Bab 3
Azam tertawa, "Oke." Ia mengangguk.

Setelah jeda beberapa detik ia berbicara kembali.

"Aku mau ajak Mbak nemuin Mama." Azam selalu to the point ke Arini, sebab ia memang tidak pandai basa-basi. Ia juga kadang berbicara formal.

"Hah!"

"Iya."

"Ngapain?"

"Minta restu."

"Restu?"

Azam mengangguk.

"Kita menikah."

"Memangnya saya bilang iya?"

"Ngomongnya pake aku--kamu aja, jangan saya."

Arini melengkungkan ujung bibirnya.

"Boleh bantu?" tawarnya.

Tanpa pikir panjang, Arini memutar laptopnya sehingga menghadap ke Azam.

"Jadi, gimana?"

"Apanya?"

"Bisa nemuin Mama?"

Arini diam seraya meminum air rebus yang ia bawa dari rumah.

"Kapan bisa nerima aku sebagai teman hidup yang menghasilkan pahala berlimpah?" tanya Azam lagi.

"Sally belum selesai kayaknya, aku mau bantuin dia." Arini tidak merespon pertanyaan Azam. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dengan bantuan penyangga.

"Ya Rabbi." Lirih Azam setelah punggung Arini tidak terlihat.

Niatnya hanya mengajak bicara, namun ia justru mendapat pekerjaan menggantikannya.

'Sepertinya ini juga salah, semakin ingin dekat justru kau semakin menjauh. Allah tidak ingin kita bersama mungkin, hatimu sulit sekali untuk luluh padaku. Atau karena terlalu memaksa untuk disegerakan. Tapi aku pejuang bukan pembuang peluang.' gumamnya sendiri.

Esok harinya, Azam menemui Mama. Mereka janjian bertemu di luar, karena memang Azam tidak ingin Papinya ikut campur dan membeo membuat luka di hatinya semakin menganga.
"Ma, ada yang ingin aku bicarakan."

Baru saja duduk, Azam sudah membuka percakapan.

"Mama lapar, Mbok sedang pulang kampung, jadi nggak ada yang masak."

'Memangnya Mama tidak bisa masak sendiri? Hah! Perempuan sosialita yang terlanjur kaya.' gumamnya dalam hati.

"Setelah aku bicara, Mama bisa makan sepuasnya."

"Mama mau makan sama kamu!"

Azam tertawa.

"Kenapa? Nggak boleh?"

"Aku nggak suka makan bareng Mama. Sudah terbiasa begitu," jawabnya getir.

Mama menghela napas, "Baiklah, katakan!"

"Aku mau Mama menemui seseorang besok. Nanti aku kirimkan alamatnya."

"Siapa?"

"Perempuan yang aku cintai."

"Kamu sudah benar-benar move on dari Soleha?"

'Move on? Aku tidak mencintainya sama sekali, Ma.' bisiknya dalam hati.

"Ya. Aku mau kenalkan Mama padanya."

"Apa dia cantik?"

"Tentu saja, sangat cantik."

"Kaya? Pekerjaannya apa?"

"Apa itu penting, Ma? Aku ini laki-laki. Aku yang menafkahi."

"Ya, jangan seperti Papamu."

"Nggak perlu bahas yang lalu."

"Ya memang, kalau saja Papamu laki-laki yang bertanggung jawab, Mama tidak akan pindah ke lain hati."

'Cih.' Azam mengumpat kesal.

"Mama tidak pernah mau berkaca. Mamalah yang membuat Papa menderita, bangkrut karena selalu menuruti keinginan Mama."

"Kapan kamu akan bersikap baik sama Mama? Jangan jadi anak durhaka, percuma kamu sholat dan tinggal di pesantren belajar ilmu agama, tapi tidak menghormati perempuan yang melahirkanmu."

"Aku tidak minta untuk dilahirkan. Kalau Mama tidak datang besok, jangan harap aku akan memanggil dengan  sebutan Mama lagi. Permisi!"

"Apa minuman itu sudah dibayar?" pekik Mama.

Azam membalikkan badan dan mengeluarkan dompetnya. Banyak pasang mata menatap mereka seraya berbisik. Ia mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah dan meletakkannya di atas meja depan Mama, dengan penekanan.
  
"Dasar anak tidak tau diri!" sentak Mama marah karena sudah merendahkannya.

Azam mengeratkan geraham, tangannya mengepal, dadanya berdegup tidak beraturan.
"Aku pergi, Ma." Suara Azam melunak.

Mama bergeming, ia duduk, beberapa saat kemudian ia melahap makanan yang dipesan.

Minggu pagi begitu ramai di Rumah Baca. Jam delapan anak-anak sudah menunggu pintu gerbang dibuka. Setiap minggu selalu ada agenda khusus, seperti senam, makan besar, lomba, nonton, menanam, menyiram tanaman, dan lain-lain.

Arinilah yang mengatur semua, dan dia juga menjadi pembina utama. Minggu ini anak-anak agendanya kerja bakti lalu makan besar. Ada salah satu donatur tetap mengadakan hajatan, dan mereka mengabari untuk membagikan makanan berupa nasi kotak dan jajanan. Hal ini seringkali terjadi, namun sebelum itu mereka mengkonfirmasi terlebih dulu, agar bisa dikondisikan, berapa jumlah yang akan diterima mengikuti banyak anak-anak yang hadir hari itu.
Azam duduk memandangi Arini yang tengah tertawa bersama anak-anak, desiran hangat menyelinap di lubuh hatinya. Betapa ingin ia, hidup berdampingan dan berbagi rasa. Netranya teralihkan oleh mobil mewah yang memasuki halaman. Perempuan cantik nan modis turun dari mobil. Azam bergegas mendekati.

"Asslamu'alaikum, Ma." Azam meraih tangannya.

"Waalaikumsalam."

"Mari Ma, aku antar, dia sedang duduk di sana." Azam menunjuk saung yang di depannya ada kolam ikan hias berukuran dua kali empat meter.

Tiba-tiba Azam muncul di depan Arini bersama seorang perempuan. Arini termangu melihat Mama yang begitu cantik seperti ABG.

"Sayang, kalian main ke sana dulu ya! Bunda ada tamu." Arini mengelus kepala anak perempuan berkepang dua, anak itu mengangguk dan pergi.

Arini berdiri, tatapan Mama seperti hendak memangsa. Netranya terus bergerak dari atas turun ke bawah dan naik lagi.

"Ma, ini Arini, yang aku bicarakan kemarin." Azam menyentuh lengan Mama.

Arini tersenyum lembut, matanya berbinar penuh cinta.

"Ini?" tanya Mama.

"Kamu nggak salah orang? Wajahnya memang manis tapi cacat," ucap Mama pelan. Namun itu masih terdengar oleh Arini.

Bibir Arini yang semula melengkung kini datar, matanya berkaca-kaca.

"Assalamu'alaikum, Tante." Sapa Arini mengulurkan tangan.

"Walaikumsalam." Dengan ketus ia menjawab lalu menyambut uluran tangan Arini dan menariknya cepat.

Mama kemudian menarik lengan Azam, menjauh.