Amanda
Mainan Dewasa dalam Kamar Anakku

#Penyesalan_terlambat

"Manda!" teriakku seraya mengedor pintu kamar pribadi anak semata wayangku. Jarum jam sudah berada di angka tujuh. Waktunya dia sekolah. Namun, pintu kamar masih  terkunci.

Limat menit berdiri di depan pintu, belum ada tanda-tanda pintu akan di buka. Bergegas menuju dapur, mencari keberadaan Bik Jum-asisten rumah tangga di rumah ini. Dari Amanda bayi wanita itu sudah bekerja padaku.

"Bik! Kunci serep kamar Manda dimana, ya?" tanyaku pelan. Mataku berkelana ke setiap gantungan di dinding dapur.

Bik Jum melihat ke arahku, kemudian menarik laci penyimpanan barang-barang kecil yang sering dibutuhkan. Sesaat kemudian, kumpulan kunci serep berada di tangannya.

"Ini Nyonya," ucapnya seraya mejulurkan tangannya ke arahku.

Aku tidak mengucapkan terima kasih, melangkah cepat menaiki tangga. Tujuanku saat ini, membuka pintu kamar Manda. 

Perlahan kumasukkan kunci dan memutar pelan. Suasana kamar Manda masih pengap dan gelap. Bergegas mencari sakelar lampu, kamar Manda berantakan. Sama sekali tidak mencerminkan seorang gadis. 

Barang-barangnya bak kapal pecah. Melangkah  menuju jendela. Langkahku terhenti saat menginjak benda yang kenyal bak silikon. Kuangkat kakiku perlahan. Jantungku serasa lepas dari tempatnya. Kenapa barang seperti ini bisa berada di kamar Manda? Kenapa? Batinku bergejolak.

Kusibak tirai jendela kasar, tubuhku gemetar. Putri semata wayangku yang menjadi tumpuan masa depanku melakukan hal tak senonoh seperti ini. Dia baru kelas dua SMA, darimana dia mendapat barang menjijikkan itu.

"Manda!" pekikku seraya menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Aku semakin terkejut melihatnya tidur tanpa sehelai benang pun.

"Manda! Apa yang kau lakukan!" teriakku emosi. 

Manda membuka matanya perlahan. Rasa kantuk masih terlihat jelas. Dia terperanjat saat menyadari selimut tidak lagi menutupi tubuhnya. 

"Mama," kata pertama yang keluar dari mulutnya.

"Iya, ini Mama, kenapa?" tanyaku berang.

"Mama kenapa ada disini? Kapan Mama pulang?" 

Manda meloncat dari tempat tidur, mengambil baju dan celananya yang berserakan di lantai. 

"Apa yang kamu lakukan Manda? Ini untuk apa?" tanyaku seraya mengangkat barang tak patut untuk anak seusianya.

Manda menatapku kesal, merebut paksa dari tanganku. Dia berkata, "ini milikku, Mama tidak punya hak memegang barangku."

Plaak! 

Tanganku mendarat di pipinya. Kelancangannya membuatku geram. Aku tidak pernah melihat Manda melawan perintahku. 

"Hebat, sekian lama nggak pulang, tiba-tiba main tangan, bagus," ucapnya dengan senyum sinis. 

Aku menyadari kekasaranku padanya. Berusaha merengkuh tubuh Manda, tapi dia menepis kasar.

"Maafkan, Mama," lirihku bersalah. 

"Mama jahat! Manda benci Mama! Manda benci!" Manda melemparku dengan barang-barangnya. 

"Maafkan, Mama," kataku pelan. 

"Keluar!" teriaknya histeris.

"Amanda! Aku ini Mamamu, aku khawatir dengan keadaanmu," ucapku dengan menaikkan volume suara.

"Mama ... Mama yang hanya status saja. Mama yang sibuk dengan dunia luar, Mama yang lebih mementingkan orang lain dari pada darah dagingnya sendiri," Amanda meracau tak jelas.

"Jangan perpanjang masalah dengan menyalahkan Mama. Yang Mama tanyakan kenapa benda ini ada di kamar kamu? Sejauh mana kamu melakukan hal yang tak  patut untuk usiamu," selidikku kesal. Amanda tersenyum remeh ke arahku. Memutar bola mata malas menatapku.

"Sejak kapan Mama peduli? Bahkan, kalau pun aku mati itu lebih baik untuk Mama!" sentak Amanda. Napasnya memburu, tapi tak ada air mata di pipinya.

"Kalau Mama tidak peduli ... Mama tidak akan merawatmu sampai sebesar ini. Kamu hidup sampai sekarang, menjadi satu bukti, bahwa Mama menyayangimu," pungkasku. Aku kehabisan kata-kata membalas ucapannya.

"Kalau Mama menyayangiku, Mama tidak akan menyembunyikan statusku di hadapan publik. Jadi ... cukup! Keluar dari kamarku Miss Cassandra Elmira. Kamu bukan Mamaku, karena statusmu gadis di hadapan publik." Setiap kalimat yang keluar dari mulut Amanda membuat sebongkah daging lunak dalam dada menjerit terluka.

next or no