Tapi Aku Bukan Perempuan, Bu!
CERITA INI FIKSI, TIDAK MEMBENARKAN PERILAKU LAKI-LAKI YANG MENYERUPAI PEREMPUAN. JUSTRU SEBALIKNYA. AKAN BANYAK NARASI BUKAN HANYA TENTANG HARAMNYA BERPERILAKU LAKI-LAKI SEPERTI PEREMPUAN, TAPI JUGA HARAMNYA IKHTILAT DAN LAIN-LAIN. 
BACA SAMPAI END SUPAYA BISA MEMETIK PESAN MORALNYA. ❤



"Ibu, aku kan laki-laki? Kenapa pakai kerudung?" tanyaku polos kala itu. 

"Gak papa, Sayang. Ibu lebih ingin kamu terlihat cantik." Wanita itu membenarkan posisi kerudungku, lalu beralih ke rok berwarna merah, yang harus kukenakan di sekolah.

Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Hari di mana aku sudah fasih membaca alquran dan mendengar kartun muslim, bahwa seorang pria tidak boleh berlaku layaknya seorang perempuan. Aku pun protes pada ibu.

"Tapi, kita nanti disiksa kalau ngubah ciptaan Allah."

"Stt ... Ini hanya untuk pura-pura. Supaya Om jahat tidak membunuhmu." Maksud Ibu adalah Om Rudi, kakak dari ayah. Setiap pagi sebelum pergi, kami diminta untuk melihat foto nya dari waktu ke waktu agar bisa menghindar.

"Membunuh? Aku akan dibunuh Om kalau ketahuan seorang laki-laki?" 

Sebulan sebelumnya, kami memang kabur dari rumah besar kakek, dan tinggal di pinggiran kota. Baju-baju bagus yang dulu kami kenakan semua diganti ayah dan ibu layaknya pakaian orang biasa. Aku dan adik-adikku tak lagi bisa bermain wahana permainan atau pun sekadar game di gadged. Kami benar-benar menjadi orang asing.

"Tapi, ini rahasia. Jangan bilang siapapun kalau kamu sebenarnya adalah laki-laki. Ingat pesan ibu baik-baik, ya. Ini demi keselamatan kamu. Orang jahat akan datang menculik dan memakanmu hidup-hidup kalau tahu kamu laki-laki." Ibu bicara panjang lebar. Semua itu tentu saja membuatku yang masih berusia tujuh tahun bergidik takut.

Namaku hari itu diganti sebagai Junia, padahal sejak lahir mereka memanggilku Juna. Ayah bahkan mengubah nama dalam kartu keluarga dan genderku sebagai seorang pria. Arjuna Bratawijaya, menjadi Junia Andria.

Semua orang percaya bahwa aku seorang gadis. Karena fisikku rupawan, mirip seorang perempuan. Itu karena kami memiliki keturunan campuran, Jawa-Eropa.

Hingga suatu malam ... bencana itu memulai semuanya. Usiaku sudah 17 tahun. Cukup lama kami bisa bersembunyi dari

"Bunuh dan jangan sisakan satu pun!" seru seorang pria yang mengenakan pakaian rapi. Kenapa ada amarah menyala dalam matanya? Dia sangat membenci keluarga ini.

"Baik, Tuan."
Mereka menarik pelatuk. Hingga menyusul suara tembakan. Mereka membunuh seluruh keluargaku dengan brutal. Aku terlalu pengecut, untuk tidak keluar dari persembunyian, karena sudah berjanji pada Ibu tidak akan melakukannya.

Napasku tersengal. Sedikit lagi aku akan berteriak kala darah mengucur dari tubuh Ibu, Ayah dan dua adikku sesaat setelah bunyi tembakan terdengar berkali-kali. 

"A ...." Seseorang membekap mulutku hingga teriakanku tertahan sebelum terdengar suara teriakan.

"Stt. Diamlah. Aku utusan ibumu," bisiknya menekan. Aku mengangguk tanda mengerti.

Orang itu menarikku perlahan, mendekat ke jendela dan turun dari balkon dengan hati-hati. 

"Ada yang tersisa?" Suara Om Rudi menggema. Mengecil seiring langkah kami yang menjauh dari mereka.

"Ya, Arjuna! Anak sulungnya belum datang," sahut salah seorang anak buahnya.

"Sial! Cari dia sampai dapat dan habisi!" seru Om Rudiku yang kejam. 

Aku tak mengerti kenapa dia sejahat itu pada keluargaku. Yang jelas nyawaku sedang terancam.

___________

Aku meringkuk di ujung ruangan Paman Hamzah. Pria itu terus mengatakan bahwa aku aman bersamanya. Katanya dia adalah adik Ibu. Mereka besar bersama di panti asuhan dan terikat satu sama lain hingga dewasa.

Seminggu, dua minggu, aku tak keluar kamar karena masih trauma. Paman Hamzah ternyata bukan orang jahat. Dia merawatku dengan baik. Bahkan ketika aku sakit demam dan menggigil di malam hari. 

"Kamu harus kuat, Juna. Jika kamu ikut tumbang siapa kelak yang akan merebut hak ayahmu dari kakaknya yang jahat itu?" ucapnya sambil menutupiku dengan selimut.

Tahun telah berganti, usiaku telah bertambah. Pada malam itu Paman Hamzah mengajakku bicara serius.

"Untung saja aku menyelamatkan semua dokumen palsu di rumahmu,  jadi kamu masih bisa menggunakan nama yang lama." Pria itu memulai percakapan. 

Aku diam tak bereaksi, karena tak tertarik untuk membahas apa pun. 

"Ikut paman ke asrama saja. Kembali gunakan nama Junia, aku tak sehebat ayahmu yang bisa memalsukan data pribadi."

Kepalaku mendongak. Menatap dalam wajah pria yang juga menatapku itu. 

"Kamu keberatan?" Bola mata milik Paman Hamzah melebar. 

"Ya, aku tak suka jadi perempuan dan hidup bersama perempuan lain di asrama."

Hiss. Membayangkannya saja aku pusing. Berkumpul dengan sekumpulan makhluk cerewet,  ribet dan tidur bersama mereka. Oh,  itu mengerikan.  Meski aku lelaki baik-baik.  Aku juga normal,  bisa saja setan menjebakku nantinya. 

Next