Bab 5
"Rin!" pekik Sally.


"Aku belum menemukan jenis pita suaramu, Sal."

"Kenapa? Kurang kenceng? Hah!" Suara Sally naik satu tap.

Arini menyipitkan matanya, kepalanya sedikit pusing.

"Terserah kamu aja," ucap Arini pelan dan datar. Ia menutup laptopnya lalu beranjak dari tempat duduk. 

Azam menarik napas dan mengembuskannya cepat.

"Ya udah aku pamit, ya. Assalamu'alaikum." Azam meninggalkan dua orang yang sama diamnya.

Tidak ada kata iya, hanya ada jawaban dari salam itu. Azam menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Matanya melirik ke arah Arini yang sedang duduk bersama tiga anak laki-laki, mereka tengah asyik memberi makan ikan. Ingin sekali rasanya ia menghampiri, namun tidak. Sebab melihat raut wajah Arini yang tampak baik-baik saja. Tidak ada perasaan sedih ataupun menyesal atas keputusannya menyikapi niat Azam.

Azam berjalan dengan perasaan hampa. Rasanya kaki tidak menapaki bumi lagi. Bagaimana tidak, perempuan yang sangat ia inginkan menolak untuk bersamanya. 

Dua bulan berlalu sejak Azam datang ke Rumah Baca, tidak ada kontak dari dunia maya oleh dua manusia yang sedang dalam masa pemulihan hati. Sally dan Rijal menjadi perantara keduanya jika memang perlu untuk dibicarakan seputar kepentingan Rumah Baca. Masuk bulan ketiga, Rijal sahabat satu-satunya Azam mengontak Arini melalui pesan WhatsApp. Ia ingin menemui Arini, tapi tidak di Rumah Baca. Meski sebenarnya Rumah Baca juga tidak asing baginya.

["Assalamu'alaikum Mbak, ada banyak yang mau Zaky bicarakan. Kapan bisa punya waktu?] 

Keduanya sudah saling menyimpan kontak. Tentu memperkenalkan identitas tidak lagi diperlukan. Zaky juga sudah hapal bahwa Arini tidak suka dengan orang yang bertele-tele. 

["Waalaikumussalam, jum'at sore insyaallah."]

["Baik, di mana Mbak?"] 

["Di Rumah Baca, jam tiga siang."] 

["Siap. Makasih."] Emot senyum.

"Cieee ... chatan sama siapa tuh?" Tiba-tiba Sally mendekatkan wajahnya ke ponsel Arini.

"Zaky."

"Pindah ke lain hati?" selidiknya.

"Emang sebelumnya di hati siapa?" Arini tanya balik.

"Azam Cana." Sally mengambil posisi di sebelah kanan Arini.

 "Hm. Udah makan siang belum?"

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." jawab Sally ketus.

"Terus?"

"Kalian kenapa kok gitu?"

"Gitu gimana?"

"Diem-dieman. Udah dua bulan ini Azam nggak ke sini."

"Emang nggak ada yang mau diomongin, kok."

"Rin, kamu nggak kasian apa sama Azam?"

"Apa yang perlu dikasihani?"

"Kebiasaan deh, orang nanya, balik nanya," ketus Sally.

"Pertanyaan kamu tu, bikin orang jadi nanya balik."

"Gue males tau jadi perantara kalian ngobrol."

"Maaf, nggak lagi deh. Lagian ngobrol hal penting terkait Rumah Baca doang, kan?"

"Lo, kan bisa chat sendiri."

"Nggak punya nomornya."

"Sini!" Sally merebut ponsel Arini.
Ia mengecek kontak Azam, dan memang tidak ada.

"Lo hapus, ya?"

"Aku habis reset hape."

"Lah itu nomor Zaky ada. Nomor gue juga."

"Ya nggak tau, mungkin nomormu sama Zaky kesimpennya di card."

"Hm. Nih, gue balikin." Sally menyodorkan ponsel Arini.

Arini membuka bekal nasi, dan menyuap tanpa menawar orang yang berada di sebelahnya.

"Makan sendiri aja, nggak usah nawarin."

"Tadi aku ajak kamu, malah ngomongin orang."

"Sini, itu porsi untuk dua orang kan?"

Sally merebut bekal yang dipegang Arini. Ia melirik Sally.

"Rin, Azam sering makan bekal yang Lo bawain buat gue loh. Dia beli nasi bungkus, tapi dikasihkan ke gue. Terus, tukeran deh."

"Oh."

"O, iya. Gue lupa terus mau tanya ini."

"Apaan?"

"Kata Dela, 'Mbak, waktu itu ada ibu cantik, agak mirip sama Kak Azam. Terus dia tu ... kayak gitulah. Nyebelin' emang siapa sih Rin? Ibunya Azam?"

"Iya."

"Terus gimana? Azam bawa Ibunya nemuin Lo?" selidik Sally.

Arini bergeming, menyuap cah kangkung.

"Tuh, kan. Si Azam tu serius sama Lo." 

"Kamu suka sama dia?" tanya Arini.

"Suka banget."

"Ya udah kamu aja yang nikah sama dia. Siapa tau Mamanya setuju."

"Eh, bentar ..., jadi Mamanya nggak setuju Azam sama Lo? Kenapa?"

"Aku rasa begitu."

"Kenapa?" ulang Sally.

"Aku rasa kamu tau jawabannya," jawab Arini.

Sally terdiam, ia menatap wajah Arini lalu pindah ke kaki. Seketika ia memeluk Arini. Hampir saja tumpah bekal yang sedang dipegangnya.

"Gue nggak suka Lo punya perasaan gitu," ucap Sally lembut.

Arini menarik napas berat. 

"Arini yang gue kenal itu hebat, nggak insecure."

Arini mengulas senyum, memencet hidung Sally yang mancung dan sedikit besar.

"Rin, Lo udah lapor polisi kan, kejadian waktu itu. Udah hampir dua tahun, ya."

"Udah."

"Terus gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana."

"Udah tau siapa pelakunya?"

Arini menggeleng. Ia sedang menyembunyikan tentang jejak pelaku. Ia belum memberi tau siapapun bahwa ada noda darah dan rekaman dari kodak yang dibelikan Pamannya saat berusia tujuh belas tahun, malam itu ia sengaja merekam sebab ingin tau apa yang sedang ia lakukan saat tengah malam. Karena Rijal pernah bilang, 'Mbak Arini sering tidur sambil jalan'.

Meski Arini terlihat tidak peduli dan tidak ambil pusing. Diam-diam ia mencari tau, penasaran dengan satu nama. 

"Gue pulang duluan ya, Rin!"

"Oke, hati-hati lintah."

"Hah! Lintah?"

"Udah kenyang, pergi." Arini tertawa melihat ekspresi Sally.

"Ih ... jahat!" Sally mendorong bahu Arini.

Lalu keduanya tertawa bersama. Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah.

"Besok Lo janjian sama Zaky, kan?"

Arini mengangguk. Sally memanyunkan bibirnya.

"Kenapa?"

"Gue nggak bisa ke sini. Besok udah janjian sama beliau."

"Hm, gitu. Lagian aku tidak mengharapkan kamu ada, kok."

"Ish, sebel." Sally melengos memutar tubuh dan berjalan melenggang menuju motor maticnya.

***

Hari jumat pun tiba, ternyata Zaky datang lebih dulu.

"Kakak!" teriak seorang anak perempuan seraya berlari.

'Itu pasti Arini' batin Zaky. Ia lalu memunculkan separuh kepalanya dari balik daun pintu.

Anak-anak sangat semangat jika bertemu Arini. Padahal sebenarnya, Arini kurang menyukai anak kecil. Tapi mereka semua nyaman dan senang bermain dengannya.

"Hai, assalamu'alaikum."

Mereka menjawab secara bersamaan salam Arini.

"Kalian baca buku dulu ya, ntar kakak tanya tentang isinya."

"Siap. Emang kakak mau ke mana?"

"Nemuin Kak Zaky."

"Oh, mau pacaran, ya?" Ledek salah satu anak.

"Pacaran itu nggak boleh dalam islam."

"Kenapa gitu? Kakak aku pacaran, pacarnya sering diajak ke rumah."

"Nanti kita bahas, ya. Kakak ke sana dulu, oke?"

"Oke, deh."

Arini berjalan memasuki kantor. Ruang terpisah dinding dengan perpustakaan, berukuran 4x3 meter.

"Zaky, di luar aja!" pinta Arini.

Ia merasa tidak nyaman jika harus satu ruang dengan laki-laki berdua saja.

"Oke."

Mereka duduk di kursi besi panjang yang ada di depan kantor. Arini mengambil dua air mineral  kemasan dari lemari pendingin.

"Udah dari tadi?" tanya Arini membuka percakapan.

"Tiga puluh menit, kira-kira."

"Saya terlambat lima menit dong, ya. Maaf."

"Nggak papa Mbak, cuma lima menit aja, kok."

Kerongkongan Arini terasa kering, ia menghabiskan air mineral dengan sekejap.

"Haus banget kayaknya." Zaky mencoba mencairkan suasana.

Arini tertawa kecil.

"Mau ngobrolin apa?"

Zaky diam sejenak.

"Soal Azam," sahutnya.

Raut wajah Arini seketika berubah.