Acara Pernikahan Suamiku
"Semua orang di sekitar sini sudah tau mereka mau ke mana. Cuma kamu doang yang nggak tau, Tin!"

Sarah sedikit berteriak, tetapi setetes air bening dari matanya keluar tanpa bisa ia cegah. Tini merasa bingung dengan sikap Sarah.

"Kamu juga tau? Emang mereka mau ke mana, Sar?"

"Mereka mau mengantar Johan menikah! Johan telah mengkhianati kamu, Tin!"

Tangan Sarah gemetar selesai berteriak. Ia tidak menyangka bisa mengucapkan hal yang paling menyakitkan bagi sahabatnya.

Tini menelan ludah kemudian mendongak, sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak jatuh.
Johan telah menikah lagi? Tini tertawa miris.

"Tin. Maafin aku. Aku sudah lancang ya? Ya Allah, Tin. Aku minta maaf, ya," ujar Sarah kemudian menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Tin .... " Sarah tak dapat lagi membendung air matanya. Ia merengkuh Tini ke dalam pelukan. Ia bisa merasakan sakit yang Tini rasakan.

Tini begitu lama menahan diri terhadap tingkah Johan, lalu kini? Apakah ia bisa menerima hal yang menyakitkan seperti ini?

Sarah terisak dalam pelukan Tini, sedangkan Tini? Ia hanya merasakan sebuah kekosongan dalam hati.

Apa karena ia telah lama menahan rasa sakit hati dari Johan, hingga saat ia mendengar kabar ini, emosinya tidak meluap.

"Tin ...."

Tini menatap sahabatnya yang masih terisak. Ia sangat mengenal Sarah, sahabatnya itu memang melow sekali.

"Aku nggak papa, Sar," ucap Tini sambil mengusap air mata Sarah.

"Jangan nangis gitu dong. Nggak enak tuh diliatin orang-orang."

"Maafin aku ya? Aku nggak tahan buat nggak ngomong sama kamu."

"Nggak usah minta maaf, Sar. Karena bukan kamu yang salah," ucap Tini sambil memegang bahu Sarah.

"Kamu ke rumahku aja yuk, Tin. Jangan di rumah aja. Ajak anak-anakmu biar main sama anakku," pinta Sarah. Ia khawatir kalau Tini akan berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan anak-anak.

Tini tersenyum mendengar permintaan Sarah.

"Kamu tau acaranya di mana, Sar?" tanya Tini.

"Hajatannya maksud kamu, Tin?"

Tini mengangguk.

"Aku nggak tau. Ibu yang tau," jawab Tini.

"Di kelurahan sebelah, Mbak. Gang Walet," ucap ibu-ibu bernama Wuri, tetangga Juju.
Tini dan Sarah menoleh ke arah Wuri.

"Sama janda. Anak satu. Yang buka warung kopi buat sopir-sopir kayak Johan," sambung Wuri lagi.
Sarah memandang ke arah Tini.

"Kamu mau ke sana, Tin?"

Tini tersenyum dan mengangguk kepada Sarah.

"Kamu yakin? Duh, mendingan jangan, Tin. Aku khawatir."

"Kamu tenang aja, Sar. Kamu tau kan aku setrong."
"Aku ikut ya. Takut kamu kenapa-napa nanti nggak ada yang nolongin. Kamu tunggu sini sebentar. Aku taro anakku dulu."

Sarah segera berbalik sambil mendorong kereta bayinya.

Tini menoleh kembali ke arah Wuri.

"Bu Wuri, tau alamat tepatnya?"

"Deket kompleks sekolahan kayaknya, Mbak."
Tini mengangguk. Ia tahu lokasi itu. Tini memeriksa saku bajunya. Tadi, ia sempat membawa uang sepuluh ribu rupiah. Cukup untuknya naik angkot.

"Makasih ya, Bu Wuri."

Tini segera berjalan menuju jalan raya yang dilewati jalur angkutan. Ia menyetop dan segera naik saat angkutan yang ia tunggu muncul. Daerah yang ia tuju hanya memakan waktu sepuluh menit dari tempatnya saat ini.

Janda penjual kopi untuk para sopir. Tini sepertinya tahu sosok perempuan yang menikah dengan Johan. Marni. Iya, benar. Itu pasti Marni.
Batin dan otak Tini terus sibuk memikirkan dengan wanita mana Johan menikah.

Tini turun dari angkutan dan berdiri di depan gang. Ia melihat gedung sekolah berderet tak jauh dari mulut gang. Tini berjalan dan mencoba menangkap suara musik orang hajatan. Walau ia tidak yakin kalau resepsi akan digelar secara ramai karena masih berada dalam masa pandemi. Pasti Johan tidak mau berurusan dengan pihak yang berwenang.

Namun, perkiraan Tini salah. Dari kejauhan ia mendengar lantunan musik dangdut bergema. Tini berjalan terus mencoba mendekati sumber suara. Ia juga mengikuti orang-orang berpenampilan rapi yang menuju ke sana. Setelah lima menit  berjalan, Tini pun melihat sebuah tenda hajatan.

Tini kemudian melanjutkan langkah, mendekati tenda. Tini berdiri mematung. Ia memandang satu persatu tamu yang berada di dalam tenda. Tak lama kemudian matanya menatap sosok Juju dan Nana lalu Johan yang sedang duduk di pelaminan.
Tangan Tini mengepal kuat bagian samping pakaian yang dipakai. Lagi-lagi, ia menyesal kenapa tidak berganti baju sebelum ke sini.

Tini dengan segala kekurangannya telah menerima Johan dengan penuh ketabahan. Namun, setelah sepuluh tahun pernikahan yang mereka lewati, haruskah ia diam menerima kenyataan pahit yang ada di depan mata?

Hatinya terasa perih. Ia berdiri dari kejauhan dan memandang sebuah gunting yang berada di meja penerima tamu yang tak jauh darinya. Tini pun melangkah, mengambil gunting itu, kemudian berjalan menuju tempat sound system.

Tanpa peduli apapun, Tini menggunting semua kabel-kabel yang menyambung di sana. Suasana mendadak ramai dengan percakapan para tamu karena tak ada lagi suara musik yang terdengar.

"Woy. Kurang ajar, kenapa digunting semua kabelnya? Itu mahal tau, nggak?" bentak lelaki dewasa penjaga sound system.

Kini semua mata menuju ke arahnya. Namun, ia tak peduli.

"Bu! Itu kan Mbak Tini," ucap Nana.

Johan dan Juju memelotot ke arah Tini. Mereka tidak menyangka Tini berada di sana.

Tini melangkah ke meja makan. Ia mengambil serbet yang tak jauh dari tangannya, melihat lalu mengaduk-aduk semua menu yang berada di sana. Ia berhenti di depan sayur sop, teringat sayur yang tadi pagi dibawa Johan ke rumah.

'Dagingnya banyak,' ucap Tini dalam hati.
Johan dengan emosi, berjalan menghampiri Tini.

"Tini! Kamu ngapain di sini? Cepat pulang!" bentak Johan sambil terus melangkah.

Tini tetap pada posisinya.

'Sayurnya masih panas,' batin Tini lagi.
"Kamu denger nggak aku ngomong?" lanjut Johan yang semakin mendekat ke arah Tini.

"Kamu! Pul ... aaakh...."

Ucapan Johan terputus. Karena saat Johan berjalan tadi, Tini sudah meletakkan centong dan bersiap memegang wadah sayur sop kemudian menyiramnya ke wajah Johan.

"Panas! Panas!" teriak Johan sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Suasana di sana langsung heboh.

Tini kemudian berjalan menuju bagian sound system.

"Minta ganti semuanya sama orang yang saya siram tadi."

Penjaga sound system hanya melihat ke arah Johan dan Tini secara bergantian dengan wajah bingung.

Tini pun melangkah pergi meninggalkan acara pernikahan suaminya.