Bab 7

Alasan Lembur Suamiku Setiap Malam

 Hari ini aku akan menemui Mbak Mira untuk mencari tahu siapa nama kontak Ranto di ponselnya Mas Bagas. Entah kenapa aku sangat yakin kalau itu adalah Ranti.

 "Ayo kita sarapan dulu, Mas, Dek!" seruku kepada anak-anak yang sudah selesai bersiap di kamarnya.

 Mereka pun langsung keluar, tapi langkah mereka terhenti sambil menatap heran ke arahku.

 "Kenapa, kok, berhenti? Ayo, dong, Mama langsung antar ke sekolah setelah sarapan," ajakku lagi tapi mereka masih diam.

 Beberapa detik kemudian aku baru tersadar kalau mereka menatap bukan ke arahku, jadi aku ikut melihat apa yang sedang mereka tatap.

 "Mas Fahri, ngapain?" tanyaku aneh ketika melihat suami yang tidak pernah sarapan bersama tiba-tiba ada di belakangku.

 "Mas mau makan bersama dengan kalian," jawabnya lirih.

 "Enggak usah, gak perlu. Sana lanjutkan tidurnya, anak-anak gak bakalan nangis meskipun kamu tinggal sekali pun," ucapku sinis sambil membawa anak-anak keluar dari kamarnya. 

 "Kamu jangan egois, Nia. Anak-anak pasti membutuhkan bapaknya, terutama Kania," ucapnya bangga dan penuh percaya diri.

 "Tanya saja sama mereka." Aku malas untuk berdebat. Biarkan saja anak-anak yang memilih.

 Mata Mas Fahri melongo ke dalam kamar yang ternyata sudah kosong. Aku menatap senang ke arah anak-anak yang sedang makan bertiga sama Mbak.

 "Wah, anak-anak Mama memang pintar." Aku mengecup mereka bergantian.

 "Kamu jangan ngajarin anak-anak untuk benci sama aku, dong, Nia. Bagaimanapun aku ini Papa mereka." Mas Fahri menatapku kesal dan aku mengembalikan tatapannya yang suka merendahkan lawan.

 "Bukan aku yang ngajarin, tapi kamu sendiri. Sibuk buat anak sendiri, tapi ada waktu buat anak selingkuhan. Ups." Aku langsung menutup mulut seolah sudah bicara keceplosan.

 "Kau!" Mas Fahri menghentakkan kakinya kasar menuju kamar, mungkin dia sudah merasa kalah. Salah sendiri, sih.

 Beberapa menit kemudian, Fahri kembali keluar dari kamar dengan seragam kerja yang lengkap. "Kamu gak usah bawain bekal untuk hari ini," ucapnya tiba-tiba.

 "Siapa juga yang mau buatin, sana minta Ranti. Aku sibuk." 

 "Mau berangkat, kan? Ayo, Papa anterin kalian," ucapnya pada anak-anak dan Mas Fahri berniat untuk mengendong Kania, tapi anak itu malah berlari ke luar gerbang, dan masuk ke sebuah mobil.

 Tunggu, itu mobil Dino, siapa yang telpon?

 Setelah Kania, Haikal, dan Mbak menyusul masuk ke mobil Dino.

 "Kamu lagi-lagi telpon laki-laki itu? Mas Fahri menatap tajam ke arahku.

 "Aku aja gak tahu dia akan datang," jawabku jujur, lalu masuk ke dalam mobil tanpa memedulikan tatapannya lagi.

 "Kamu katanya wanita baik dan shalihah. Apa seperti ini sikap dari seorang istri yang katanya shalihah?" teriak Mas Fahri membuatku membanting setir dan turun dari mobil.

 "Kamu mau aku jadi istri yang shalihah setelah kamu sakiti, Mas? Kamu sudah menjadi suami yang sholeh belum?" tanyaku tajam.

 "Apapun yang dilakukan seorang suami, harusnya kamu pasrah, dan menerima semuanya. Itu pun kalau kamu memang wanita shalihah," ucapnya lagi.

 "Sungguh laki-laki tidak tahu malu." Aku langsung berjalan cepat ke arah mobil meninggalkannya yang masih berbicara.


 ****

 Setelah bertemu Mbak Mira, entah kenapa aku malah merasa seperti enggan untuk membicarakan tentang hubungan Mas Fahri dengan wanita yang bernama Ranti itu.

 "Kata Mas Bagas, wanita yang bersama Fahri waktu itu sangat cantik," ucap Mas Mira tiba-tiba.

 "Kalau sama aku?" tanyaku sambil menatapnya kesal. Jika orang yang melihat aku dan Ranti punya mata yang normal, sudah pasti tahu kalau aku jauh lebih cantik darinya.

 Bukannya terlalu percaya diri, tapi dari bentuk wajah saja sudah ketahuan. Kecuali bagi laki-laki yang mungkin sudah tidak punya hati.

 "Cantikan dialah, pasti. Biasanya kan pelakor lebih cantik," jawabnya yang membuatku spontan tertawa kecil.

 Aku jadi makin curiga dengan Mbak Mira. 

 "Mbak kan kakaknya Mas Fahri, Mbak pasti tahu dong bagaimana sikap Mas Fahri kalau sama perempuan lain?" tanyaku menguji.

 "Maksudnya?" Ia menatapku dengan sedikit amarah.

 Aku benar, sepertinya dia memang sedang menyembunyikan sesuatu.

 "Assalamu'alaikum." Suara mama mertua terdengar.

 "Wa'alaikumussalam, Ma." Kami menjawabnya hampir bersamaan. Namun, tiba-tiba saja Mama menarikku ke dalam kamarnya.

 "Ada sesuatu yang mau Mama katakan," bisiknya terlihat serius. Apalagi sampai mengunci pintu kamar.

 "Kenapa, Ma?" Aku menatapnya heran. Tidak biasanya Mama bersikap seperti ini.

 "Kamu harus hati-hati dengan Mira," ucapnya membuatku semakin penasaran.

 "Memangnya ada apa, Ma?"

 "Sebenarnya Mira bukan kakak kandung Fahri," ungkap Mama membuatku sangat terkejut. "Dia adalah anak yang Mama besarkan.

 Aku yang terkejut mencoba menangkap semuanya. "Jadi Mbak Mira hanya anak angkat?" tanyaku mengambil kesimpulan.

 Mama mengangguk cepat. "Dia juga sangat mencintai Fahri, dia selalu mengikuti ke mana pun Fahri pergi sejak kecil. Padahal umur mereka beda lima tahun." Napas Mama tersengal, ia terlihat ketakutan.

 Sementara aku terdiam kaget. Apa ini keanehan yang tadi aku rasakan pada Mbak Mira?

 "Kamu jangan sampai percaya apa yang dia katakan, Dania. Mama mendengar percakapannya dengan seorang lelaki, katanya dia ingin ingin mendapatkan Fahri," tukasnya lagi.

 Mataku terbelalak ketika mendengarnya. Apa-apaan ini ... Mbak Mira punya suami dan anak, kenapa dia malah ingin mendapatkan suami orang.

 Di perjalanan, aku terus kepikiran dengan apa yang ibu katakan tadi. Lamunanku seketika buyar ketika mendengar ponselku berdering. Ranti mengirimkan pesan.

 [Ayo kita bertemu, Mbak. Aku mau curhat tentang suamiku. Itu pun kalau Mbak bisa.] 

 Aku tersenyum menyeringai ketiak membaca pesannya dan langsung mengetik untuk menyetujuinya. Namun, tiba-tiba saja aku melihat seorang laki-laki dan perempuan sedang ribut di gang dekat jalan ke arah restoranku.

 Aku langsung menepikan mobil ketika tahu siapa yang sedang bertengkar itu.

 "Kalian kenapa?" tanyaku heran.

 "Ini Mbak, suami saya ini dari kemarin tidak pulang ke rumah, anak-anak juga selalu bertanya tentangnya. Ketika aku telpon, dia tidak pernah angkat," jelas sang wanita. Sementara yang laki-lakinya hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

 Bukankah dia mengatakan tidak ada hubungan apapun dengan Ranti? Kena kamu, Mas.

 "Mbak sendiri kenapa ada di sini?" tanyanya padaku.

 "Oh, enggak. Saya hanya lewat mau ke restoran. Tadi gak sengaja lihat kalian. Kalau begitu, saya pergi dulu, ya," pamitku dengan mata yang menatap tajam ke arah Mas Fahri.


  Bersambung ....

 Duh, Fahri, langsung kepergok. Kalau mau bohong, yang elegan, dong.

 Next?

 Yuk subscribe

 Tap love

 Dan komen, ya.

 Mampir juga di Menyesal Usai Talak, KARMA, Hadiah Pernikahan Pembawa Petaka, Sesalku, Ketika Istriku Tak Lagi Kerja, Suami Sahabat, Suamiku Tidak Tahu Kalau Aku Adalah BOS Di Tempat Kerjanya. Tamat semuanya, ya.