Part 1
Ketemu lagi di cerbung terbaru saya, mohon dukungannya, subscribe dan rate lima bintang, ikuti terus ya kisahnya. Makasih.

Istri Akhir Zaman

"Mas! seragamku untuk hari ini mana?" teriak Sri dari dalam kamar kami.

Aku yang sedang menumis kangkung sambil menggendong Alya hampir saja menyenggol wajan saking terkejutnya mendengar suara istriku yang memecah sunyinya pagi.

"Mas! Cepetan ih, ditanya kok diam. Cepat bawa ke sini!" teriakan Sri kembali tertuju padaku.

Sayur kangkung yang sedang kutumis sudah hampir matang, tak mungkin kumatikan kompor untuk mendatangi istriku.

"Di lemari situ, cari saja!" jawabku keras.

Kuaduk-aduk kangkung agar cepat tercampur dengan bumbu setelah layu, tiba-tiba Sri datang, istriku itu memukul kakiku dengan gagang sapu yang diambilnya dari sudut dapur.

"Kalau ada di lemari, gak akan aku tanyain, Mas! Aku sudah telat ini, belum pakai bedak segala lagi. Cepat cariin sana!" Wanita bertubuh tinggi dengan badan padat berisi itu memukulkan lagi gagang sapu itu, kali ini ke lantai bukan ke arahku.

"Nanggung ini hampir matang, bentar dulu. Cari lagi sana!" titahku, seraya menyelesaikan masakan.

Aku berusaha tetap sabar, meski rasa kesal sudah terasa sampai ke ubun-ubun. Bagaimana tidak, tak hanya mengasuh putriku, aku juga harus menyiapkan masakan dan beres-beres rumah. Belum lagi keperluan istriku pun harus aku pula yang menyiapkan.

Sri membelalakkan mata, memberi isyarat untuk menuruti keinginannya. Ya sudahlah, kumatikan kompor tanpa sempat mencicipi rasa masakanku lagi.

"Tuh, gak ada kan seragamnya?" tunjuk Sri sembari membuka semua pintu lemari bajunya. 

Kupandangi dua buah lemari pakaian berjejer yang semua raknya hanya berisi baju Sri. Beragam jenis model baju itu mengisi lemari hingga berjejal, semua dibeli istriku setiap ada model terbaru.

Sebetulnya mudah mencarinya karena baju seragam Sri sudah kupisah di bagian rak khusus tersendiri, tapi kenapa bisa gak ketemu, ya? Aku membatin dengan gemas.

"Tuh, gak ada kan?" Sri berujar lagi dengan sewot, berdiri di sampingku menatap isi lemari.

Aku beralih ke tumpukan baju dalam keranjang di pojokan kamar. Ada tiga keranjang berjejer di sana, isinya ada sedikit bajuku dan punya Alya. Iya, lemariku dan Alya telah berganti menjadi wadah pakaian Sri, hingga pakaian kami berpindah ke keranjang.

"Alya itu masih pertumbuhan, gak perlu sering beli baju. Secukupnya saja, nanti gak muat kalau badannya tambah besar." Begitu Sri memberi alasan setiap kusarankan mengutamakan pakaian anaknya daripada membeli bajunya.

"Kamu kan perginya hanya bolak-balik ke pasar, gak perlu lah punya baju yang bagus segala," ujaran Sri ini terlontar padaku setiap kutegur kebiasaannya membeli baju keseringan. Tak sepertiku yang punya baju hanya hitungan jari saja, bahkan kaos-kaosku sebagian didapat dari hadiah partai politik ataupun kaos promosi rokok.

Bagi Sri, penampilannya harus mengesankan setiap mata yang memandangnya. Pantang baginya mengenakan pakaian yang itu-itu saja, ia selalu mengikuti model pakaian yang terbaru.

Bukan hanya pakaian, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu juga suka membeli barang-barang pelengkap penampilannya. Tas, sepatu, sandal, perhiasan, jam tangan dan juga pernak-pernik pakaian lainnya.

Memang semua barang milik Sri dibeli dengan uangnya sendiri, namun sudah berlebihan menurutku, ia tak lagi bisa mengendalikan mata setiap ingin memiliki sesuatu.

"Mas Joko lupa belum nyetrika seragamku?" tanya Sri gusar, membuyarkan batinku yang tengah menggerutu.

Aku baru teringat, kemarin repot mengurus ayam-ayam bapak mertua yang harus kujual ke pasar, artinya aku terlupa menyiapkan seragam Sri untuk pagi ini.

Bapak dan ibu mertua tinggal berdempetan dengan kami. Rumah yang kutempati ini adalah rumah mertua yang disekat sebagian untuk kami. Aku sering diminta membantu mengurus ayam peliharaan bapak mertuaku, hingga membawanya ke pasar untuk dijual.

"Mmm, iya. Kayaknya masih di tumpukan keranjang dekat warung," jawabku akhirnya setelah ingat.

Sri langsung mendengkus kesal. Ia mengomel, menyebutku tak becus mengurus pekerjaan rumah, sedangkan aku hanya menjaga warung kecil milik kami saja selama di rumah. Wanita berparas ayu itu menganggap aku tak bersyukur bisa di rumah saja sementara ia capek bekerja hingga ke kota Kabupaten sana.

Aku ingin menjelaskan padanya, seabrek pekerjaan yang tak henti kukerjakan setiap harinya, namun Sri sudah menyeret tanganku hingga Alya hampir terjatuh dari gendongan.

"Ayo, setrika bajuku secepatnya sekarang. Nanti biar kupangku Alya sambil sarapan." Sri memberi perintah, tangannya terus menarikku seraya berjalan cepat.

"Laki-laki gak berguna! Sudah untung aku mau terima kamu apa adanya, Mas. Jangan diulangi lagi besok, aku bisa terlambat ke kantor gara-gara kamu malas."

Telingaku seketika memanas mendengar celaan dari lisan istriku sendiri, wanita itu selama ini kudampingi dengan kesabaran. Kusentak tangan Sri. Aku tak bisa lagi hanya diam diperlakukan seperti tadi.

"Cukup bicaramu! Kamu boleh merasa lebih pintar cari uang, tapi ucapanmu pada suami sudah keterlaluan."

"Keterlaluan? Apa yang salah dari kata-kataku? Nyatanya memang begitu," seru Sri tetap menganggap dirinya paling benar.

"Kamu itu seorang istri, aku mengalah tinggal di rumah hanya demi Alya. Putri kita itu butuh kasih sayang, kamu telantarkan anak ini hanya demi ambisimu." Kutajamkan tatapan, ingin Sri bisa menghargaiku.

"Halah alasan. Aku bisa bayar pengasuh, kamu yang manfaatin Alya biar bisa santai di rumah!"

"Pengasuh katamu? Sekarang gajimu sudah besar bisa bicara begitu! Gak ingat waktu masih honorer dulu, hah?" kataku sambil menahan geram, menyadari ada Alya diantara kami.

"Banyak bicara kamu, Mas! Setrika bajuku sekarang! Aku bisa telat." Sri mengambil Alya dari gendonganku, berlalu begitu saja bersiap hendak sarapan, mengabaikan ucapanku.

Rasanya ingin kulontarkan banyak kemarahan padanya, namun tertahan di tenggorokan. Aku masih ingin mempertahankan pernikahanku meski kurasa sudah ada ketimpangan yang lebar dalam hubunganku dengan Sri.

Aku yakin Sri akan menolak mentah-mentah andai aku menantangnya untuk berhenti bekerja dan membiarkan aku yang mencari nafkah. Istriku itu sudah dibutakan pada keinginan menjadi wanita modern. Untuk apa juga ia bekerja, toh sebagian besar gajinya habis untuk keperluan dirinya sendiri mempercantik penampilan.

Iya, kebutuhan dapur kucukupi dari hasil penjualan di warung. Tak sadarkah Sri, tak ada bedanya jika ia di rumah saja dengan ia bekerja? Uangnya tak sepeserpun kuminta.

Aku melangkah menuju warung yang menyatu dengan rumah di bagian samping, kusiapkan meja setrika yang terletak di dekat sekat ruang warung dengan rumah. Pintu warung kudorong hingga terbuka setengahnya, agar udara pagi sedikit menyegarkan rasa sesak di dada.

Dari jauh kulihat Mbak Ningsih tergopoh menenteng tabung gas menuju warungku. Janda beranak satu yang tinggal tiga rumah di samping kami itu tersenyum lebar seraya mempercepat langkah.

"Alhamdulillah Mas Joko buka warung lebih pagi. Gas pas habis, aku bingung tadi gak enak mau ketuk pintu." Mbak Ningsih berujar dengan wajah lega.

Melihat senyuman menyejukkan dan cara bicara lemah lembut wanita yang berjuang sendirian menafkahi anaknya itu seketika aku membayangkan andai Mbak Ningsih yang menjadi istriku.