Farida dan Nenek Lampir

“Kania!” suamiku berteriak.

“Ada apa, Mas? Jangan teriak-teriak, ini masih subuh. aku ada di sini.” Kutolehkan kepala dengan tubuh tertutup mukena. Baru kepalaku menoleh karena mengucap salam selepas Shalat,  teriakan kasar itu terdengar lagi.

“Siapkan air hangat! Aku mau mandi!” Mas Haza masih berbaring di atas ranjang sambil memeluk guling. Tubuhnya pun masih terlilit selimut dan sedari tadi matanya masih terpejam.

Kubuka mukena putih namun sudah kekuningan, lalu kulipat hingga menyatu dengan sajadah. “Mas, bukannya ini hari minggu? Tumben kamu mandi? Kamu mau kemana?”

Tumben subuh-subuh begini Mas Haza sudah ribut ingin mandi? Biasanya, jika libur begini dia selalu bangun pukul 10 pagi. Dan ketika kubangunkan untuk Shalat subuh pun, selalu kudapati hardikkan kasar.

“Jangan banyak tanya! Siapkan air hangat! Aku mau mandi!” mata yang tadinya terpejam berbalik melotot.

“Iya, Mas. Alhamdulillah jika Mas mau bangun subuh. Shalat subuh sekalian, ya?”

“Kania! Berisik!” dia bangkit sambil melempar bantal.

“Maaf, Mas.” Aku pun pergi. Melangkah ke dapur dan mengisi panci dengan air untuk mandi.

Dan setelah panci terisi penuh, kuletakan panci di atas kompor. kunyalakan juga kompor dua tungku ini dengan air mata yang membasahi pipi. Nyeri sekali hati ini. 

Jika dadaku bisa di buka, mungkin hati ini sudah banyak tergores luka. Bahkan bisa dibilang, mungkin hati ini sudah tak utuh lagi karena terlalu sering di gerogoti. 

Sesak. Aku berjongkok di hadapan meja kompor. Tak peduli di kolong meja kompor ada tempat sampah yang penuh isinya, yang jelas aku ingin menangis saat ini juga.

Kemana Mas Haza yang dulu? Kenapa dia jadi kasar padaku? Tutur kata yang dulu lemah lembut seolah sirna oleh umpatan kasar yang sering kudengar.

Memang, usia pernikahan kami masih terbilang muda. Dan baru dua tahun rumah tangga ini di bina. Namun, bukankah usia pernikahan ini masih dalam masa bahagia? Kami masih layak di panggil pengantin baru, kan? 

Tapi apa kenyataannya? Bukan kasih sayang yang kudapat. Hanya hardikkan dan umpatan yang selalu kuterima.

Padahal, dulu kami berpacaran selama 5 tahun dan kami sama-sama saling cinta layaknya muda-mudi lainnya. Tapi setelah menikah, dia jadi berubah. Entah dia yang berubah, atau memang itu watak aslinya. Aku belum paham.

“Sudah belum airnya?! Lelet banget, sih!” Mas Haza datang dengan handuk yang melilit pinggang.

Aku terkejut, lalu berdiri. “Belum, Mas. Sebentar lagi.”

“Kamu itu gimana, sih?! Masak air aja gak becus! Aku bisa telat! Bos aku meninggal! Semua staf harus datang ke rumahnya pagi-pagi!”

“Innalillahi!” Aku memegang dada yang berguncang. “Mr. Choi meninggal, Mas?!” mataku mulai berembun.

“Iya.” Mas Haza duduk di kursi makan sederhana. Kami tinggal di sebuah perumahan. Dan rumah ini masih harus di cicil selama 8 tahun lagi.

Ya Allah, aku tak percaya. Mr. Choi juga pernah menjadi bosku. Aku dan Mas Haza pun bertemu dan menjalin kasih di pabrik Garmennya itu. Dulu aku menjabat sebagai staf HRD, dan suamiku adalah atasanku, yang Sampai detik ini pun Mas Haza masih menjabat sebagai Manager HRD.

Ya, karena permintaan Mas Haza, terpaksa aku berhenti bekerja. Terpaksa juga kusia-siakan ijazah sarjana yang telah Ayah perjuangkan dari hasil menjadi supir angkot.

“Mr. Choi meninggal kenapa, Mas? Kapan meninggalnya?”

“Tadi malam. Kecelakaan setelah pulang dari pabrik.” Dia meneguk air.

“Aku ikut ya, Mas.”

“Untuk apa?!”

“Mas, Bagaimanapun aku kenal Mr. Choi. dia sangat baik padaku.  beliau yang telah menerimaku bekerja sebagai staff walaupun hanya lulusan SMA. Dulu dia sangat mendukungku bekerja sambil kuliah, Mas. Kamu tahu, kan?”

“Aku tau. Tapi gak usah lah kamu pake dateng-dateng segala! Bikin malu, tau!”

“Bikin malu?” aku menghampirinya sambil mengusap air mata. “Bikin malu kenapa, Mas?” aku duduk di hadapannya.

Dan dia melotot kesal. “Asal kamu tau, Nia! Selama ini aku hanya diam! Tapi sejujurnya aku sudah muak dengan kamu! Aku bosan melihat penampilanmu yang seperti ibu-ibu! Usiamu masih 25, tapi sudah terlihat tua. Mana Kania yang dulu?”

Air mata ini semakin banjir ketika mendengar pengakuannya. Jadi karena ini dia jadi kasar dan berubah?

“Dan asal kamu tau! Dulu aku tertarik padamu dan sampai mau menikahimu itu karena apa?! Karena kamu cantik! Kamu itu staff yang paling cantik di kantor! Tapi lihat sekarang?” Mas Haza mengangkat kerah dasterku dengan mencubit.

“Apa ini?! Kamu jelek! Bau! Hitam! Kumel! Dekil! Jijik aku melihatnya!!”

“Astagfirullahaladzim, Mas. Kenapa kamu tega bilang begitu? Seharusnya kamu berpikir kenapa aku bisa seperti ini, Mas?” Aku berdiri di hadapannya.

“Apa?! Kamu itu malas merawat wajah dan tubuh, kan?! Tidak mau menyenangkan mataku, kan?! Mau mempermalukan aku, kan?!” mimiknya sangat murka. Macam serigala. 

“Kamu mau tau kenapa aku jadi jelek? Ok, akan aku jawab. Sebelum aku menikah denganmu, aku sering membeli skin care, Mas. Dan sekarang, mana pernah aku membeli skin care? bisa menutupi kekurangan dapur saja sudah untung. Dan kenapa kamu menyuruhku berhenti bekerja jika kamu tak bisa memenuhi kebutuhan pribadiku?”

Dia ikut berdiri. “Aku tidak mau kamu bekerja, karena takut kamu di goda pria lain!”

Mataku membelalah shock. Alasan tak logis. “Egois! Jika aku tidak boleh kerja, seharusnya kamu kasih aku uang, Mas. Tidak perlu semuanya jika kamu tidak ikhlas. Setidaknya aku bisa mempergunakan uang itu untuk menyenangkan matamu, kan?!”

“Dan sungguh tega kamu bilang aku bau, kumel dan dekil? Kamu mau tau jawabannya kenapa aku jadi seperti ini? Seharusnya kamu mikir, Mas? Apa pernah kamu memberiku uang untuk membeli bedak? Parfum? Lipstik? Baju? Atau setidaknya daster baru? Aku tanya apa pernah kamu memberiku uang?!”

Dia membuang wajah.

“Kamu menyuruhku berhenti bekerja, tapi tak pernah memberiku uang. Kemana uangmu selama ini, Mas? Kamu itu Manager HRD, aku tahu berapa gaji jabatan itu. Dan apa selama ini aku pernah menikmatinya? Tidak, Mas. Setiap aku minta untuk kebutuhan dapur, apa jawabmu? Kamu bilang kalau semua kebutuhan rumah kamu yang akan beli! kan?”

“Dan apa kebutuhan rumah yang kamu beli itu cukup?! Tidak, Mas? Kamu hanya membeli pelengkapnya saja. Lalu selama ini kamu makan makanan enak dari mana? Dari mana aku bisa beli daging, ayam, ikan, sayuran, dan lain-lain?! Setiap hari kamu tidak mau makan jika tidak di masakan yang enak-enak, Lalu dari mana aku mendapatkan uang untuk memenuhi nafsu perutmu itu?!”

“Dari mana?” Alisnya mengernyit.

“Hahahaha!” aku tertawa dengan pipi banjir air mata. “Bahkan, setiap hari aku keliling komplek untuk jualan kue pun kamu tidak tahu? Dan sekarang kamu sudah tau kan, kenapa kulitku jadi gosong?”

“Kenapa?” tangannya melipat dengan dagu mendongak.

“Kamu masih tanya kenapa?! Setiap kamu bekerja, aku selalu jualan kue, Mas. setiap hari kulitku terbakar terik matahari! Dan andai kamu memberiku uang, tidak mungkin aku seperti ini. Selama ini aku diam ketika kamu kasar padaku. tapi karena kamu telah menghina fisikku, hatiku sakit, Mas. Lidahmu tajam.” Kususut air mata, rasanya nyeri melebihi di selingkuhi.

“Hallah! Masa bodoh dengan ocehan kamu, Kania! Kepalaku sudah pusing, tau! Menikah denganmu bukannya bahagia malah sengsara. Kamu pikir aku tidak perlu bayar cicilan rumah dan mobil?”

Aku duduk lagi. “Kamu jadikan itu alasan? Apa gajimu habis untuk membayar cicilan? Pasti masih ada sisa, kan?!”

Dia ikut duduk dengan tampang kesal.

“Lagi pun aku kan pernah bilang, Mas. Jangan ambil cicilan mobil dulu. Seminggu setelah menikah, malah ambil cicilan rumah. Dan sebulan setelah menikah, kamu mengambil cicilan mobil yang padahal aku sudah melarangnya--”

“Diam, Kania! Yang jelas cintaku padamu sudah hilang! Rasa sayangku pun telah pudar! Apa lagi sampai saat ini kamu belum memberiku keturunan! Kamu tambah membuatku malu, Nia! Di usia 29 tahun ini seharusnya aku sudah punya anak! Tapi mana? Atau jangan-jangan, kamu mandul?”

“Astagfirullah, Mas. Jaga ucapanmu! Ucapan itu doa!”

“Memang iya kan, kamu belum bisa memberikanku keturunan! Aku yakin semua ini karena Alm. Bapak kamu hanya supir angkot. Bapakmu itu miskin! Tidak bisa memberimu makanan bergizi. Kamu dan Bapakmu itu keturunan miskin!”

Plak!

Aku menampar pipinya. Dia mematung shock sambil memegang pipi. sedangkan tanganku, mulai gemetar. Ini kali pertamanya aku menampar wajah pria yang selama ini aku hormati.

“Kamu menamparku?” dia menyelidik penuh amarah.

“Maaf, Mas. Tapi kata-katamu sangat keterlaluan. Tak akan kubiarkan siapa pun menghina alm Ayahku. Kamu sudah lancang!”

Brak!

Ia menggebrak meja. “Terserah kamu mau bilang apa! Yang jelas, sudah tak ada cinta lagi untukmu! Mulai hari ini, aku tal—“

“Mas!” dengan cepat kupotong ucapannya. Aku tahu dia mau bilang apa, pasti dia ingin bilang pisah. Aku tak mau menjadi janda. Lagi pun aku masih mencintainya.

“Apa?!” wajahnya mengangkat angkuh.

“Air sudah mendidih. Sebentar, ya. Aku siapkan air hangatnya dulu.” Aku beranjak, mendekati kompor yang sedari tadi menyala.

“Bagus! Kalau jadi istri itu harus nurut! Sekali lagi kamu membuatku kesal, tak segan-segan akan kuucap kata cerai!” ia beranjak, dan memasuki kamar mandi.

Dan lagi-lagi aku hanya memendam nyeri. Seorang istri itu ingin di sayang dan di hormati. Bukan di perlakuan kasar. Lambat laun aku mulai bosan. Lambat laun sudah terkikis pula rasa sabar.

Tapi aku bisa apa? Aku sedang hamil. Dan dia tidak tahu jika aku sedang mengandung anaknya. Bukan tak mau memberitahunya. aku hanya ingin mencari moment hangat untuk memberitahukan kabar gembira ini agar kami sama-sama bahagia.

Tapi sampai detik ini, tidak pernah kutemukan suasana cair dalam rumah tangga ini. Dan sampai detik ini juga, dia tidak tahu kalau anaknya sudah berusia 8 minggu di dalam rahim.

“Kania! Cepetan! Ini sudah jam berapa?! Kamu itu selain dekil, lelet!” teriak Mas Haza yang telah di kamar mandi.

Dan dengan air mata berderai, kubawa air panas ini menuju kamar mandi. Dan begitulah dia, ia ingin kuperlakukan seperti Raja, tapi selalu memperlakukanku seperti budak.

Sabar, Kania. sudah berjuta-juta kali aku memupuk rasa sabar. Tapi aku tetap manusia biasa. mungkin ada saatnya pupuk sabarku ini akan habis.

**

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku tahu rumah Mr. Choi, tapi belum pernah kuinjakkan kaki di istana megahnya, karena aku tahu diri.

Dan sampai detik ini, aku masih shock mendengar kabar meninggalnya Mr. Choi. Setahuku dia itu pria tua yang tak memiliki anak. Tapi dia masih memiliki seorang istri. tapi rumornya, istrinya itu menetap di Korea untuk menghandle bisnis yang ada di sana.

Dan selama 4 tahun aku bekerja di pabrik itu, belum pernah kami bertemu Nyonya Choi. bahkan kami tak tahu bagaimana parasnya. Dan konon, Nyonya Choi yang ini hanyalah istri kedua setelah istri pertama yang telah tiada.

Dan apa Nyonya Choi sudah pulang dari Korea? Jika belum, kasihan sekali Mr. Choi. Dia tak punya sanak saudara di negara ini. 

Seharusnya dia itu menghandle bisnis yang ada di Korea agar lebih dekat dengan sanak saudara yang ada di sana. tapi karena dia sangat menyayangi pabriknya yang telah membuatnya sukses, dia jadi tak ingin kemana-mana dan sudah betah menetap di Indonesia.

Ya, bagaimanapun Mr. Choi sangat baik padaku. Dia sudah seperti Ayah kedua untukku. Sangat durhaka bila di saat ia pergi, aku tak mau mengantarnya. Dan lebih baik aku pergi. Aku harus ikut mengantar Mr. Choi ke tempat peristirahatan terakhir.

Dan dengan pakaian hari raya tahun lalu, aku pun pergi menaiki angkot. Sengaja kupakai selendang hitam dan masker, agar wajah ini tak terlihat oleh Mas Haza.

Masa bodoh jika Mas Haza tahu aku datang ke pemakaman itu. Yang jelas niatku hanya ingin melayat saja. Tidak lebih.

Dan sesampainya aku di istana megah itu, ternyata orang-orang baru saja pulang dengan membawa keranda kosong. Apa pemakamannya telah usai? Apa Mr. Choi telah di kebumikan? Kalau begitu aku telat.

Hufh! Sudah jauh-jauh aku kesini, ternyata terlambat. Tapi tak apa lah, hitung-hitung jalan-jalan. Selama menikahi Mas Haza, tak pernah sekalipun aku di ajak jalan-jalan olehnya. Bahkan untuk mencicipi mobil barunya pun, dia tak pernah mengizinkan aku masuk. Keterlaluan memang.

Dan kini aku sedang berdiri di pintu gerbang, memandang para pelayat yang masih tersisa di halaman dan teras rumah bak istana. Dan rata-rata aku mengenal mereka. Mereka para staf di Office dan pabrik, dan dulu aku kenal baik di antara mereka.

Tapi mana Mas Haza? Ada di dalam atau sudah pulang? Kulihat mobil-mobil yang terparkir di halaman luar, tak kulihat mobil putih milik Mas Haza. Lalu kemana dia?

“Hahahaha!” aku mendengar tawa seorang. Dan tawa itu aku kenal. Itu suara Mas Haza. Tapi di mana?

Kutolehkan kepala agar memutar ke segala arah. kusoroti pula segala penjuru halaman untuk membidik mangsa. Dan ketika kepalaku menoleh ke kiri dengan maju 2 langkah, aku melihat Mas Haza. 

Ya, itu suamiku yang gagah perkasa. Aku tak salah lihat. Dia sedang berdiri di hadapan pintu mobilnya yang terbuka. Tapi tunggu, sedang apa dia? Dia sedang berbicara dengan seorang wanita. Dan wanita itu tengah duduk di kursi kemudi dengan kaki menjuntai keluar.

Dan yang membuatku shock, Mas Haza tengah memegang tangan wanita itu, lalu mencium punggung tangan berkulit putih itu.

Astagfirullahaladzim ...! Sontak tubuhku layu. Rasanya lemas. bahkan ingin terjatuh. Dadaku sesak. Tenggorokanku sakit ketika menelan liur. air mataku pun tiba-tiba jatuh begitu saja.

Jadi ini, yang selama ini Mas Haza lakukan? Ternyata bukan karena penampilan saja Mas Haza jadi kasar kepadaku? Ternyata dia memiliki wanita lain? Ya Allah! Selama ini kupikir Mas Haza itu lelaki yang setia. Tapi begini kenyataannya?

Lalu, wanita itu siapa? Apa aku mengenalnya? Apa dia karyawan pabrik juga? Atau siapa? Aku tak dapat melihatnya karena wajah wanita itu ada di dalam mobil.

Hatiku tersayat nyeri ketika Mas Haza memperlakukan wanita itu sangat lembut. Perlakuannya itu sama persis ketika berpacaran denganku dulu. Ternyata semudah itu dia menduakanku? Lalu kandunganku ini mau di bawa kemana?

Aku sudah tidak kuat. Tak tahan kumenanggung segala kenyataan. Kesalahan lain mungkin bisa kumaafkan, tapi sebuah pengkhianatan, sampai mati pun tak akan bisa kulupakan. 

Kuatur napas untuk mengumpulkan tenaga, dan dengan hati terluka aku melangkah menghampiri Mas Haza yang tengah mencium kening wanita itu.

“Mas?!” suaraku mengejutkan mereka berdua. Suasana yang mereka rasa romantis itu, berubah menjadi badai setelah mereka melihat wajahku yang sudah tak tertutup masker.

Dan yang membuatku tercengang, ternyata aku kenal wanita yang baru saja terlonjak turun dari mobil Mas Haza. Dia Maya. Staff Accounting di Office pabrik, dan yang lebih mengejutkan lagi, Maya ini teman seperjuanganku dalam bekerja sambil kuliah dulu.

“Kania? Kenapa kamu ada di sini? Aku bilang jangan datang, kan? Kenapa kamu membangkang?!” Mas Haza melotot seperti biasa. Matanya melebar seperti burung hantu.

“Kenapa? Karena kamu mau pacaran?”

“Maaf, Nia. Tapi kami saling mencintai. Bahkan aku lebih dulu mencintai Mas Haza sebelum kalian berpacaran.” tutur Maya penuh percaya diri. Tidak merasa bersalah, kah? Astagfirullah!

“Jadi sudah lama kalian memiliki hubungan di belakangku?” aku terlihat tegar meskipun hatiku sudah runtuh.

“Sudah. 2 bulan setelah kalian menikah, aku dan Mas Haza menjadi pasangan kekasih.” santai Maya.

Masya Allah, selama itu? Hebat sekali mereka. Jadi hampir 3 kali dalam seminggu Maya datang ke rumahku itu bukan untuk menjalin hubungan persahabatan denganku? Tapi untuk melepas rindu bersama suamiku?

Kuusap air mata yang jatuh tak terkontrol. “Kalian sudah melakukan apa? Sudah melakukan hal yang lebih dari pacaran?” tanyaku, berusaha menampilkan mimik tegar.

“Sudah.” sahut Mas Haza.

“Apa?!” jantungku berdebar copot.

“Hubungan kami sudah seperti suami istri.” tambah Maya dan pengakuan itu membuat dadaku seolah meledak di hantam petir.

“Jadi kalian telah berzin—“

“Ya.” Suara mereka sangat kompak.

Brugh!

Aku ambruk di atas rumput. Lemas rasanya. Semua tenaga seolah lenyap. Apa mereka waras? sakiiiit ... ternyata selama menikah denganku Mas Haza telah memakai wanita lain? Astagfirullah! Cobaan apa ini, Allah?

“Kami saling mencintai.” 

Aku berdiri karena terkejut mendengar ucapan Mas Haza. “Jika kalian saling mencintai, kenapa tidak menikah saja?! Kenapa malah berzina?! Kalian ini manusia atau ayam?!” suaraku sangat keras hingga menimbulkan orang yang ada di sekitar datang berkerumun.

“Kania! Dengar, ya. Sudah berkali-kali aku ingin menalakmu! Tapi kamu selalu menahan itu?! Aku itu sudah tak nyaman hidup dengan wanita dekil sepertimu! Kamu lihat Maya, Kamu dan maya itu bagai Farida dan nenek lampir!”

“Astagfirullah, Mas. Tega kamu bilang seperti itu? Kamu lupa masa indah ketika kita pacaran?”

Orang-orang sudah berdatangan dan mengelilingi pertikaian kami.

“Aku sudah lupa! Tak ada masa indah bersamamu! Yang ada hanya malu!” 

“lalu maumu apa, Mas?! Ok, sekarang kamu harus pilih! Pilih aku atau dia!” aku menunjuk Maya dengan air mata.

Dan tiba-tiba Mas Haza tertawa. “Kamu sepertinya gila, Nia. Tentu aku pilih Maya yang lebih segala-galanya, lah! Dan mulai saat ini, di hadapan banyak saksi, kamu kutalak, Nia! Kita bercerai! Kamu bukan istriku lagi dan surat perpisahan kita akan secepatnya kuurus di pengadilan!”

Tubuhku sontak lemas. Bergetar, panas dingin, Bagai tersambar petir di tengah terik matahari. Runtuh. Hancur. Berserakan berkeping-keping. Rasanya seperti mati. Pria yang aku cintai telah berkhianat dan telah mengucap talak? Aku sedang hamil. Apa bisa di cerai?

Tentu tidak, kan? Tapi jika mengingat perlakuannya, pupuk kesabaranku ini sudah habis. Aku tak bisa hidup bersama pria seperti ini. Anakku juga tak boleh memiliki Ayah yang tak punya hati. Dan sepertinya perpisahan adalah jalan yang terbaik. Akan kusembunyikan kehamilan ini, agar bisa berpisah diri manusia keji.

“Ok, Mas. Jika itu keputusanmu, aku terima dengan lapang dada.” Meskipun tak sepenuhnya aku ikhlas. 

“Fine! Bagus kalau begitu. Maya sayang, Ayo kita pergi. Jangan dekat-dekat dengan perempuan bau ini.” Mas Haza menggandeng tangan Maya yang menyungging senyum menang.

“Hei! Bubar! Jangan berkerumun di sini! Kalian tidak mencium bau aneh?!” Mas Haza melirikku sambil menutup hidung.

“Pak Haza. Bapak dan Mba Kania benar akan bercerai?” tanya Lusi-staff MD dulu.

“Ya, saya dan Kania sudah resmi bercerai di mata agama. Dan secepatnya, saya akan segera menikah dengan Maya. Jangan lupa hadir di pernikahan kami, ya?” Mas Haza merangkul Maya di hadapan kami semua.

Tega sekali manusia ini. Ternyata dia tidak menganggapku manusia, dan mungkin dia menganggapku tidak ada. Dasar manusia tak punya hati! Tak punya harga diri! Menyesal aku pernah mencintainya! Akan kubenci lelaki ini sampai kumati!

“Ayo, Sayang. Kita jalan-jalan. Kamu boleh belanja apa pun yang kamu mau karena kamu calon istriku.” Mas Haza pun memboyong Maya untuk masuk ke dalam mobil, setelah menyunggingkan senyum puas.

Oh, sekarang aku paham. Jadi uang yang seharusnya menjadi nafkah untukku selama 2 tahun ini telah di gunakan untuk membiayai sahabat busuk itu?! Keterlaluan! Dia menuntutku harus cantik, tapi yang di biayai malah wanita lain?! Benar-benar kehilangan ot*k!

Dan setelah mobil Mas Haza keluar dari gerbang, air mata ini mulai mengalir begitu deras. Tak kuat hati menanggung segala beban. Aku sedang hamil muda. Seharusnya aku sedang bahagia. Tapi ini, hanya kata cerai yang aku terima.

“Ada apa ini?” seorang wanita yang sudah tidak muda datang menghampiri kerumunan ini. Wanita itu sangat cantik dengan pakaian yang tidak terlihat murah. 

Dan yang membuat aku mematung shock, aku kenal wanita itu. Dia Mama. Ibu kandung yang telah meninggalkan Ayah demi pria kaya karena Ayah miskin. Dan kini, setelah 10 tahun lamanya, aku bisa melihat wajah wanita yang telah melahirkanku.

“Bu, Rania? Kami ikut berduka cita atas meninggalnya Mr. Choi ya, Bu. Semoga suami ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan Ini, Bu. Manager HRD kita baru saja menceraikan istrinya, demi wanita lain yang juga staff di Office kita, Bu.” Seseorang berkata padanya.

“Astaga! Tega sekali.” Mama belum melihatku. Ia memegang dada dengan mata sembab seolah habis menangis.

“Iya, Bu. Kasihan Mba Kania. Dia mantan staff di office juga.” tutur Lusi.

“Kania?” wajah Mama tiba-tiba berubah ketika mendengar namaku.

“Mana orangnya? Apa masih ada?” Mama menelisik ke segala arah.

“Itu, Bu.” Semua orang menunjukku dalam tempo yang sama.

Dan ketika Mama melihatku yang sedang berdiri mematung, manik Mama mulai berkaca-kaca. Kami pun bersipandang dalam jarak yang tidak begitu dekat.

“Ok semua. Thank you so much kalian sudah hadir di pemakaman suami saya. Kalian boleh pulang. Dan besok tetap bekerja seperti biasa, ya?” Mama memerintah semua staff.

“Baik, Bu. Selamat pagi.” Semua orang menunduk hormat pada Mama.

Dan setelah semua orang pergi, kini hanya ada aku dan Mama. Kami berdua menjadi patung, saling tatap dengan deraian air mata.

“Kania? Kamu kania anak Mama, kan?” Mama melangkah dengan kaki gemetar ragu.

“Ya. Aku Kania. Anak Ayah Surya.” lirihku tak percaya.

Mama terkejut lanjut menutup mulut yang menganga shock. Air matanya tiba-tiba banjir, dan langkahnya semakin cepat menghampiri.

“Kania! Ini Mama, Nak. Mama kandung kamu! Mama kangen kamu, Nak. Sudah lama Mama mencarimu!” Mama memelukku dengan tangisan haru.

Jadi, Mamaku ini Nyonya Choi? Pewaris seluruh pabrik dan bisnis peninggalan Mr. Choi?

--Bersambung--

Baca juga karya Author yang lainnya. Rekomendasi banget untuk baca SUAMIKU MANTAN SEORANG WANITA dan MENIKAHI BOCAH 🖒

Di jamin keren dan akan ketagihan baca 🖒❤