Allah menitipkan amanahnya padaku. 

"Ya Allah, Nak. Baru saja mama bahagia setelah terpukul karena kakek dan nenek mau meninggal. Mama pikir kamu adalah pelipur lara, yang dihadiahkan Allah pada mama. Namun ternyata kamu juga jadi bagian dari kesedihan mama selanjutnya," bisikku sambil mengelus rahimku beberapa kali.

Aku tersedu sambil mengingat kejadian yang lalu. Kala itu aku sedang menghadiri pemakaman kedua orang tuaku. Mereka meninggal karena kecelakaan. 

Saat itu aku juga menangis tak henti-henti. Bagaimana tidak, kedua orang tuaku meninggal secara mendadak lewat sebuah kecelakaan mobil. 

"Ibu! Bapak! Kenapa begitu cepat kalian berpulang? Aku baru saja menikah. Mengapa kalian tega meninggalkanku," isakku penuh sedu-sedan. 

"Sabar, Ra. Ikhlaskan mereka berpulang," bisik Mas Pras yang terus mendampingiku. 

"Bagaimana bisa aku mengikhlaskan, Mas? Mereka meninggal begitu mendadak. Bahkan aku belum mengabarkan kehamilanku pada kedua orang tuaku, Mas!" ratapku penuh duka lara. 

"Masuk mobil saja, Ra. Tidak boleh menangis hingga meratap di pemakaman. Akan jadi pemberat jalan kedua orang tuamu," nasihat Kak Dinda. Kakak iparku itu berusaha menjauhkan aku dari Mas Pras yang mulai masuk ke liang lahat untuk menerima jenazah Ibuku.

"Iya, Sayang. Istirahat di mobil saja, kasihan janin dalam kandunganmu," imbuh Mas Pras.

"Biar sama Ibu saja," ujar Ibu mertua sambil memapahku jauh. 

Aku menurut saja dan mengikuti pinta keluarga suamiku. Saat dalam perjalanan ke mobil, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu tak nyaman. Kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang.

Bruk! Aku pingsan.