Awal Jumpa.
"Pak dompetnya ketinggalan."seru perempuan berkerudung biru dari kubikel tempat loket pembuatan kartu kuning. Ratno terpaku sejenak. Bertahun tahun dirinya membantu anak-anak muda yang kesulitan bikin kartu kuning sebagai syarat kerja, tapi baru kali ini pemuda gagah itu dadanya bergemuruh, berdetak lebih cepat melihat perempuan yang sepertinya pegawai baru di Dinas Tenaga Kerja, Kabupaten ini.

"Mba baru ya, di kantor ini ?" Tanya Ratno, laki laki berambut cepak bukan basa-basi, tapi ingin kenal lebih jauh lagi.

"Iya. Alhamdulillah kemarin diangkat jadi PNS setelah lolos tes CPNS tiga bulan lalu dan ditempatkan di sini. Alhamdulillah." jelas perempuan berparas ayu tersebut, kilat mata Ratno yang bak elang menatap sekilas membuat gadis muda itu  menunduk, dan merasakan kalau wajahnya memanas.

"Boleh kenalan?" Tawar pemuda berseragam prajurit tersebut.

"Hmmm." Gumam Ratih. Meski tertarik, tapi sebagai perempuan pemalu, ia tak bisa mengaku begitu saja dengan pemuda yang baru pertama jumpa. Di tempat kerja pula. Apa kata dunia dan teman teman se kantornya nantinya?

"Namanya khumaeroh Mas. Lihat saja pipinya kemerahan seperti Siti Aisyah, isteri Rasulullah," Sela pegawai senior yang biasanya melayani Ratno saat mengurus kartu kuning.

"Saya Ratno, nama yang tak bagus ya. Hehe."

"Cie Cie baru saja diterima kerja di sini sudah dapat kenalan cowok guanteng. Perwira pula..ck ck"

"Apaan sih Mba.." rajuk perempuan itu. Ratno mengulurkan tangan yang disambut dengan tangan di atas dada. Salaman ala-ala Abang none Jakarta. Ratno tidak tersinggung, tapi malah semakin kagum pada gadis bersahaja tersebut.

"Inikah perempuan yang aku cari selama ini?" Gumam Ratno. Dengan hati yang masih berdesir. Desir cintakah? Atau desir nafsu belaka? Entahlah.

Langit terlihat cerah secerah hati dan rona pemuda gagah itu.

Ratih memandangi punggung kukuh ketika Ratno, nama pemuda kukuh itu berlalu meninggalkan loket tempatnya berjaga, melayani orang-orang yang membutuhkan kartu kuning, kartu sakti para pencari kerja.

"Tih, Ratih."

"Eh iya Mba, ada apa?"

"Ngelamun bae. Itu ada yang minta stempel."

"Ii iyaaa."


Bersambung.

Jangan lupa like, komen dan Subkribe ya.