Dongeng
"Aku maunya dibacain dongeng sama Ayah. Huhu." Rajuk Bagas. Bocah berusia empat tahun ini menyentakan kaki, merebut dan membuang buku cerita yang tengah dipegang Ratih.

"Sama Bunda sama saja kan sayang? Bagas mau didongengin apa sayang? Si Kancil? Timun Mas? Oki dan Nirmala? Lutung Kasarung, Lebai yang Malang?" Tanya Ratih. Tangan lembutnya membelai bocah berambut ikal yang bibirnya mengerucut, merengut.

"Bagas maunya didongengin Kancil dan Buaya oleh  Ayah. Titik." Teriak Bagas, tegas.

"Iya, tapi kenapa? Buku inikan juga yang dibaca Ayah. Ada cerita Kancil juga. Samakan?" Tawar Ratih, lembut.

"Sama. Tapi cara Bunda dan Ayah saat ngedongeng beda. Ayah bisa gonta - ganti suara. Bunda itu-itu melulu. Bosaaan tahuuuu"

"Beda?" Tanya Ratih, penasaran. Keningnya mengerut.

"Iya. Kalau Ayah tuh saat dongeng ndak pakai buku. Saat dongeng bisa niruin suara hewan gajah, singa, jerapah. Bisa niruin suara penjahat hingga suara benda-benda jatuh. Dongeng Bunda garing, bikin bosen. Bagas mau di dongengin sama Ayah. Titiiik." Ceracau Bagas lagi. Matanya memerah menyimpan tangis juga amarah.

"Oh begituu. Bunda juga bisa kok." Ucap Ratih berusaha merebut kembali hati Bagas.

"Bohooong..."bentak Bagas, sengit.

"Plis, kasih kesempatan Bunda buat mencoba lagi. Ya!"

"Baik. Tapi harus kayak Ayah." Kata Bagas melunak. Ratih menarik napas lega, karena saking senangnya.

" Sini. Bunda mau cerita berjudul Pangeran Bagas yang pemberani."

"Bagas? Kok namanya mirip  aku sih Bun."

"Pangeran Bagas juga wataknya sama kayak kamu sayang. Tampan, cerdas dan saleh."

"Emangnya watak Bagas kayak begitu  Bun?" Bagas penasaran. Ratih mengangguk, menyuguhkan senyum termanis untuk Bagas.

"Baik, Bunda akan memulai cerita ya...."

"Pada suatu hari, Pangeran Bagas disuruh menyamar oleh Ayahandanya yang kebetulan Raja Ajasari untuk menjadi gelandangan...."

Akhirnya Ratihpun mendongeng. Sementara Bagasnya menatap dirinya dengan sangat ekspresif.

Ada yang hangat di sudut hati Ratih. Bahagia ternyata sederhana.