Part 1
Tiba-tiba Istriku Tak Berjilbab Lagi


Gelap. Sudah lepas isya dan tak ada satu pun lampu di rumahku menyala. Rosidah tidak ada di rumah? Tapi seingatku tak ada telpon atau pesan terkirim dari istriku itu untuk berpamitan hendak pergi kemana.

Aku mengambil kunci cadangan yang selalu kutaruh di tas kerja. Beberapa bulan ini aku sering pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan, tak tega merepotkan Rosidah jadi kuminta ia mengunci pintu saja, agar tak perlu susah menunggu membuka pintu untukku jika ia sudah ingin tidur.

Kubuka gembok pagar dengan cepat, rasa penasaran membuatku gelisah. Ada apa dengan istriku? Mobil kulajukan cepat masuk ke garasi, tak sabar ingin masuk ke rumah.

"Bun, Bundaa ... assalamu'alaikum." Suaraku menggema di ruang tamu dalam kesunyian malam. Kunyalakan lampu-lampu rumah sambil mengamati seluruh ruangan.

Tak ada sahutan, pun tak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Aku membuka layar ponsel, segera menelpon istriku. Tak ada jawaban panggilan dari ponselnya, dimana Rosidah? Kuulang menelpon hingga puluhan kali, tak juga dijawabnya panggilanku.

Apalagi yang bisa kulakukan sekarang selain menunggunya pulang? Mencarinya pun tak tahu harus kemana. Kuingat-ingat, apa ada keanehan tadi pagi saat Rosidah melepasku berangkat kerja? Rasanya tak ada. Tunggu dulu, wajah cantik istriku sedikit ditekuk tadi pagi dan aku tak sempat bertanya ada apa. Mungkinkah istriku sedang kesal padaku tanpa kusadari?

Ingin menelpon mama mertua, menanyakan apa Rosidah sedang berkunjung ke sana, namun sungkan rasanya, nanti jika istriku tak ada di sana justru membuat mama menjadi khawatir.

Saat membersihkan diri di kamar mandi, pikiranku tak bisa tenang. Gelisah mengingat putraku yang masih berusia sembilan bulan diajak Rosidah kemana hingga malam begini. Zaki tak minum ASI, pasti repot sekali harus membawa botol susu hingga malam. 

Usai mandi, aku berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil tak henti menatap pintu pagar berharap anak istriku segera pulang. Rosidah pun tak juga menelponku balik meski tadi sudah kutelpon puluhan kali. Rasa haus membawaku melangkah menuju dapur untuk membuat secangkir teh hangat.

"Assalamu'alaikum."

Kudengar suara Mbak Atun mengucap salam saat aku baru membuka tudung saji untuk mengisi perut laparku dan kecewa karena tak tersaji apapun di meja. Kenapa bukan Rosidah yang mengucap salam? Suara tangisan Zaki mengusik telingaku,  apa pembantuku hanya pulang bersama Zaki?

"Wa'alaikumussalam." Lekas kubuka pintu rumah.

"Maaf, dedek Zaki sudah habis susu botolnya dari sore. Tolong bapak gendong dulu, saya mau buatkan susu." Wanita yang sudah hampir dua tahun ini bekerja di rumah kami itu berkata dengan gelisah.

Aku mengangguk sambil mengambil Zaki dari Mbak Atun. Kutahan rasa ingin tahu agar wanita baik itu bisa segera membuat susu ke dapur. Putraku berhenti menangis begitu ada dalam gendonganku.

Tak kurasa lagi rasa lapar yang tadi melilitku. Diliputi tanda tanya tentang keberadaan bundanya yang janggal, kutatap Zaki dengan penuh rasa sayang. Selama ini hanya saat libur di hari minggu saja aku punya waktu bersama Zaki, itu pun kadang aku lebih banyak tiduran melepas penat.

"Ini susu botolnya, maaf saya harus pulang. Zaki biar menginap di rumah saya atau bagaimana, Pak?" Pertanyaan Mbak Atun membuatku sangat terkejut.

"Sebentar, Mbak. Saya ini bingung. Ibu pergi kemana? Zaki dari kapan dititip sama Mbak Atun?" tanyaku tak tenang.

Wanita yang beberapa tahun lebih tua dariku itu menatapku heran. "Ibu tidak pamit sama bapak?"

Aku menggeleng dengan cepat. Semakin penasaran saja dengan tingkah laku Rosidah. Bahkan Mbak Atun pun tak mengira istriku itu pergi tanpa berpamitan sama sekali padaku.

"Gini deh, Mbak ceritakan saja dari ibu pergi tadi. Ia kemana? Dari jam berapa?" cerocosku sembari memangku Zaki yang tengah menikmati susu botolnya.

Mbak Atun pun duduk di kursi yang berseberangan denganku. Ia nampak begitu kelelahan. Rumahnya ada di perkampungan di belakang komplek perumahan tempatku tinggal. Ia bekerja membantu di rumahku dari pagi hingga siang saja. Pasti cukup capek berjalan kaki ke sini sambil menggendong Zaki tadi.

"Waktu saya mau pamit pulang tadi siang, ibu dijemput temannya." Mbak Atun memberitahuku perlahan.

"Teman yang mana?" tanyaku.

"Yang sering main ke sini, Pak. Teman ibu yang biasa pakai mobil warna putih, Bu Serly." Mbak Atun mencoba memberi petunjuk dengan rinci.

Aku tak paham siapa itu Bu Serly. Kata Mbak Atun tadi ia sering main ke rumah? Bahkan istriku belum pernah bercerita tentang wanita itu padaku. 

"Saya gak kenal, Mbak. Ibu pamit mau pergi kemana sampai Zaki dititipkan Mbak Atun?" tanyaku sangat kesal, merasa Rosidah sudah keterlaluan tega meninggalkan Zaki begitu saja.

"Mmm ... kata ibu tadi diajak Bu Serly merayakan ulang tahun di sebuah rumah makan. Pamitnya sih mau sebentar gitu. Tapi sore tadi ibu telpon, katanya Zaki biar nginap di rumah saya, ibu pulangnya malam." Mbak Atun menatapku dengan rasa kasihan.

Geram sekali rasanya. Bagaimana bisa istriku lebih mementingkan temannya daripada anaknya sendiri? Setahuku Rosidah wanita yang pendiam dan tak banyak tingkah. Aku sungguh tak menyangka ia bisa berbuat seperti itu. Apa ia tak khawatir Zaki rewel berpisah lama darinya? 

"Mbak Atun pulang saja, saya bisa mengasuh Zaki. Makasih, ya. Sudah hampir jam sembilan, hati-hati di jalan." Kupandangi Zaki yang tertidur di pangkuanku.

"Iya, Pak. Kalau repot, bapak bisa telpon saya. Nanti biar suami saya antar ke sini naik motor. Bentar lagi suami saya pulang dagang keliling."

Aku mengangguk penuh rasa terima kasih. Mbak Atun pun pulang meninggalkanku yang tercenung menatap wajah nyenyak Zaki yang membuatku begitu tersentuh. Sangat perlahan kugendong Zaki dan menidurkannya di kamar.

Ah, aku lupa bertanya pada Mbak Atun kenapa tak ada makanan di meja. Kucari telur di dalam kulkas, mengocoknya sebentar dan menggorengnya. Kubuat sebungkus mie instan sebagai pengganjal perut.

Deru mobil yang berhenti di depan rumah diiringi suara pintu pagar didorong membuatku heran. Rosidah kah yang pulang? Cepat kuayun langkah ke jendela depan. Kusingkap gorden jendela, nampak seorang wanita turun dari sebuah mobil yang sudah diparkirnya di halaman. Itu Rosidah! Ia tak mengenakan jilbab? Mobil siapa yang dikendarainya? Apa tadi ia pergi tak berjilbab?