4. Gorengan


"Hei, hei, tenangkan dirimu."

Ayah memegangi kedua tangan menatap mataku lurus, sebelumnya Ayah tak pernah seperti ini padaku.

"Lihat Ayah."

Dengan kepanikan luar biasa aku memperhatikan Ayah, jelas sekali kalau Ayah ingin menenangkan.

"Kendalikan rasa takutmu, kamu adalah tuhan dalam dirimu sendiri, jangan biarkan hal-hal aneh mempengaruhimu, oke."

Aku menelan ludah berusaha mencerna dengan baik perkataan Ayah. 

"Kalau kamu melihat sesuatu yang aneh bacalah ayat, tapi kamu membacanya dengan rasa berani dan percaya diri."

Aku menurunkan tangan yang menutup telinga perlahan, mengatur napas, merapalkan ayat kursi dalam hati.

"Ingat jangan banyak berprasangka atau membiarkan dirimu dikuasai ketakutan itu akan membuatmu berhalusinasi."

Aku mengangguk, mengusap wajah istighfar berkali-kali. Ibu mendekat dan mengusap bahuku, sementara Naila menatapku penuh tanya.

"Ingat yang Ayah katakan, jangan terlalu memperhatikan sekeliling, abaikan bila kamu melihat hal-hal aneh dan tidak masuk akal."

"Sampai kapan?"

Aku rasa semua berakhir ketika aku bangun tidur, nyatanya pagiku menjadi sangat buruk karena ketukan pintu itu sialan itu.

"Semua tidak akan kembali lagi kan, Ayah? Bagaimana kalau mereka menggangguku?"

Bayangan film horor langsung mengambil alih, ketika makhluk gaib bisa menyakiti manusia, tapi manusia selalu kalah.

"Jangan biarkan, kita manusia punya pelindung ayat-ayat suci dipadukan dengan rasa berani."

Aku tidak tahu apa yang dikatakan Ayah benar atau tidak, tapi rasanya aku sangat menyesal harus disuruh Ibu membeli goreng magrib kemaren, kalau aku tidak pergi hari-hari mengerikan ini tidak akan pernah dimulai.

****

Ibu dan Ayah bekerja di kantor pemerintahan setempat, biasanya pulang sore. Karena aku dan Naila tidak sekolah kami ditugaskan beres-beres rumah. 

Naila ketakutan mendengar ceritaku, untungnya aku bercerita ketika pekerjaan kami sudah selesai dan kami sedang bersantai di depan televisi.

Tiba-tiba aku punya ide, aku benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi kemaren sore. Kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sebentar lagi Ayah dan Ibu akan pulang.

"Mau ikut?"

Aku memakai hoodie dan celana jins hitam, menemukan Naila masih menonton sembari memakan kerupuk singkong buatan Ibu di toples.

"Ke mana?" Naila nampak malas, dia memang tidak suka bergerak banyak karena itu tubuhnya lebih berisi dariku.

"Mau ikut nggak?" desakku.

"Nggak."

"Ya sudah."

Kusorongkan kaki pada sendal jepit, lalu bergegas mengeluarkan sepeda dari garasi, dan mulai mengayuh ke luar dari halaman.

Semua tidak akan sama lagi, aku benar-benar menyadari itu. Seperti halnya aku melewati jalanan ini tiap hari bahkan sejak bayi aku sudah melewati jalan menuju simpang ini, tapi baru sekarang semua terasa menyeramkan.

Masih ramai, namun cuaca sudah mendung. Beberapa teman menyapa dan kubalas dengan anggukan saja, mereka tidak perlu tahu apa yang kurasakan saat ini, bagaimana bagiku matahari tak lagi sama.

Aku memperlambat kayuh sepeda ketika melewati pohon yang kemaren disambar petir, tapi kemudian mengurungkan niat yang yang taddinya hendak berhenti. Ada sosok hitam yang terkapar di sana, dan aku yakin itu bukan manusia.

"Yuri!"

Spontan aku memperlambat laju sepeda yang mungkin sudah terlalu kencang.

"Yuri, kamu seperti dikejar hantu." Rasi yang juga menaiki sepeda menatapku khawatir.

"Kenapa berkata begitu?" Aku mencoba melemaskan otot-otot yang tegang dengan tersenyum.

"Ngebut gitu. Memangnya mau kemana mau hujan ini."

"Mau ikut?"

Beruntung aku Rasi mau menemani, kami bersepeda dengan santai menuju persimpangan. Rasa was-was sedikit berkurang karena aku tidak sendirian.

"Kita beli gorengan itu yuk, Yuri. Kasihan Pak Arwan dagangannya sepi sekali."

Aku mengikuti telunjuk Rasi, ada kengerian yang langsung menyusup cepat sehingga jantungku jadi dua kali berdebar lebih cepat.

"Kalau beli gorengannya di sini sudah ramai, kita beli di sana aja yuk, hitung-hitung dapat pahala juga."

Aku sedikit ragu, ketika menoleh lagi ke arah gerobak Pak Arwan. Memang sepi hanya ada dua atauu tiga orang pembeli.

"Ayuk!"

Rasi tak sabar mendengar jawabanku dia mengayuh sepedanya ke sana, aku terpaksa mengikuti tapi sekilas aku melihat Nek Imah menatap dengan raut tak suka.

"Rasi!"

Rasi turun dengan senyum ramahnya, dia memang paling ramah dan berjiwa sosial tinggi, karena itu setiap ada kegiatan amal di sekolah dia adalah ketua penggeraknya.

Aku bergegas menyusulnya yang nyaris menabrak seseorang berwajah pucat mendekati gerobak gorengan itu.

"Jangan main tarik-tarik," protesnya yang tak kutanggapi.

Pak Arwan tersenyum ramah, dia tidak terganggu dengan kedatangan kami bahkan dia dengan cepat mengambilkan gorengan pesanan Rasi.

"Semoga cepat habis ya, Pak," Rasi tersenyum menerima kembaliannya. Jantungku nyaris melompat menyadari antrian yang mulai memanjang di belakang Rasi.

"Ayo."

Aku segera menariknya cepat ketika salah satu dari yang mengantri itu menatap mataku, dia menyadari aku melihatnya.

"Apaan sih?" 

"Cepat!"

Aku mengayuh sepeda dengan wajah jengkel Rasi menggerutu dan mengikuti dari belakang.

Hujan mulai turun, dari bukit saja kabut membentuk arakan turun. Beruntung kami segera melewati persimpangan ketika hujan lebat mengguyur deras.

"Buang makanan itu." 

Sepedaku berhenti mendadak menoleh ke arah suara yang rasanya tidak asing lagi.

"Buang makanan itu!"

"Ada apa?" Rasi menatapku heran.

"Buang makanan itu," ucapku menirukan perkataan Nek Imah yang mengambang tak jauh dari tempat kami berhenti.

"Astaga, kamu kenapa? Aneh sekali kenapa harus dibuang?"

Aku merebut makanan yang digantung di stang sepedanya kemudian melemparkan ke jalan begitu saja sehingga berserakan.

"Astaga, Yuri, kamu gila ya, mubazir tahu!"

Dia hendak memilih gorengan itu lagi, tapi langkahnya terhenti dan itu membuatku melangkah untuk mendekatinya.

"Astaga."

Gorengan itu dipenuhi ulat, sementara itu aku menangkap sosok hitam tadi memperhatikan dari jarak tidak begitu jauh.

Komentar

Login untuk melihat komentar!