Tidak Semua Perempuan itu Lemah
“Iya, Mas!” 
Handuk yang tergantung di belakang pintu kamar mandi ditarik cepat. Dengan gemetar, tubuh yang hanya terbalut sebagian itu segera ke luar dan menemui suaminya.

Mata Fandi tak berkedip menatap tubuh tinggi dengan betis jenjang itu. Rambut basahnya digulung kasar. Mata Hilma terlihat bengkak. Tangis yang dari tadi tak henti membuat kantong indra penglihatannya itu sembab.

“Jam segini baru mandi?” Lelaki itu entah bertanya, entah mengumpat.

Hilma tidak menjawab, tapi segera ke dekat lemari. Mengeluarkan baju habis untuk membungkus tubuhnya yang masih terasa nyeri di bagian-bagian tertentu.

Tanpa senyum, Fandi memeluknya dari belakang. Napasnya menerpa tengkuk perempuan berkulit putih yang berusaha menghindari suaminya dengan gerakan refleks.

“Ga usah menghindar. Apa pun yang kulakukan padamu halal.” Ciuman disertai gigitan pelan terasa di leher belakang telinga Hilma.

Perempuan itu memejamkan mata, tetapi bukan menikmati. Melainkan berusaha menghilangkan rasa takut yang datang tiba-tiba, setiap kali Fandi mendekatinya.

Pernikahan yang telah merenggut mimpi indahnya. Kebersamaan yang telah menghancurkan harapannya memiliki seorang pelindung yang mampu mengangkat derajatnya, membuat Hilma seakan berada di pinggir jurang. Sedikit saja tergelincir, tubuhnya menggelinding dan hancur.

“Bukannya kamu tadi ke kantor?”
Hilma tak peduli dengan tangan Fandi yang melingkar di perutnya. Dia segera memasang pakaian untuk menutupi kulitnya yang bak batu pualam, bersih dan putih.

“Bunda kamu mau datang bersama Tedi. Tadi dia menelepon, aku tidak mau kamu keceplosan, makanya aku pulang. Ingat Hilma, tetap bersikap biasa saja.” Ancaman disertai ciuman lagi yang membuat Hilma merasa harga dirinya telah diinjak oleh suaminya sendiri.

Sikap Fandi tidak hanya menumbuhkan kebencian dalam hati, tapi juga menghadirkan perlawanan yang tak ubah bom waktu. Satu saat pasti akan meledak karena tidak tahan lagi diperlakukan kasar dan tak berperikemanusiaan itu.

Hilma bukan wanita lemah. Walau dia berpenampilan tertutup, dari kecil dia sudah belajar bela diri. Tetapi dia tahu bukan secepat ini membuat perhitungan dengan suaminya. Karena dia masih berusaha mempertahankan pernikahannya, walau sebenarnya dia sudah tidak bisa menerima perlakuan kasar Fandi.

Hilma tahu kewajiban seorang istri. Dia hanya ingin menjadi istri yang dimuliakan malaikat dan dicintai Rabbnya. Dengan tidak melawan ketika suami datang meminta hak yang ada pada dirinya.

Rasa sakit semalam pun, ternyata ikut mengurangi tenaga Hilma ketika tadi pagi menendang perut Fandi. Tapi, dia janji pada diri sendiri. Jika sekali lagi, suaminya memaksa yang seperti melakukan tindakan pemerkosaan, Hilma akan membuat lelaki itu menyesali perbuatannya.

Diamnya seorang perempuan tidak berarti harus menerima perlakuan semena-mena suaminya. Bukankah Allah mengizinkan perceraian jika hubungan itu menyakiti satu dan yang lainnya.

Pernikahan itu ibadah, pernikahan itu surga dunia yang harus dinikmati.

Hilma membuka pelukan Fandi perlahan, saat dia memasang gamis dari kepala.

“Kamu dengarkan, apa kataku tadi?” Fandi mengulangi pertanyaannya.

Hilma hanya mengangguk, dan segera menggulung rambutnya dengan handuk. Lalu menyapukan sedikit bedak ke wajah, dan memoles bibirnya dengan lipstik sabar bunda dan kakaknya tidak curiga.

Rasa sakit di bagian kewanitaannya sudah mulai berkurang, walau kadang-kadang masih nyeri ketika melangkah lebar. 

Perut Hilma terdengar keroncongan. Dua potong ubi rebus tidak bisa menyenangkan lama.

“Aku lapar,” katanya sambil berjalan ke luar kamar dengan langkah yang terkadang jinjit ketika sakit mendera.

“Hei! Di bawah tidak ada makanan!” Fandi berteriak keras.

“Aku bisa masak nasi dan lauk!”

“Di kulkas tidak ada bahan masakan,” lanjut Fandi geram.

Hilma berbalik, dan menatap tajam suaminya. Fandi seakan menatap singa lapar ketika istrinya menatap tak berkedip seperti itu.

“Kamu melawan?”

Gelengan pelan dari Hilma, membuat Fandi merasa di atas awan. Lelaki itu memang tidak terlalu tahu karakter istrinya. Karena selama pendekatan, dia hanya melihat kelembutan dan betapa manjanya Hilma pada bunda dan Tedi, jadi dia tidak yakin kalau istrinya bisa melawan.

“Mas, aku mau makan. Kalau kamu tak mau menafkahi tidak apa. Aku masih ada uang untuk membeli sedikit makanan di warung sebelah.”

Hilma segera kembali ke dekat lemari. Mengambil dompet, ketika dia hendak keluar lagi, pergelangan tangannya dicekal Fandi keras.

Tarikan napas Hilma sudah bercampur dengan kekesalan. Apakah dia harus membuat suaminya babak belur secepat ini? Atau dia tetap bertahan sampai tenaga dan rasa sakit ini berkurang, gumamnya dalam diam.

“Biar aku belikan. Tapi ingat, kalau bundamu datang jangan cerita apa-apa! Kamu dengar?”

“Aku dengar. Dan aku akan menutupi aibmu, karena setelah menikah aku adalah selimutmu. Bukan musuhmu!”
Kalimatnya datar, tetapi membuat emosi Fandi tersulut.

“Kamu bilang apa barusan?” Fandi mendelik.

“Mas, aku lapar. Kamu tahu apa yang dilakukan orang yang sedang kelaparan?”
Fandi terdiam mendengar pertanyaan istrinya yang ternyata tak selemah sangkaannya.

**
Mohon Subcribe ya, Kak