Kangen

Malam itu Ratno di asrama khusus prajurit di  desa Meuloboh, Aceh. Seharian bergerilnya ke luar masuk hutan memburu pasukan sparatis tak juga membuat matanya bisa terpejam, meski sesaat.

"Ratih." Hela Ratno.

"Bagas." Ratno menghela napas lagi. Ada nada rindu, perih menyatu di dalamnya.

Desis Ratno berulang-ulang. Tanpa bosan. Tiada jemu.

"Ratih, Mas kangen kamu. Kangen sangat."

"Bagas, Ayah kangen. Kangen senyummu, kangen nakalmu, kangen semua tentangmu."

Diam-diam prajurit muda menyesali kenapa dirinya menyanggupi perintah atasannya untuk dipindah tugaskan di serambi mekah sehingga terpisah jarak dan waktu dengan orang-orang yang dicintainya.

Astaghfirullah...desis Ratno yang kemudian sadar bahwa dirinya prajurit yang harus meletakan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya. Di atas kepentingan pribadinya. Di atas kepentingan keluarga kecilnya.

Yah dirinya mungkin bisa menelpon bisa surat-suratan yang meskipun rasanya bagai bumi dan langit dibanding bersua sesungguhnya. Dengan telpon atau surat menyurat, paling tidak dia dan keluarganya bisa saling mengirim kabarkan? Bisa saling melepas rindu dan kangen kan? 

Ratih, Bagas, sabar ya.
Doakan agar Aceh cepat reda konfliknya dan kita bisa bersatu. Selamanya. Amin. Doa prajurit itu dalam hati.

Ratno merapalkan doa dengan khusyu. Khusyu sekali. Airmata kerinduan membasahi mata elang sang prajurit nan gagah perwira tersebut.

Sebelum memejamkan mata, Ratno menepuk bantalnya tiga kali berharap dua orang yang ia cintai tersebut hadir ke dalam mimpinya.

Ratno membenamkan wajahnya dengan bantal dan membiarkan rindu kepada isteri dan anaknya menguar di sana.


Sementara itu, di belahan bumi lainnya Ratih tengah menenangkan Bagas yang bersikeras didongengi ayahandanya.

"Ma, Ayah mana?"

"Ayah kapan pulang?"


"Kapan Ayah ndongengi Bagas lagi?" Rajuk Bagas. Ratih membelai rambut putra kesayangannya yang setengah ikal tersebut.

"Ayah lagi kerja buat Bagas, buat kita semua. Buat jajan Bagas, buat bayar sekolah kamu sayang."

Bagas diam. Mencoba mencerna kata-kata mamanya.



Teman teman makasih udah mau baca buku sederhana ini.