2. Sudah Meniggal


"Ayo, Nek."

Aku menuntun sepeda cepat tanpa berani menoleh lagi ke belakang, Nek Imahpun sepertinya tidak berniat untuk bicara entah dia melihat hal yang sama denganku.

Sebenarnya jarak rumah dengan jarak persimpangan tempat beli gorengan tadi tidak jauh, hanya beberapa meter. Ibu biasanya juga sering meminta beli gorengan, tapu entah kenapa malam ini kok sial sekali.

Rumahku berjejeran dengan rumah penduduk lainnya, khas perkampungan. Di masing-masing sisi belakang dan samping terdapat beberapa jenis tanaman.

Seperti mangga, pohon pisang, dan berbagai jenis tanaman lainnya. Lampu teras tidaklah cukup untuk menerangi sampai pekarangan, sehingga bayangan yang dihasilkan ketika malam seperti ini membuatku semakin merinding saja.

"Assalamualaikum." Aku masuk, dan langsung mengunci pintu dengan cepat, membuat bunyi dentuman pintu yang cukup keras mengagetkan Ayah dan Ibu yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

"Waalaikumsalam." Ayah menatap heran.

"Dapat gorengannya?" tanya Ibu dengan raut tak jauh berbeda dengan Ayah.

Aku menggeleng, segera masuk kamar berganti pakaian lalu kembali ke ruang tengah dengan membungkus tubuh dengan selimut duduk di antara Ayah dan Ibu.

"Kenapa?"

Ibu memang orangnya sedikit cuek, tapi aku tahu dia adalah orang yang akan pertama menyadari kalau suasana hatiku tidak baik.

"Bu, apa Ibu kenal Pak Arwan?" bisikku pelan, entah kenapa aku merasa ada orang lain yang akan mendengar bila bicara terlalu keras.

"Hmm, kenal namanya saja, pendatang baru di  kampung sebelah. Ada apa dengan dia?"

Aku mengusap tengkuk yang mendadak merinding, jujur saja aku merasa takut untuk menanyakan ini pada Ibu.

"Itu, jualannya selalu ramai," ujarku merasa frustasi.

"Ya, bagus. Apa karena itu kamu tidak dapat bagian tadi?"

"Hmm nggak juga."

Astaga, kenapa jadi sesulit ini sih?

"Lalu?"

"Yah, apa ada orang yang jualan terus pembelinya orang dari alam lain gitu?" bisikku ke telinga Ayah membuat wajah cinta pertamaku itu terkejut.

"Bisa saja." Setelah cukup lama berpikir Ayah menjawab tapi tatapannya tetap pada layar televisi yang sedang menanyangkan perdebatan vaksin.

"Kenapa dari tadi kamu aneh, sebenarnya ada apa?" Ibu sepertinya lebih fokus pada ceritaku, aku menghela napas merasakan ketakutan yang tak biasa.

"Aku tadi melihat pembeli begitu banyak pembeli dekat gerobak Pak Arwan mangkal, tapi ada yang mengatakan kalau tidak ada orang sama sekali."

"Apa?" Suara Ibu menjadi tegang, dan itu semakin memperburuk perasaanku, astaga malam ini aku tidak akan bisa tidur.

"Tadi itu suasananya nyeremin, udah gerimis, sepi untung ...."

"Kamu nggak mampir ke sana, kan?" Ayah memastikan dengan suara beratnya.

Aku menggeleng cepat.

"Kamu sudah shalat isya?"

Ya Allah, aku belum shalat. Bergegas aku masuk kamar untuk berwudhu dan shalat, sejenak terpaku memperhatikan Naila adik yang hanya beda satu tahun denganku tidurnya nampak pulas.

"Apa yang harus kita lakukan?" Suara Ibu menghentikan langkahku dekat pintu kamar yang hendak bergabung lagi bersama mereka.

"Kita lihat saja bagaimana perkembangannya." Suara Ayah terdengar pasrah.

"Aku takut dia tidak siap dengan semua ini."

"Siapa, Bu?" Aku tidak tahan untuk tidak bertanya dan duduk lagi di antara mereka.

"Tidak ada."

"Tadi kami juga nyaris disambar petir." Aku masih ingin melanjutkan cerita tadi.

"Kami? Kamu bersama siapa?"

"Nek Imah," jawabku enteng.

"Apa?" Pekikan Ibu membuatku terperanjat.

"Ibu, kenapa sih, bikin orang jantungan saja," protesku jengkel.

"Kamu yakin, Ri? Nek Imah sudah meninggal satu minggu lalu, kamu lupa?"

Aku tertegun tak bergerak sama sekali berusaha mencerna ucapan Ibu, tadi Nek Imah mengatakan akan bicara dengan Ibu, tapi dia berubah pikiran karena mendadak sakit perut. Aku benar-benar tidak ingat kalau ....

"Nek Imah meninggal karena serangan jantung, bukankah kamu pergi ke rumahnya untuk melayat waktu itu?"

Astaga kenapa aku selupa itu? Jadi, yang tadi bersamaku siapa?

Hantu?

"Tidaaaak!"


Komentar

Login untuk melihat komentar!