Bab 4
Kemudian Mama, menarik lengan Azam menjauh.

"Kenapa, Ma?"

"Kamu bener suka sama perempuan itu?"

"Ma, jangan keras-keras!" pinta Azam pelan.

"Bagaimana dia akan mengurusmu dengan baik, sedang dirinya saja seperti itu. Dia hanya akan menjadi beban. Nggak, Mama nggak setuju!"

"Azam bisa menikahinya tanpa restu Mama!" suara Azam bergetar.

"Kamu mau jadi anak durhaka beneran, hah!"

"Ma, aku mohon, jangan bicara seperti itu. Aku mencintainya."

"Jangan-jangan kamu kena guna-guna."

"Astafirullah, Ma?" sergah Azam.

"Cari perempuan lain, banyak di dunia ini, Zam. Apalagi kamu tampan dan punya penghasilan lumayan."

Azam mengembus napas cepat. Dadanya bergemuruh. Ia melirik Arini yang duduk diam menatap ikan di kolam.

"Mama pulang saja," ucap Mama.

"Ma, tolong!" Azam memohon agar Mamanya mau menemui dan berbicara dengan Arini.

"Enggak, dia hanya akan menjadi bebanmu, kaki aja cuma satu."

"Ma, cukup! Mama pulang saja kalau begitu." Azam melebarkan tangannya mengisyaratkan.

Mama pergi tanpa pamit, sebentar ia menoleh ke arah Arini. Hatinya sangat perih, ia menata dirinya agar terlihat baik-baik saja. Azam menghampiri Arini.

"Mbak, Mama ada kerjaan, jadi buru-buru pulang. Maaf ya, nggak pamitan dulu tadi."

Arini mengulas senyum, hatinya perih, ia mendengar beberapa potong percakapan Azam dan Mama. Tatapan Mama juga ia bisa menafsirkannya.

"Iya, nggak papa."

Suasana mendadak hening Azam mengacak rambut lalu membetulkannya lagi. Ia merobek daun tanaman bunga menjadi kecil-kecil.

"Jangan bikin kotoran, kasihan anak-anak bersihkan lagi."

Azam menghentikan tangannya, ia tidak sanggup lagi menahan kelenjar lakrimal untuk keluar. Emosinya campur aduk bersamaan apa yang sedang dipikirikan. Pipinya pun basah.

"Menurut Mbak, aku harus gimana?" tanyanya seraya menyeka air mata.

"Apanya?" Arini balik bertanya.

"Kenapa Mbak bisa setenang ini? Padahal aku yakin, Mbak sedang tidak baik-baik saja karena sikap Mama tadi."

Arini membasahi bibirnya yang kering.

"Bukankah ini semakin membuat Mas Azam terluka?" 

Azam membetulkan posisi duduknya.

"Bukankah aku sudah bilang tidak bisa? Kenapa sangat keras kepala. Aku tidak mengingkan Mas Azam dalam hidupku." Arini berbicara seraya tatapannya menerawang ke depan.

"Katakan dengan melihatku!" pinta Azam parau.

Arini menggigit bibir atasnya. 

"Jangan menatapku seperti itu." Arini sedikit memiringkan badannya.

"Mbak, bohong kan?"

"Aku nggak bohong, aku serius dengan apa yang tadi terucap."

"Kalau begitu katakan dengan melihatku, sekali saja. Maka aku akan benar-benar pergi."

Bagaimana mungkin Arini sanggup menatap Azam, hatinya teramat perih mengingkari apa yang dirasa selama ini.

"Katakan Mbak!" 

Arini memutar badannya empat puluh lima derajat, sehingga tepat berhadapan dengan Azam. Sorot mata lelaki itu  membuat jantungnya berdesir hangat. 

'Aku harus mengakhiri ini, agar Azam tidak semakin terluka dan berharap banyak.'

"Aku tidak menginginkanmu, juga tidak membutuhkanmu dalam hidup." Jemari mungil nan lembut itu meremas gamis hitam yang ia kenakan.

"Apa sedikit pun tidak ada perasaan untuk saya?" Azam menjadi bicara dengan formal.

"Iya, tidak ada." 

Jantung Azam rasanya sudah pindah tempat menjadi di kepala. Ia bak tersambar petir, sendi di tubuhnya menjadi lemah. Ia duduk bersandar dan meringkuk.

Arini mengalihkan tatapannya.

"Maaf, saya permisi," ucap Arini meninggalkan Azam. 

Tanpa disadari pipi yang ranum dan dingin pun telah basah. Ia benar-benar tega kepada Azam juga dirinya sendiri.

Sejak hari itu, Azam tidak pernah menampakkan diri di hadapan Arini. Juga tidak membalas pesan Arini saat ia minta tanda tangan untuk laporan bulanan. Terpaksa ia meminta Rijal untuk menghubungi. Namun tetap tidak datang, Azam justru meminta Rijal untuk mengantarkannya ke pesantren.

"Rin, Azam kok nggak pernah nongol, apa dia sibuk banget?" Sally membuka percakapan di sore hari yang dingin. Magelang diguyur hujan, tidak lebat tapi lama.

"Kamu tanya aja ke dia, punya nomornya kan?"

Sally diam memperhatikan Arini yang sedang asyik mengetik novel keduanya. Ia merasa sesuatu telah terjadi di antara mereka.

"Temanya apa, Rin?" Sally mencoba mencairkan suasana.

"Rumah tangga."

"Wah, bakal segera naik pelaminan nih, Arini dan Azam." 

Arini menghentikan gerak tangannya, menatap Sally tajam. Sally meletakkan telunjuk di bibir, matanya melirik ke luar mendengar suara motor datang.

"Assalamu'alaikum."

"Oh, gue kira Azam, Jal."

"Jawab dulu salamnya."

"Oh, iya. Walaikumusalam."

Sally meringis menatap Rijal.

"Lo ganteng banget sih, dek," ucap Sally, netranya masih mengikuti langkah Rijal.

"Jelas, adiknya siapa dulu," kelakar Rijal.

Sally dan Rijal tertawa. Arini bergeming tidak merespon apapun.

"Assalamu'alaikum."

Jantung Arini mencelos mendengar ucap salam dari seseorang yang sudah hapal suaranya, ia menoleh, tatapan mereka bertemu sejenak.

"Loh, Zam. Masuk gak ngucap salam." Sergah Sally.

"Sudah." Azam menjawab pelan.

"Lo kok lesu gitu, nggak nyapa yang di sana?" Sally menggoda.

"Jal, udah kamu kasihkan?" Azam tidak menjawab, ia justru membicarakan hal lain.

"Udah, Mas."

"Apaan?" tanya Sally pada Rijal dengan curiga.

"Berkas yang ditandatangani Mas Azam."

"Oh, kenapa nggak Lo kasih sendiri ke orangnya, tuh!" tunjuk Sally.

Azam bergeming.

"Kalian kenapa sih?"

Ruangan mendadak senyap, tidak ada yang menjawab pertanyaan Sally.

"Iih, ngeselin banget, deh!" Sally meletakkan buku yang ia baca dengan keras di atas meja.

"Katanya nggak boleh loh ndiemin orang lebih dari tiga hari."

Masih senyap.

"Zam, nggak boleh memutuskan silaturahmi. Arini, juga." Sally berkecak pinggang dan melotot.

"Bukan gitu Mbak, takut apa yang saya lakukan membuatnya tidak berkenan," jawab Azam seraya memasukkan barang ke dalam plastik besar.

"Mau Lo bawa ke mana itu?" tanya Sally lagi.

"Piknik."

"Ide bagus tuh, ayo minggu depan kita piknik!" ajak Sally.

"Wah bagus itu," sahut Rijal, "Gimana menurut Mas?"

"Silakan, lagian selama ini belum pernah diadakan, pasti anak-anak senang," terang Azam, "Tapi maaf, aku nggak bisa ikut."

"Loh, kenapa?" selidik Sally.

"Ada yang tidak suka dengan keberadaan saya," tutur Azam.

"Dia, maksudmu?" ucap Sally menggerakkan alisnya. "Ya, udah deket sama gue aja. Gimana?"

Azam dan Rijal tertawa kecil.

"Gimana menurut Lo Rin?" 

Arini diam tidak menjawab, Azam menatap dari kejauhan, ingin sekali mendengar suaranya yang membuat candu itu.

"Rin!" Pekik Sally.

"Aku belum menemukan jenis pita suaramu, Sal."

"Kenapa? Kurang kenceng? Hah!" Suara Sally naik satu tap.

Arini menyipitkan matanya, kepalanya sedikit pusing.