Seorang Perempuan Yang Sakit Hati
Adakah yang bisa memahami perasaan seorang wanita yang terluka? Untuk apa selama ini bertahan, berharap semua akan berjalan menuju kebahagiaan?

Tini berjalan kaki dari acara Johan menuju rumah. Ia memang sudah terbiasa berjalan menempuh jarak yang jauh untuk mengumpulkan rongsokan. Namun, kali ini ia seperti kehilangan arah.
Ia tidak lagi sibuk menoleh ke kanan, kiri dan mengambil segala sesuatu yang masih memiliki nilai jual. Ia ingin sekali menangis, tetapi air matanya terasa sulit keluar. Tini pun berkali-kali tersenyum getir.

Iya. Tini mentertawakan dirinya sendiri. Baginya tak perlu menunggu orang lain mencela kebodohan yang ia miliki karena ia pun telah sadar diri. Tini paham, mereka yang tidak pernah berada di posisinya pasti akan menyalahkan dirinya yang seakan diam saja menerima semua perlakuan Johan.

Tini dengan segala pikiran kalutnya terus berjalan. Gang menuju rumahnya telah jauh dilewati. Namun ia enggan sekali untuk pulang.

Tini terus berjalan, hingga tiba pada perempatan lampu merah. Jakarta, kota yang keras. Penertiban lampu merah sering dilakukan, tetapi warga yang membutuhkan tetap bisa menemukan celah waktu itu mengais rezeki dari sana. Tini berdiri terpaku menatap suasana lampu merah yang ada di depannya. Bukan hanya orang-orang dewasa yang yang sibuk berebut rezeki, banyak juga anak-anak yang ia lihat.

Ada seorang ibu yang menggendong anak seusia Lina sambil membawa kericikan, berkeliling dari satu pintu mobil ke pintu mobil lainnya. Pikiran Tini buyar seketika, dua orang anak laki-laki berlarian dan menyenggol menyenggol dirinya. 

Tini memperhatikan mereka, tubuh mereka dilapisi cat berwarna silver dan mata mereka mulai memerah dan sesekali menggaruk bagian tubuh yang dilapisi cat itu. Tini paham, bahwa anak-anak itu pasti tidak merasa nyaman karena rasa perih dan gatal akibat cat yang mereka pakai. 

Air mata Tini kini mengalir. Sekali lagi, ia mengutuk kebodohan yang ada di dalam dirinya. Bisa-bisanya ia melupakan kedua anak yang pasti sedang menunggunya di rumah? Apa Johan akan peduli pada kedua anaknya jika Tini tiada.

"Astaghfirullahaladzim ...." ucap Tini berkali-kali. Ia pun segera berbalik, dan berjalan kembali menuju rumahnya.

Tini tiba di rumah. Ia menatap Ajmi yang sedang bermain bersama teman sebaya di teras rumahnya. Lina segera datang menyambut Tini dengan pelukan. Ia menyambut Tina dan segera menggendong ke dalam, tanpa henti ia menciumi putri bungsunya sambil sesekali menggelitik.

Lina tertawa sambil memberontak. Tini pun melepaskan dan membiarkan Lina bermain kembali. Sekarang Tini memandang ke arah Ajmi yang sedang bersama teman-temannya, anak itu bisa berbincang dan tertawa lepas. Tini akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat kedua anaknya. 

Teras rumah Tini memang selalu ramai dengan anak-anak, karena rumahnya berdekatan dengan akses titik JakWifi. Ada yang membawa ponsel, ada juga yang sekedar bermain. Setidaknya Tini senang karena kedua anaknya bisa memiliki banyak teman.

Tini kemudian masuk ke rumah. Anak-anak tidak perlu tahu apa yang sedang dilakukan ayah mereka. Tini mengambil segelas air minum, ia butuh melepaskan dahaganya. Sesaat kemudian, mata Tini tertuju pada ponsel milik Ajmi. Ia segera memgambilnya dan membuka aplikasi catatan seperti yang Sarah ucapkan. Tini mulai menulis, menceritakan semua yang ia alami hari ini, hingga segala beban yang ada dalam hatinya.

Tini menulis dan terus menulis, hingga akhirnya berhenti karena mendengar seseorang memanggilnya.

"Tinaaaa ... Ya Allah, Tina. Kamu ada di rumah kan?" Sarah berteriak-teriak sambil menangis.
Tini melongok dari jendela, tatapannya tepat bertemu dengan mata Sarah.

"Tini ...." teriak Sarah lagi sambil berlari ke dalam rumah Tini.

Sarah segera memeluk Tini.

"Kamu nggak papa kan, Tin? Kamu baik-baik aja? Kamu kenapa nggak nungguin aku sih tadi?" Sarah terus menangis sambil memeluk Tini.

Tini hanya terdiam kemudian tersenyum melihat wajah Sarah.

"Aku nggak papa, Sar."

"Kamu nekat banget sih? Itu hajatannya jadi berantakan. Pasti gara-gara kamu ya?"
"Bubar gimana?" tanya Tini sambil tersenyum menahan tawa.

"Johan katanya dibawa ke rumah sakit gara-gara disiram sayur panas mukanya. Pengantin perempuannya nggak mau nemuin tamu. Malu katanya. Pasti kamu kan?"

Tini semakin tertawa mendengar cerita Sarah.
"Kamu tadi ke sana, Sar?" tanya Tini.

"Iya. Tapi kamu udah nggak ada. Aku panik. Takut kamu lebih nekat lagi," ucap Sarah sambil menghapus air matanya.

"Udah. Cep ah. Kayak bayi aja, hari ini udah berapa kali kamu nangis? Malu sama umur."

"Kamu, Tin. Kok bisa-bisanya malah bercanda? Aku itu panik mikirin kamu!"

"Iya. Iya. Aku paham. Maaf ya, udah bikin kamu panik."

"Kok malah minta maaf?"

"Ya ampun, Sarah. Serba salah banget deh aku jadinya. Jadi aku harus gimana?"

"Nangis kek. Atau marah-marah."

"Udah, Sar. Udah. Itu semua udah aku lakuin. Nggak perlu kamu suruh, aku udah marah-marah tadi. Nangis juga udah."

Sarah kembali menatap Tini.

"Jadi aku rempong sendiri ya, Tin?"
"Nah itu!"

Suasana hening sejenak, kemudian tawa mereka pun pecah.

"Kok kamu bisa setrong banget sih, Tin?" tanya Sarah lagi.

"Nggak, Sar. Aku biasa aja. Udah ah, aku males galau-galau ria cuma gara-gara sampah yang nggak bisa didaur ulang. Nih, aku udah ngikuti perintah kamu. Aku udah nulis. Pakai hapenya Ajmi. Mudah-mudah nggak rusak tuh hape."

Sarah menerima ponsel dari tangan Tini, kemudian memeriksanya.
"Kamu nulis ini semua, Tin?"

Tini mengangguk 

"Dari kapan?"

"Ya dari sebelum kamu ke sini. Dua jam lebih lah."

"Udah dapet lima belas ribu kata? Cepet banget kamu nulisnya."

"Yah, namanya juga orang lagi sakit hati, Sar. Ngangkat kontener juga kuat kali!"

"Aku rapiin bentar ya."

Sarah sibuk memeriksa tulisan Tini. Ia hanya memisahkan berdasarkan jumlah kata dan memilih bagian yang pas dipotong untuk pemisah bab. Setelah itu, Sarah membuat cover sederhana dan memberi judul pada tulisan Tini.

"Kamu yakin itu judulnya, Sar?" tanya Tini bingung.

"Iya. Yakin. Kamu tadi dapet kiriman sayur dari mertua kan?"

Tini mengangguk.

Sarah melanjutkan pekerjaannya memposting tulisan milik Tini.

"Sayur Kiriman Mertua. Lima belas bab," ujar Sarah, semringah.

"Kamu punya fb?"

Tini menggeleng.

"Hidupku kan seperti ini, Sar. Malu aku."

"Justru fb bisa jadi tempat promosi tulisan kamu. Yaudah. Biar aku bantu share di fb ku dulu."
Tini hanya mengangguk.

"Nomer rekening. Ada?"

"Rekening KJP punya Ajmi, bisa?"

Sarah menggeleng.

"Pakai nomer rekening Ibu aja ya, yang deket. Biar gampang kalau feenya cair."

"Kamu serius bisa dapet duit, Sar?"

"Insya Allah. Ini salah satu bentuk ikhtiar, Tin. Pintu rezeki. Jika Allah berkehendak, rezeki kamu dan anak-anak bisa datang dari pintu ini."
Tini kembali mengangguk.

"Sekarang tanggal dua puluh lima. Kamu lanjutin nulisnya ya. Kalau sudah seribu kata, kamu postingnya di sini, begini."

Sarah kembali menjelaskan cara-cara menulis di aplikasi hijau kepada Tini. Hingga tanpa disangka, teriakan kembali terdengar dari teras rumah memanggil-manggil Tini.

"Siapa lagi sih yang teriak-teriak?"