Keributan di Depan Rumah
"Tini! Tini! Keluar kamu! Dasar istri nggak tau diuntung! Apa-apaan kamu tadi? Berani-beraninya menyiram wajah suami sendiri dengan sayur panas?! Keluar!!!"
Tini dan Sarah melongok dari jendela saat mendengar suara perempuan berteriak.
"Bu Juju, Tin."
Tini menatap nanar ke arah Juju yang berdiri di teras rumahnya. Perempuan berusia lima puluh tahunan itu, ibu mertua yang tidak pernah bersikap ramah sejak awal ia menikah dengan Johan.
Tini tidak mempunyai ibu sejak ia duduk di SMP. Saat ia menikah, ia mencoba sekuat tenaga untuk bisa dekat dengan Juju. Namun, usahanya sia-sia. Juju tidak pernah bisa menerima Tini bahkan cenderung tidak suka. Walau Tini tidak tahu apa yang membuat Juju bersikap seperti itu padanya.
"Cih, dia pikir aku masih akan memaklumi sikap dia sekarang ini?" ucap Tini. Pengkhianatan Johan menurutnya sebuah lampu merah baginya untuk berbakti dan menjaga tata krama pada keluarga Johan.
Tini menarik napas panjang, lalu ia segera bangkit dari duduknya.
"Kamu mau apa, Tin?" tanya Sarah khawatir.
"Aku mau hadapi, Sar. Nggak enak kan kalau mertuaku teriak-teriak sendirian? Jadi mending aku ikutan teriak biar tambah rame," jawab Tini sambil tersenyum kepada Sarah.
"Tin! Ya Allah. Sabar dulu, Tin," ucap Sarah mencoba mencegah sahabatnya keluar dari rumah.
Tini tidak peduli dengan tindakan Sarah. Ia segera melangkah ke teras rumah dan berhenti tepat di hadapan mertuanya.
"Kenapa?" tanya Tini sambil menaikan kedua alis mata dan bertolak pinggang. Ia telah membuang jauh-jauh rasa hormatnya kepada Juju.
"Hah?! Kurang ajar banget kamu ya? Udah jelek, miskin, belagu lagi. Berani-beraninya kamu tolak pinggang di depan mertua!" umpat Juju. Matanya memelotot dan menatap Tini dengan tatapan jijik.
Tini mencibir mendengar ocehan Juju.
"Terus saya harus ngapain? Gelar karpet merah? Sayang amat! Nggak pantes lah. Orang datengnya aja nggak sopan begini disambut sampai sebegitunya!"
Juju balas mencibir. Ia tidak menyangka Tini berani berkata tajam kepadanya.
"Karpet merah? Lagaknya, kayak punya aja," ejek Juju, sinis.
"Kalau punya juga mending dijual, daripada buat nyambut situ!" balas Tini.
"Situ? Heh! Makin kurang ajar ya mulut kamu. Dari dulu juga saya udah nggak setuju Johan nikah sama kamu! Kamu itu perempuan pembawa sial! Rejekinya Johan jadi seret gara-gara dia nikah sama kamu!" cerocos Juju sambil menunjuk-nunjuk ke arah Tini.
Tini memutar kedua bola matanya. Dengan sekilas ia bisa menangkap kedatangan tetangga satu per satu, menonton dirinya dan juga Juju.
"Udah deh, nggak usah berisik! Sekarang mau ngapain ke sini? Mau disiram sayur juga? Kebetulan sayur tadi pagi masih ada tuh!" ujar Tini, kedatangan tetangg tidak membuat dirinya luluh meredakan keributan di antara mereka.
Juju menarik napas dan memberikan tatapan semakin sinis kepada menantunya itu, sikap Tini benar-benar menyebalkan.
"Johan masuk rumah sakit. Dokter bilang, dia mengalami luka bakar gara-gara kamu siram pakai sayur panas!" teriak Juju. Sesekali ia melirik ke arah tetangga yang memandangi mereka. Menurutnya, para tetangga harus tahu apa yang sudah dilakukan Tini.
"Sukurin!" jawab Tini sambil tersenyum lebar kemudian tertawa. Tetangga pun melakukan hal yang sama, kaum ibu yang ada di sana tertawa tertahan sambil menutup mulut mereka dengan tangan.
"Heh! Sembarangan ya kamu! Malah nyukurin lagi! Saya ke sini mau minta pertanggungjawaban kamu! Kamu harus bayar biaya rumah sakitnya Johan!" omel Juju lagi. Ia tidak terima melihat ibu-ibu memberi dukungan kepada Tini.
"Idiiiih ... Ogah banget! Saya nggak punya duit! Biar dia mati sekali pun, saya nggak bakal mau ngeluarin biaya buat dia," ucap Tini sinis.
"Kalau begitu, mending kamu pergi saja dari rumah ini! Bawa anak-anak kamu! Rumah ini mau saya jual buat biaya rumah sakit Johan," balas Juju tak mau kalah.
"Hah? Apa? Nggak salah denger saya?"
"Kenapa? Sekarang kamu budeg?"
"Oke. Oke. Tunggu sebentar kalau begitu yah."
Tini melangkah ke dalam kemudian menuju lemari pakaian. Ia segera mengambil tumpukan pakaian milik Johan dan kembali ke hadapan Juju.
"Nih! Anak kamu yang saya usir! Bawa tuh baju-bajunya," ucap Tini sambil melempar pakaian-pakaian milik Johan tadi.
Juju menghindar agar lemparan Tini tidak mengenai dirinya.
"Laki nggak modal! Nggak becus cari uang. Nggak punya tanggung jawab ke anak istri. Sekarang emaknya dateng mau ngusir-ngusir? Whoooy ... Emak sama anak sama sintingnya. Nggak inget ya? Biar ini rumah rombeng, tanah cuma sepetak, ini warisan dari bapak saya. Bukan dari hasil keringet anak situ! Dasar nggak tau diri! Bisa-bisanya sekeluarga nggak punya urat malu? Heran!"
Tini segera merangkul Ajmi dan Lina, mengajak keduanya masuk ke dalam kemudian membanting pintu. Sarah menyambut kedua anak Tini, memeluk kemudian memberi mereka segelaa air putih. Berharap mereka tenang setelah melihat pertengkaran ibu dan neneknya.
"Pulang yuk. Udah kelar tuh berantemnya," celetuk salah satu ibu tetangga.
"Orang susah, ngatain susah. Dirinya aja yang nggak bisa ngedidik anak, malah nyalahin mantunya," sambung ibu lainnya.
"Bagus deh, Si Tini bisa ngelawan. Emak sama anak emang kelakuannya nggak pada beres," cibir ibu sebelahnya tak mau kalah.
Juju mendengus kesal, ia tidak menyangka Tini malah mempermalukannya di depan tetangga. Mau tidak mau, akhirnya ia pun memilih pulang.
"Tunggu saja pembalasan kami, Tini!"