Ketahuan Bianca?
"Sudah jangan kebanyakan mikir!" hardik Paman yang membuatku terhenyak. "Malah melamun," lanjut pria yang kini sedang membereskan bekas makan yang dibawakan Salsa.

Gadis itu tadi bilang akan pergi jika kamarku telah beres dan aku hanya tinggal memejamkan mata pergi tidur. Namun, kedatangan Paman Hamzah menghancurkan semua. Dia seperti tak pernah jatuh cinta, yang tak mengerti bahwa ponakannya ingin berlama-lama bersama wanita. Walau kupungkiri aku memang jatuh cinta pada gadis itu.

"Tidak jatuh cinta atau pun memasukkan wanita lain ke kamar," ucap pria itu seolah tahu apa yang kupikirkan.

"Hah?"

"Ya, jika kamu kesulitan tinggal bilang Paman. Aku akan meluangkan waktu membereskan kamarmu."

"Kamarku tak perlu dibereskan karena gak berantakan." 

"Seperti ini kamu bilang gak berantakan?!" Paman yang sedang memasukkan kemasan makanan ke kantong plastik menyempatkan menoleh ke arahku untuk bicara. Aku paham maksudnya, itu adalah sebuah bantahan serius.

"Ya ... untuk pria ini cukup rapi, Paman. Apa Paman tak pernah muda? Apa Paman selama ini hidup di camp militer?" bantahku pada pria berusia sepertiga abad itu.

"Hiss dasar!" Paman mencebik dan melotot padaku. Dia mungkin baru sadar kalau ponakannya ini selain jenius juga sangat pandai bicara.

"Oya, penjaga bilang kamu pulang di jam lima." Kini pia itu tampak serius. Firasatku jadi tak enak, jangan-jangan dia tahu soal ciuman menjijikan tadi?

"Ya."

"Bukankah, kelas karate selesai jam 6.15?" Kini matanya menyipit ke arahku. Gawat! Aku ketahuan bolos kelas tersebut.

"Em, itu ... itu karena ...."

Paman Hamzah mendesah. "Sepertinya kita perlu membuat aturan tertulis Jun. Gadis itu membawa dampak tak baik untukmu."

"Peraturan? Bukan begitu. Salsa tak ada hubungannya dengan ini."

"Kamu yakin?"

"Kenapa Paman selalu bicara seolah semua orang di dekatku adalah penjahat?! Itu memuakkan aku juga perlu teman untuk tetap bisa hidup." Suaraku meninggi.

Pria itu mendesah dengan mata terpejam. Seperti tengah menahan sesuatu dalam dada. Ya, aku tak peduli dia marah. Namun, justru dia mendekat padaku perlahan. Lalu duduk di sisi ranjang.

"Jun. Kamu tahu bahwa orang tuamu, bahkan saat di ujung hidupnya, menatapmu dan menginginkan kamu tetap hidup." Paman bicara dengan memunggungi. 

Lagi, dia malah buat aku sedih. Kenapa tak marah-marah saja agar aku tak ingat bagaimana kedua orangtuaku dan adik-adikku mati. Sementara aku jadi pengecut di kejauhan yang hanya memandangi bagaimana kematian mereka mereka berlangsung. 

Aku menghela panjang. Dalam sekejap emosiku lebur berganti penyesalan telah membuat Paman bersedih.
Namun, rasanya juga memalukan minta maaf padanya seperti anak kecil. Akhirnya, aku hanya diam, hingga Paman terbawa emosinya sendiri dan pergi.

Sementara tatapanku lurus ke arah meja yang masih berantakan.

"Huft. Kenapa dia tak menyelesaikannya dulu baru bersedih!" dengkusku. Akhirnya aku juga yang menyelesaikan membereskannya. 

_____________

Keesokan harinya. Aku telah berjanji pada diri sendiri bertekad jadi anak yang baik buat Paman, terutama keluargaku yang meninggal. 
Pagi hari menghindari Salsa. Meski gadis itu mengetuk pintu, kubiarkan tanpa membukanya.

"Ayo, Jun!" serunya. "Kenapa tak ada jawaban? Apa dia sudah pergi?" tanyanya lirih. Namun, karena aku berada di depan pintu, bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Tak lama terdengar suara langkah Salsa yang menjauh. Setelah 15 menit dan berpikir dia sudah jauh, aku pun bergegas pergi, tak ingin terlambat masuk kelas.

Pagiku terasa hampa tanpa Salsa. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak boleh membuat Paman Hamzah bersedih. Biarlah kusimpan dulu cintaku dalam hati, biarlah cerita cintaku tak seindah kisah cinta di KBM App,
sembari mengawasinya dari kejauhan biar gak diembat si Hasan.

"Hai, Pink!" sapa Hasan yang tiba-tiba berjalan mensejajariku. Baru juga dibicarakan dalam hati, dia sudah nongol aja!

Pink? Apa maksudnya? Setelah memikirkan kata itu aku langsung ingat sesuatu. Bra! Jadi dia memang mengintip warnanya! Dasar mesum! Kenapa Salsa bisa jatuh cinta pada omes sepertinya? Aneh.

Tak ingin hariku semakin buruk, aku pun berlari meninggalkannya ke kelas.

"Hati-hati Pink!"

"Uhg, sial!" Dia membuatku malu karena jadi perhatian semua orang.

____________

Sampai di kelas. Aku terus mencuri pandang ke arah Bianca. Siapa sebenarnya gadis itu? Aku sangat penasaran.

Di tengah pelajaran, karena kebelet ingin buang air, aku pun izin pada dosen ke toilet.

"Wei!" seru para pria di toilet.

"Maaf, maaf!"

Karena saking kebelet, aku lupa memasuki toilet pria! Wah, ini kali pertama aku harus ke belakang. Harusnya aku tak terlalu banyak minum biar tidak pipis di kampus. Bisa bayangkan sendiri, masuk toilet wanita.

Sampai di sana aku langsung masuk bilik dan duduk. Ck. Aku benar-benar merasa kehilangan jati diriku saat nongkrong di toilet seperti ini.

Selesai dengan itu. Kurapikan kerudung di depan kaca. Namun, suara seseorang membuatku kaget.

"Kenapa aku merasa kamu bukan seorang perempuan," ucap gadis itu.

Saat menoleh, Bianca sudah menatap ke arahku hingga tatapan kami bertemu. Apa dia sudah tahu siapa aku? Apa dia sadar aku tengah menyelidikinya?


Next.