Serangan Ular dan Nyeri Perut
Semangatin othor dengan sub-rate dan love-komen ya, Kak. Selamat membaca, semoga terhibur dan bisa mengambil pelajaran.
Ada yang menjambak rambutku hingga aku akhirnya jatuh terjerambab. Aku berteriak-teriak ketakutan, namun suaraku seperti hilang begitu saja. 

•••

Aku terbangun dalam kondisi terlentang di lantai. Napasku terengah-engah dan keringat dingin membasahi tubuhku. Ketika kesadaranku mulai pulih, aku merasakan mual yang begitu hebatnya. 

Kumuntahkan semua isi perutku di dalam kamar mandi hingga terasa lemas tubuhku. Kuraih air minum dan kuteguk beberapa kali sebelum duduk di tepi ranjang dan menghela napas. 

"Ya Allah, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tidur di lantai begitu?" tanyaku bingung. Aku menghela napas beberapa kali. Mencoba untuk mengendalikan diri dan mengingat kejadian yang kualami semalam. 

Semalam seperti mimpi namun sangat nyata aku merasa tidak bisa tidur. Lalu ketika aku berusaha mengambil air untuk memuaskan dahaga aku sebuah kejadian misterius terjadi. Ada yang menjambak rambutku sehingga aku jatuh terlentang dan pingsan di atas lantai. 

"Astagfirullah haladzim! Mengapa mimpiku begitu mengerikan? Itu mimpi atau nyata?" Kembali aku bertanya-tanya.

"Assalamualaikum! Hera! Kamu di dalam, Nak?" panggil seseorang mengetuk pintu rumahku.

Aku terhenyak agak kaget dan segera bangkit menuju pintu ruang tamu. 

"Waalaikumsalam, eh, Ibu. Pagi benar sudah mampir, Bu," ujarku pada Ibu mertua yang tengah berdiri di hadapanku sambil tersenyum.

"Nih, nasi uduk panas pakai telur balado kesukaanmu," sahut Ibu mertua menyodorkan sebungkus makanan kesukaanku yang wanginya masih tercium.

"Ya Allah, Bu. Hera malu nih kalau kayak begini. Masa dikirimin makanan sama Ibu terus," rengekku malu. 

Aku meraih bungkusan dari tangan Ibu mertua dan menghidunya. Aroma santan, sereh dan rempah menguar tajam.

"Ibu tadi beli di depan pas jalan pagi. Maklum, umur sudah tua. Harus banyak jalan untuk kesehatan katanya," jelas Ibu mertua sambil tersenyum.

"Masuk dulu, Bu. Hera buatkan teh hangat biar segar setelah olahraga," saranku sambil membukakan pintu lebar-lebar. 

"Eh enggak usah repot-repot, Hera. Ibu buru-buru nih," tolak Ibu mertua seperti tak ingin merepotkanku. 

"Ayo, Bu. Duduk dulu. Temani Hera, Mas Pras lagi di luar kota nih. Hera butuh mengobrol," rayuku sambil menyeretnya masuk. 

"Oh Pras lagi keluar kota. Ya sudahlah Ibu mampir sebentar. Tadi Ibu pikir ada Pras di dalam. Ibu nggak enak mengganggu pengantin baru," jelas Ibu mertua yang akhirnya mau mampir ke rumah kami. 

"Ahahaha Ibu ini, sudah tiga bulan kok masih saja disebut pengantin baru. Hehehehe," kekehku malu. Kusilahkan Ibu mertuaku duduk di ruang tamu sementara aku bergegas menuju dapur untuk menjerang air dan menyeduh dua cangkir teh hangat. 

Aku memang ingin sedikit mengobrol dengan beliau mumpung suamiku sedang tidak di rumah. Aku merasa karena beliau sudah baik banget padaku, aku harus mengakrabkan diri dengannya. Aku tak mau, beliau merada aku menantu yang tak tahu diuntung.

"Udah, Hera. Enggak usah repot-repot, ibu enggak mampir lama loh," ujar Ibu mertua kudengar di balik punggungku.

"Mumpung Ibu mampir, Bu. Silahkan," ujarku menyajikan makanan ringan di hadapannya. Kebetulan di kulkas ada brownies dan martabak kirimannya kemarin. 

"Eh, belum habis martabaknya?" tanya Ibu mertua.

"Semalam Hera makan beberapa potong, Bu. Terus Hera mengantuk, jadi masih ada. Ibu nih, tiap hari kirim makanan. Hera kan cuma sendiri, Bu," jelasku agar beliau tidak salah paham. 

"Ya sudah, Ibu di sini sambil nemenin kamu sarapan ya. Ini loh Ibu juga tadi udah jajan getuk. Ibu makan ini saja, masa makanan udah dikasih dimakan lagi sama Ibu," tolak Ibu mertua. 

Aku mengangguk sambil menyajikan dua gelas teh hangat, satu untukku dan satu lagi untuknya. Kubuka nasi uduk yang dibawakan Ibu mertua padaku dan segera kumakan satu suapan. 

"Hmmm, wangi, sedap, enak, gurih. Masha Allah lezat betul nasi uduknya, Bu," ujarku sambil menyuapkan agak tergesa-gesa. 

"Pelan-pelan, Ra. Nanti kamu tersedak," ujar Ibu mertua sambil tersenyum ramah. 

Pagi itu kami sarapan bersama dan mengobrol. Alhamdulillah, aku memang cukup akrab dengan beliau. 

"Ibu pamit dulu ya, Ra. Assalamualaikum," ujarnya sambil meninggalkan gerbang rumahku. 

Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada beliau sebelum kembali masuk ke dalam rumah. 

"Loh, Ibu ini keasyikan ngobrol sampai teh hangat dan suguhanku tidak dimakan," gumamku sambil membereskan sisa makanku dan suguhan yang tidak dimakan olehnya. 

Kuletakkan semua alat makan kami yang kotor di watafel untuk segera kucuci. Namun ketika hendak mengambil sabun cuci piring, aku dikejutkan oleh sebuah penampakan di lubang wastafelku.

"Astagfirullah haladzim! Ya Allah ular!" pekikku terkejut. Terlihat di dalam bak watafel seekor ular sebesar jempol kaki orang dewasa tengah melingkar di antara piring dan gelas kotor.

Reflek kulempar sabun cuci piring di tanganku dan aku mundur beberapa langkah. Antara terkejut dan takut rasanya aku melihat hewan itu. 

Aku baru akan mengambil semprotan serangga atau benda yang bisa menghalau dan membunuhnya, sebelum kulihat makhkuk itu tiba-tiba menghilang. Lega, namun penasaran karena ada yang aneh. 

"Ehhh, kok aneh sih. Ada ular tapi tiba-tiba hilang," batinku penasaran. 

Segera kucuci piring dan gelas kotor itu cepat-cepat. Aku takut hewan melata itu muncul lagi. 

Setelah itu aku mencoba mencari di pencarian internet mengapa ular bisa muncul dan menghilang secara tiba-tiba di wastafel rumahku. Rumahku ini bukan rumah tua, tak ada pula celah masuk dari luar karena lubang wastafelku tertutup penyaring kotoran di dasarnya. Bagaimana bisa hewan itu tiba-tiba saja berada di sana lalu menghilang?

Namun saat sedang menunggu browser memproses informasi, kurasakan nyeri yang melilit di rahimku. Entah mengapa, rasanya perutku seperti di tusuk-tusuk sembilu taja. Nyeri hingga perih kurasakan melilit di perutku. Nyut!

"Ahhh, aduh ... aduh, sakit," pekikku seketika. Kupegangi erat perutku dan aku meraung-raung kesakitan. 

Aku mencengkeram tepi meja dengan keras. Kurasakan sakitnya semakin melilit dan menyakitkan. 

"Ya Allah, aku kenapa? Bagaimana bisa perutku terasa begitu nyeri secara tiba-tiba begini?" batinku panik. Segera kuraih gawaiky dan kupencet nomor suamiku. Aku harus mencari bantuan.

"Halo, Hera. Ada apa, Sayang?" tanya Mas Pras kudengar telah mengangkat panggilanku.

"Mas! Sa-kit ... sa-kit se-ka-li," ucapku terbata-bata.

"Ra! Kamu kenapa? Kenapa kamu kesakitan begitu?" sahut suamiku di ujung sana. 

"Nye-ri, pe-rut-ku sa-kit se-per-ti di tusuk-tusuk! Arghhhh! Saaakiiitt! Aduhhhh!" jeritku semakin kesakitan. 

"Hera! Halo! Hera! Mas segera pulang! Mas ...."

Hanya sebaris kalimat itu yang kudengar dari suamiku. Selanjutnya serangan nyeri perut yang sangat hebat membuatku mengerang hingga jatuh terguling di lantai. Aku memeluk erat perutku dengan rasa bagai ditusuk-tusuk puluhan sembilu.

"Ya Allahhh! Sakit sekali! Sakittt!" erangku tak henti-hentinya. 

Di antara serangan hebat nyeri perutku, samar-samar kulihat seorang wanita berkebaya bagai putri keraton berwajah seram tengah tertawa jahat melihatku terguling kesakitan di lantai.