Rezeki di Pagi Hari
#sayur_kiriman_mertua

Tini menatap sedih ke arah tempayan kecil tempat ia biasa menyimpan beras. Tak ada sebutir beras pun tersisa di sana. Ia kemudian mengambil dompet yang ada di atas lemari plastik dalam kamar. Lima ribu rupiah. Hanya itu yang menjadi penghuni dompetnya hari ini.

Tini menatap kedua anaknya yang masih terlelap. Apa yang harus ia sediakan untuk mereka saat bangun nanti? Johan, suaminya belum juga pulang.

Johan memang sering tidak pulang ke rumah. Alasannya adalah menjenguk ibu dan adiknya. Kadang dengan jujur, Johan bilang bahwa ia tidak betah di rumah. Di rumah tidak pernah ada makanan sesuai dengan keinginannya. Padahal Johan juga sadar, bahwa uang yang ia kasih hanyalah lima belas ribu. Itu pun ia berikan untuk tiga atau empat hari ke depan.

Tini merasa percuma menangisi keadaan. Ia segera mengambil uang itu dan pergi ke warung. Ia harus bergegas sebelum anak-anaknya bangun.

"Beliiii ...." ucap Tini di depan warung.

"Beliiii ...." ulang Tini karena tidak ada jawaban.

"Apa sih? Teriak-teriak begitu? Nggak sabar amat?!" keluh Bu Tuti pemilik warung yang terkenal judes.

"Mau beli apa?" lanjut Bu Tuti.
"Beli beras setengah liter dan satu bungkus bumbu masak, Bu," ucap Tini.

"Nih. Belanja goceng saja lagaknya kayak belanja jutaan," keluh Bu Tuti lagi.

"Yang penting kan saya nggak ngutang, Bu," balas Tini, tak kalah ketus.

"Miskin aja, belagu!" tambah Bu Tuti sambil mencibir Tini.

Tini tak mau meladeni Bu Tuti. Andai saja tidak terburu-buru, ia akan memilih warung Bu Lisa. Memang lebih jauh, tetapi mulut Bu Lisa tidak sepedas mulut Bu Tuti.

Tini segera menanak nasi, menggunakan kompor gas. Ia enggan mendengar omelan Johan tentang mahalnya bayar listrik setiap bulan. Dengan cekatan ia melakukan semua rutinitasnya di pagi hari ini.

Anak-anaknya Tini mulai terbangun karena suasana rumah sempit mereka yang terasa panas saat Tini memasak. Sebisa mungkin, Tini memberi senyuman pada mereka.

"Minum dulu, Nak," ucap Tini sambil menyodorkan air putih pada Ajmi, anak sulungnya.

Nasi pun telah matang. Tini segera membuka tutup dandang dan mengaduknya. Setelah itu, ia menaruhnya di dalam sebuah mangkuk dan menaburkan sedikit bumbu masak.

"Ajmi mau makan?"

Bocah berusia sembilan tahun itu mengangguk kemudian mengambil mangkuk dari tangan Tini.
Tini tersenyum miris. Setidaknya, ia masih bersyukur memiliki anak yang tidak pernah mengeluh.

"Ajmi, Ibu keluar sebentar. Jagain ade ya."

Ajmi mengangguk. Tini berjalan menyusuri gang, ia mengambil barang-barang rongsokan seperti botol-botol plastik atau lainnya yang bisa ia jual.

"Mbak Tini," panggil Dewi saat Tini berada di depan rumahnya.

Tini tersenyum saat melihat Dewi memamerkan beberapa kardus berisi gelas-gelas platik bekas air minum.

"Nih, udah dirapiin sama anak-anak," ucap Dewi.

"Ini juga buat anak-anaknya, Mbak Tini."

Tini semakin ceria melihat beberapa bungkus lauk yang ada di dalam plastik yang diberikan Dewi.

"Alhamdulillah. Makasih banyak, Bu Dewi."

"Nah, yang ini buat Mbak Tini. Kita makan di sini yuk," ajak Dewi.

"Makasih banyak, Bu Dewi," ucap Tini dengan mata hampir berkaca-kaca. Ia memang pantang menangisi keadaan rumah tangganya dengan Johan, tetapi melihat Dewi yang selalu baik kepadanya, kerap membuatnya terbawa perasaan.

"Sudah-sudah, jangan menangis begitu. Yuk masuk dulu."

Tini mengikuti langkah Dewi masuk ke rumah. Mereka memang sudah lama saling mengenal karena Tini adalah teman Sarah, anaknya Dewi.

"Tiniii ... Apa kabar?" sapa Sarah yang ternyata sedang berada di rumah ibunya.

"Sarah. Makin cantik saja kamu," jawab Tini, malu-malu.

"Ayo makan bareng Sarah. Biar Ibu jaga anak-anaknya Sarah."

"Udah, jangan sedih gitu. Kayak kita nggak pernah makan bareng aja," ucap Sarah sambil mengambilkan nasi di piring sahabat kecilnya sampai tamat SMA.

"Aku malu, Sar," ucap Tini, tangisnya pun pecah.
Sarah terdiam. Membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan semua beban yang ada di hati. Tini terus terisak. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun di depan Sarah.
Setelah beberapa menit, Tini pun dapat mengendalikan diri. Ia kemudian menatap Sarah.

"Aku tau kamu perempuan setrong, Tin. Sabar. Pasti ada jalan keluar untuk masalah kamu. Sekarang kita makan dulu ya. Biar kamu ada tenaga lagi buat nangis."

Mereka berduapun tertawa.

Setelah makan mereka pun memilih berbincang melepas kangen. Tini melihat ke ponsel Sarah yang diletakkan di atas meja. Ia tertarik pada sebuah notifikasi yang terbaca olehnya.

"Apa itu, Sar?"

"Aplikasi novel online, Tin. Aku suka baca saat senggang."

Tini mengangguk paham.

"Eh, iya. Kamu kan suka baca novel juga di perpus. Jaman kita masih sekolah dulu."

Tini memajukan bibir sambil mengangguk-angguk.
"Kamu juga pernah menang ikut lomba karya tulis kan dulu."

Tini memandang Sarah dengan tatapan bingung.

"Itu artinya kamu bisa nulis juga di sini, Tin."
Tini semakin tidak mengerti.

Sarah kemudian berbicara panjang kali lebar menjelaskan tentang aplikasi dan langkah-langkah yang harus dilakukan. Tini hanya memperhatikan dan mengangguk-angguk.

Ia memang bisa menulis, tapi apa iya ada gunanya? Bukankah jika lebih baik ia keluar rumah mencari rongsok?

"Pokoknya, kamu harus nulis. Kamu pasti mengerti apa yang aku jelaskan tadi."

"Aku nggak janji, Sar," ucap Tini sambil menunduk.
"Kamu coba dulu. Kapan pun kalau kamu mau. Kalau sudah, kamu kasih tau aku ya."

Dewi dan Sarah menolak saat Tini ingin mencuci piring bekas makannya. Karena hari semakin siang, Tini pun segera pamit. Ia pulang sambil membawa dua karung gelas bekas minuman dan perut kenyang. Ia sangat bersyukur atas nikmat hari ini.

Dewi menatap Sarah dengan wajah cemas saat Tini sudah melangkah dari teras rumah mereka. 

"Jadi kamu kasih tau berita yang kita dengar itu ke Tini, Sar?"

"Nggak jadi, Bu. Aku nggak tega."
Dewi dan Sarah memandangi punggung Tini hingga wanita itu pergi menjauh.

Tini mengucap salam kemudian masuk ke rumah. Ia melihat Johan sudah berada di ruang tamu. Di atas meja, Tini melihat sebaskom nasi dan dua plastik sayur sop. Mata Tini berbinar seketika dan ia pun semakin bersyukur.

"Itu nasi dan sayur titipan dari Ibu. Ini ada uang juga. Seminggu ke depan aku diminta menginap di sana, ada urusan penting."

Tini mengangguk penuh rasa bahagia, kemudian menawarkan makan pada Johan. Namun, Johan menolak dan langsung keluar lagi dari rumah dengan alasan harus segera kembali ke rumah ibunya.

Tini mengantar Johan hingga ke pintu, lalu menemani hingga suaminya pergi dengan motor metik butut satu-satunya.
Tini segera kembali ke meja dan merapikan nasi serta sayur ke dapur.

"Wah, Ibu bikin acara apa ya sampai masak besar seperti ini?"

*****