Laki-Laki atau Perempuan
Hahaha....

Sonia malah menertawakanku saat aku menjelaskan kejadian di gerbang sekolah tadi pagi.

"Dara, Dara. Kamu ini ada-ada saja. Makanya kalau datang itu yang awal. Jadi kamu tidak perlu dijemput dewan kedisiplinan di pintu gerbang. Ngomong-ngomong seperti apa dewannya? Aku belum pernah melihatnya," responnya geli.

"Mengapa kamu tidak mencoba terlambat sesekali? Kamu akan tahu sendiri seperti apa mereka," jawabku datar.

"Yeee, aku kan anak rajin. Tidak sepertimu, Lazy," sindirnya jenaka.

Yah, sebutan baru untukku, Lazy. Kalau dipikir-pikir cocok juga untukku. Aku memang malas melakukan apa pun, dimana pun itu. Termasuk pergi ke sekolah dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari bapak ibu guru. Terkadang aku heran sendiri, mengapa seorang guru selalu menanyakan jawaban soal yang membingungkan kepada muridnya? Padahal dia sudah tahu jawabannya. Kalau pertanyaan itu berupa kuis sih tidak masalah. Tapi kalimatnya, 'Ibu ingin bertanya....' Benar-benar tidak masuk akal.

Aku mengajak Sonia keluar kelas. Kami membawa bekal untuk dinikmati dibawah pohon rindang depan kelas. Bekal yang kami bawa bukan nasi dengan lauknya, melainkan potongan buah nanas. Kedua orang tua kami melarang membawa nasi ke sekolah. Katanya agar tidak terlalu sering lapar, karena terbiasa setiap istirahat makan nasi. 

"Bagaimana kamu tahu dia laki-laki? Kamu bilang dari rambutnya sampai pakaiannya sama persis denganmu?" tanya Sonia setelah aku menceritakan mimpiku. 

"Itu hanya perasaanku. Tapi aku meyakininya," jawabku serius.

"Aah, kamu hanya bermimpi bukan? Tenang saja, mimpi itu hanya bunga tidur. Semakin kamu memikirkannya, bunga itu akan semakin mekar. Ya, kalau buahnya bagus. Bagaimana kalau buahnya jelek? Kamu akan kena sial terus." 

"Hih!! Kamu doain aku supaya sial?!" gerutuku kesal.

"Hey, jangan marahlah. Aku hanya bercanda. Baiklah, aku akan mendengarkan lagi ceritamu itu," ucap Sonia sambil merengkuh bahuku.

"Tidak perlu!" jawabku ketus.

"He? Mengapa? Aku serius ini mau mendengarkan. Ayolah..., jangan marah seperti itu," bujuk Sonia.

"Aku tidak marah. Hanya saja akhirannya jelek. Tambah jelek lagi karena tanggapanmu juga jelek!" 

"Wee? Jadi kamu asli marah padaku,ya?" tanyanya geli. Dia malah menutup hidungnya untuk menahan tawa. Tapi giginya yang putih bersinar tidak bisa menutupi tawanya.

"Memangnya ada kemarahan palsu?" tanyaku sebal.

"Baiklah, aku minta maaf. Aku janji akan lebih serius lagi," katanya terkekeh-kekeh.

Aku diam sambil menunggu tawanya habis. Semakin aku cemberut, tawanya semakin meledak-ledak. Bahkan ada beberapa siswa yang menghentikan jalannya lalu geleng kepala melihat ekspresi kami yang berlawanan. Dan itu membuatku semakin kesal. 

"Huuft, baiklah... Lalu bagaimana kamu bisa bangun? Apa dia meloncat dari dalam cermin lalu menerkammu? Atau kalian bertengkar sambil memukul-mukul cermin sampai cermin itu pecah?" tanyanya setelah puas tertawa.

"Tidak. Dia berubah menjadi ibuku lalu memukulku dengan sapu ijuk," jawabku.

Dan seperti dugaanku. Sonia tertawa lepas. Suaranya menggema sampai planet Neptunus. 

"Pantas. Pantas sekali untukmu. Lazy harus dipukul pakai sapu. Bahkan kalau perlu hujani dengan air. Hahaha...," tawanya menyebalkan.

Sonia memang seperti ini. Dia tidak bisa tidak tertawa mendengar alasan keterlambatanku. Tapi aku masih kepikiran dengan mimpi itu. Siapa dia sebenarnya. Dia memang sama persis sepertiku, seperti pantulan bayanganku saat bercermin. Tapi raut wajahnya sangat sedih. Dan aku begitu meyakini kalau dia laki-laki. Itulah yang membuatku bingung. Darimana aku berpendapat kalau dia laki-laki? Aku belum tahu suaranya, dan belum mendengar pengakuannya kalau dia laki-laki. Atau ini salah satu keanehan mimpi? Segala hal tidak bisa dibantah sama sekali.

Komentar

Login untuk melihat komentar!