Prolog
Barangkali ini sore terakhirku menyandang gelar santri.

Karenanya kusempatkan diri naik ke lantai 2 asrama kibar. 

Lantai 2 ini semacam atap terbuka. Fungsinya sebagai tempat menjemur baju-baju santri. Dari sini aku bisa melihat keseluruhan pondok. Arah selatan ada Asrama Shigor, Kantor KMI, dan lapangan bulu tangkis. Arah barat Kantor OP3M, Asrama Qudama, ruang kelas, lapangan bola, dan seputarannya. Arah utara kebun warga.

Melankolis.

Menatap adik kelas yang bersiap menuju masjid membuatku sendu.

Esok aku akan berpisah dengan "penjara suci" ini.

Empat tahun berlalu cepat. Melesat. 

"Prian, anta huna?" 
Seorang kawan menyapa, membuyarkan lamunan.

"Naam." Aku mengangguk, menyambutnya.

"Abhatsuka katsiron." 

Kawan sepantaranku ini lantas menyejajariku. Menatap sekitar dari atap lantai 2 ini.

Menarik napas panjang.
Menatap ufuk timur.

"Ah, keindahan yang tak terlukiskan kata." Ungkapnya. Seolah menyetujui apa yang ada di benakku.

Di hadapan, arah timur ini, tak lain adalah pemandangan Kota Banjar.

Lokasi pondok yang berada di bukit membuat kami bisa melihat daerah di bawahnya.

Lembayung senja menjadi kanvas petang ini.

"Penjara suci yang akan kita rindukan..." Gumamnya lagi.

Semilir angin senja membawa kami ke hari itu. Empat tahun lalu. Kali pertama bertemu di tempat ini... Penjara suci...