Gadis Ungu
'Ke mana gadis itu pergi? Siapa namanya?' 

Rasa penasaran tiba-tiba muncul merajai hati, sampai tak sadar aku masih celingukan. Memindai keberadaan gadis berkerudung ungu yang mencuri perhatian. 

"Jun!" Suara Paman terdengar dari dalam.

Terhenyak. "Ya, Paman!" jawabku, sebelum masuk mendekat. 

"Gimana? Kamu suka?"

"Ya aku suka, dia gadis yang cantik."

"Apa?"

"Hah?" Sial. Aku meracau. Ini pasti gara-gara terlalu memikirkan gadis ungu.
"Oh, maksudku ...."  

"Sudahlah. Aku hanya belum terbiasa dengan kelakuanmu." Paman mengucap dingin. Itu lebih baik daripada ketahuan memperhatikan seorang gadis. 

"Lihat! Ini lebih baik daripada rumah nenek di desa." Paman Hamzah mengingatkan bagaimana kami menghabiskan waktu kurang lebih sebulan di desa. 

Hari itu dia perlu menyembunyikanku di tempat teraman dan menghindar dari kejaran anak buah Om Rudi.

Memasuki ruangan berukuran tiga kali empat, dengan satu kamar tidur, kamar mandi dan toilet yang terpisah, satu dapur dan pembatas ruang.
Ya, ini cukup. Setidaknya WC terpisah dari tempat favoritku menghabiskan waktu di musim panas.

"Lumayan."

"Hemh. Paman tau kamu bakal senang di sini." Pria itu tersenyum puas.

"Tapi ... untuk apa dapur?"

"Hah? Kamu tak tau fungsinya?"

"Ya, aku ngerti Paman. Untuk masak. Tapi aku tak pernah masak. Jadi untuk apa?"

"Lalu bagaimana kamu akan makan?" Dua alis tebal lelaki itu terangkat. Dia seperti sangat kagum pada ponakannya yang bisa makan tanpa harus memasak lebih dulu.

"Ya, aku makan saja. Biasanya Ibu menaruh di meja makan, kadang aku beli di kantin sekolah dan kadang aku pesan online." Ah, perlukah menceritakan ini.

"Jadi kamu tak pernah masak?" Tangan Paman menyilang di dada.

Aku mengangguk. Lalu mataku melebar karena ingat sesuatu. "Apa ...? Aku harus masak sendiri?"

Paman sontak tersenyum sinis. "Yah, tak usah masak. Anggap saja Ibumu akan menyiapkan makan di meja. Belilah sesukamu di kantin. Tenang saja! Tapi ketika jatah mingguanmu habis, bawa tidur saja! Lupakan soal lapar. Karena uang untuk kuliahmu tak mungkin kuserahkan hanya untuk makan."

"Apa? Berapa jatahku seminggu?"

"200 ribu?"

"Apa? 200 ribu hanya cukup untuk pesan makanan 3 kali." Itu artinya hanya sehari aku makan tanpa memasak.  

"Terserah! Kamu harus berhemat kalau mau tetap hidup!" Paman berlalu pergi meninggalkanku.

"Paman! Tunggu!" Hais. Bagaimana bisa aku hidup dengan uang 200 ribu perminggu? Aku harus mendiskusikan ini dengan Paman.

Tapi ... dia malah menjauh dan tak peduli. 

Huft. Pelit sekali pria itu. Rasanya ingin mati saja kalau begini. Kenapa juga Tuhan menyisakanku untuk tetap hidup? Sebentar,  kalau aku mati, aku tidak akan bertemu dengan gadis ungu. Lagipula,  untuk apa aku bertahan sejauh ini jika bukan untuk hidup? 

Mengingat kerasnya kehidupan di asrama dan si ungu secara bersamaan, apa si gadis Ungu juga menjalani hidup sesulit ini di asrama?


______________


"Apa aku harus kuliah, Paman? Malas sekali rasanya," tanyaku yang duduk di teras pos satpam sambil menikmati es krim yang Paman belikan.

"Ya, itu harus. Setidaknya kamu punya masa depan yang harus kamu perjuangkan." Paman tengah duduk di belakang dalam pos. Mencacat sesuatu, entah apa?

"Aku malas bertemu banyak orang atau pun para pria."

"Kenapa? Kamu kan juga pria? Kamu terlalu banyak mengeluh, Jun. Kemarin bilang benci para gadis, sekarang benci bertemu pria! Plinplan dan suka mengeluh. Heuh." Paman memakiku. Ck. Laki-laki itu sifatnya sangat ceplas-ceplos. Aneh juga, kenapa orang sepertinya yang harus menjagaku?

"Harusnya aku jadi pria biar bisa bergabung dan berteman dengan mereka," protesku.

"Sudahlah, jangan terlalu banyak mengeluh. Serius belajar sekarang. Ingat nanti sore jadwal karate. Semua aturan paman harus kamu ikuti agar ...."

"Agar aku tetap bisa hidup!" serobotku yang sudah sangat hapal kata-kata Paman.

"Yaj, itu. Begitu kamu terlatih, dan tujuan kita sudah tercapai, tentunya kamu tak perlu lagi menyamar seperti ini. Ingat ini hanya sementara. Tapi kalau kamu terus mengeluh, ya ... bisa jadi kondisimu akan seperti ini untuk selamanya. Kamu mau jadi perempuan terus?"

Aku bangkit. Membuang stik es krim yang sudah bersih kulahap. Menatap Paman dalam-dalam. Pria itu sampai meletakkan bolpoin dan membalas tatapan ponakannya.

"Ya nggak, lah! Aku juga ingin sukses. Punya istri dan gak jomblo seperti Paman!" ucapku dengan nada naik satu oktaf. Sengaja mengejeknya.

"Hiss. Dasar!" Paman memanyunkan bibirnya.

"Oke, besok aku akan ke kampus sebagai Junia Andria yang cantik. Jago karate dan mengalahkan Om Rudi dan jadi pria sejati, Arjuna Bratawijaya!" ucapku mantap, sebelum pergi meninggalkan pos ronda.

"Okey, Junia jangan lupa masak!" seru Paman yang suaranya terdengar menjauh.

Baru menapaki separuh halaman asrama yang luas, aku melihat gadis berkerudung ungu berjalan di lorong. Kakiku sontak bergerak lebih cepat. Entah, dapat dorongan dari mana, rasanya seperti tak ingin kehilangan jejaknya lagi dan tahu segala hal tentangnya.

Gadis itu naik ke lantai dua menapaki anak-anak tangga. Kuikuti perlahan, dan dia berhenti persis di sebelah kamarku. Mengeluarkan anak kunci dan membuka pintu.

"Apa? Kami sebelahan?" 

Rasanya makin pede saja berjalan mendekat, karena menuju kamarku sendiri. Kupegangi jakun dan menyiapkan suara mirip perempuan.

"Mbak!" panggilku. Gadis itu menoleh menatapku. Gusti ... cantik sekali. Dari kejauhan dia tampak cantik, tapi dari dekat dia lebih cantik. Rasanya baru kali ini aku melihat perempuan cantik.

"Ya?"

"Mbak tinggal di kamar ini?" tanyaku.

"Hem? Ya. Kenapa?" Dua mata bulat itu melebar.

"Oh, berarti kita sebelahan. Kenalin namaku Junia." Aku menyodorkan tangan untuk menyalaminya.

"Wah, maaf. Aku belum cuci tangan Mbak. Lagian lagi musim Corona."

Duh, malu sendiri rasanya. Apa dia tahu aku seorang pria? "Oh, ya. Betul. Kita harus ikut protokol." Aku nyengir.

"Aku Salsa." Gadis itu tersenyum.

"Wah, Mbak Junia baru pindah?" 

"Ah ya, baru tadi pagi."

"Oh, pantes gak pernah lihat." Lagi Salsa tersenyum. Tapi kali ini senyumnya seperti terpaksa menahan sesuatu.

"Mbak sakit?"

"Oh, nggak-nggak!" Dia menggerakkan tangan. "Aku masuk dulu, Mbak. Mules. Hehe," jawabnya malu-malu. 

"Oya, silakan. Kalau boleh nanti kita ngobrol lagi soalnya aku belum ...."

BRAK!

Aku terkesiap. Pintu itu lebih dulu tertutup sebelum selesai bicara. Hah ... entah karena kebelet, atau dia menghindar karena bosan dengan basa-basiku.

Setidaknya sekarang, aku tahu bahwa si gadis Ungu ada di samping kamarku.

Bersambung.