Salsa : "Apa Kamu Jadian sama Hasan?"
"Ap-apa yang kamu mau?" tanyaku yang gugup. Bukan karena berdebar jatuh cinta, tapi terkejut atas keberaniannya mengunci tubuhku ke dinding.

Hasan merogoh sesuatu dari kantong. Apa itu? Apa sebuah pisau untuk mengancamku?

Detik kemudian benda itu disodorkan begitu saja. "Berikan nomor ponselmu, dengan begitu kita bisa lebih dekat lagi."

"Nomor?" 
Wah, perlukah ini? Bahkan Salsa saja belum kuberi.
Tapi aku perlu info tentang Bianca yang sangat mencurigakan, dan berpotensi mengganggu jalanku.

Ah, biar saja. Toh, kalau aku muak bisa dengan mudah memblokir nomornya. 

"Ya.  Baiklah." Kuraih benda pipih tersebut. Tampak jelas raut senang di wajah pria itu sekarang. 

"Mundurlah, kamu membuatku kesulitan dalam bernapas!" ucapku yang mulai mnegetik nomor ponsel di atas layar.

"Ya, Junia." Hasan memundurkan langkah tanpa protes. Dalam pikirannya, mungkinkah aku ini gadis menggemaskan seperti aku melihat Salsa? 

________

"Ehem." Suara deheman seorang wanita membuat kami menoleh secara bersamaan. 

Salsa datang. Sontak aku gelagapan. Takut jika dia akhirya marah, salah paham, cemburu dan tak mau berteman padaku. Aku memang akan menjauh dari Salsa tapi bukan dengan jalan seperti ini. Karena di kemudian hari, saat semua masalah selesai, hal pertama yang ingin kulakukan adalah menyatakan cintaku padanya.

"Hai!" Hasan menyapa gadis itu. Sementara aku cepat menyerahkan ponsel paksa dengan mendorong ke perut yang terbalut kemeja dan almamater universitas.

Hasan mengerutkan kening dengan mulut sedikit membulat, mungkin dia berpikir apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa setaknyaman sekarang ketika Salsa datang.

"Apa ada masalah?" tanyanya.

Tak kuhiraukan pertanyaan pria itu dan datang pada Salsa, lalu menarik lengannya pergi. Tak ingin berlama-lama gadisku melihat pada Hasan dan semakin jatuh cinta padanya. Entah, kenapa. Aku merasa suatu hari nanti Hasan akan jadi penghalang besar atas kehidupan cintaku. 

Tidak! Kuharap itu hanya firasat palsu.

"Apa aku mengganggu?" tanya Salsa yang pasrah saat lengannya kutarik meninggalkan area bawah tangga.

Lagian kenapa dia bisa tahu aku sedang berada di sini? Apa dia mengikuti Hasan karena saking tertariknya. Tak mungkin. Salsa bukan gadis semurah itu.

"Nggak, ayo kita pergi dari sini!" jawabku cuek.

Sampai tempat lengang di lobi depan perpus. Kami pun memelankan langkah. 

"Apa kamu sudah jadian dengan cowok itu?" tanya Salsa yang berjalan beriringan.

"Haah?" Jadian dengan Hasan? Jika itu terjadi berarti aku perlu dibawa ke rumah sakit jiwa, atau mencari donor otak, sebab otakku sudah tak lagi bekerja dengan baik.

"Hem? Jadi ... emang udah jadian?" Ada kecewa dari nada suara gadis itu. 

"Nggak. Tentu aja nggak! Gak mungkin aku jadian dengan pria sepertinya. Dia bukan tipeku sama sekali!" Aku berkilah untuk sesuatu yang mustahil. 

Entah Salsa percaya atau tidak?
Karena yang aku tahu sesama wanita itu sulit mempercayai sesamanya, apalagi jika menyangkut sebuah hubungan cinta.

"Oh, jadian juga gak papa. Mungkin kalau kamu jadian sama dia, aku bakal jauhin kamu."

Tu kan. Untung aku katakan yang sejujurnya. Sudah kuduga dia juga sama dengan wanita lain. Mencintai hanya memakai perasaan tapu nggak otaknya. Masa teman sebaik aku mau dibuang hanya karena cemburu.

"Hem?"

"Ya, aku menjauhi kamu bukan karena cemburu." Apa? Yang benar saja. Memangnya kalau bukan karena cemburu karena apa lagi? Dia pasti bohong. Tapi gak papa, Sya. Walau kamu bohong demi hatimu sendiri kali ini, aku tetep aja cinta sama kamu.

"Lalu? Masa bukan karena cemburu?" tanyaku basa-basi.

"Yah. Karena aku seorang muslimah." Wanita itu mengucap datar. 

"Hah. Aku juga mus ...." Ucapanku tertahan. Lantaran memikirkan sesuatu yang tak tuntas. 

Salsa lalu tersenyum. Tulus. Tak ada sedikit saja ekespresi tak suka dari wajahnya.

"Kan aku udah bilang sama kamu, kalau pacaran itu haram. Aku gak mau deket sama laki-laki tapi juga gak mau deket sama cewek yang punya hubungan sama laki-laki." Gadis itu bicara panjang lebar, sesekali mengulang senyum dan melemparnya ke arahku.

"Maksudnya?" Aku merasa tak paham mengenai ucapannya.

"Yah, itulah konsekuensi yang harus dilakukan seorang muslim. Taat pada syariah," lanjut Salsa. 

"Tapi apa hubungannya denganku?"

"Karena aku tak mau tertular olehmu. Kamu akan sangat senang karena terus bertemu dengan Hasan. Sedikit banyak nanti akan membuatku juga merasa ingin tahu bagaimana rasa senangnya berpacaran. Lalu aku goyah dan ikut mencari pacar. Dan ... itu karena aku merasa adalah manusia biasa. Akan lebih baik menjauhi zina daripada terus tercemplung di dalamnya." Lagi, Salsa bicara seolah seorang ustazah yang menjelaskan pada muridnya dengan detail.

"Kalau gitu selamanya aku gak akan pacaran, kecuali kamu juga pacaran," ucapku mantap.

"Hah? Kenapa aku? Beramalah karena Allah bukan aku!" serunya.

Maksudku gak gitu, aku akan pacaran setelah menikahimu, Sya. Tapi gak mungkin aku ngomong itu sekarang.

Bersambung

Hai Kak,  bab ini belum selesai. Besok bakal aye sambung sampe lebih 8 rb karakter. Otor harus isi kelas menulis hari ini, jadi belum ngetik banyak Makasih, ya yang udah mau buka pake kunci.  Semoga rizqinya makin melimpah. 😍😍😍